Ibrah Kehidupan : Muadz bin Jabal, Intelektual Muda, Begini Komentar Nabi (-3).

0
316
Foto ilustrasi diambil dari radio rodja

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Diutus Ke Yaman.
Dari Ashim bin Humaid bahwa Muadz bin Jabal mengisahkan, “Tatkala Rasulullah saw mengutusku ke Yaman, Rasulullah keluar mengantar dan memberi wasiat. Muadz berada di atas kuda tunggangannya. Sementara Rasulullah berjalan mengiringinya. Saat hendak berpisah, beliau bersabda,
يا معاذ، إنك عسى ألا تلقاني بعد عامي هذا، ولعلك تمر بمسجدي هذا وقبري
‘Hai Muadz, bisa jadi kau tak akan berjumpa lagi denganku selepas tahun ini. Engkau lewat di masjidku dan di sini kuburku.’
Muadz pun menangis. Ia takut berpisah dengan Nabi. Kemudian Nabi berbalik ke arah Madinah. Kemudian Beliau bersabda,
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي الْمُتَّقُوْنَ ، مَنْ كَانُوْا وَحَيْثُ كَانُوْا
“Sesungguhnya orang-orang yang paling utama disisiku adalah orang yang bertakwa, siapapun dan di manapun mereka.” (HR. Ahmad).

Asy-Sya’bi (tabi’in) berkata, “Faurah bin Naufal al-Asyja’i menyampaikan kepadaku bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Muadz bin Jabal adalah seorang yang patuh kepada Allah. Dia adalah seorang hamba yang “qanit” dan “hanif”.
Qanit, artinya tunduk dan patuh kepada Allah swt dan Rasulnya saw, bahwa seluruh ajaran agama Islam adalah sebuah kebenaran yang wajib ditaati dan dilaksanakan. Sedangkan kata Hanif maksudnya lurus. Bahwa perilakunya mencerminkan agama yang dipeluknya yakni Islam. Islam adalah agama yang lurus, sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah swt. Dalam kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat, Muadz bin Jabal hampir sama dengan Umar bin Khathab.

Ketika Rasulullah SAW hendak mengirimnya ke Yaman, lebih dulu ditanyainya, “Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu’adz?”
“Kitabullah,” jawab Mu’adz.
“Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?”, tanya Rasulullah pula.
“Saya putuskan dengan Sunnah Rasul.” Jawab Muadz bin Jabal, mantap.
“Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?” tanya Rasulullah saw penasaran.
“Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia,” jawab Muadz.
Mendengar jawaban Muadz bin Jabal yang singkat padat dan tegas itu, maka berseri-serilah wajah Rasulullah saw. “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah saw (yakni Muadz bin Jabal) semoga Allah meridhoimu dan akupun ridho kepadamu” sabda beliau.

Dan mungkin kemampuan untuk berijtihad dan keberanian menggunakan otak dan kecerdasan inilah yang menyebabkan Muadz berhasil mencapai kekayaan wawasan keislaman khususnya dalam ilmu fiqih, mengatasi teman dan saudara-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah sebagai “orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram”.

Ibrah dari Kisah ini:

Muadz bin Jabal, sungguh merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad saw yang dikaruniai oleh Allah kecerdasan, dan keberanian, serta kedalaman ilmu agama.
Muadz bin Jabal, seorang intelektual muda yang kreatif dan berani mengambil keputusan di saat menghadapi masalah yang pelik, atau jalan buntu. Dia merupakan salah satu sahabat Nabi saw yang pertama kali berani berijtihad dan itu diucapkan di hadapan Nabi saw, sehingga wajar Muadz bin Jabal merupakan Mujtahid pertama dari kalangan sahabat saw di saat Nabi Muhammad saw masih hidup. Berani menghadapi tantangan dan berani mengambil keputusan.
Nabi Muhammad saw, terharu dan berkomentar : “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah saw (yakni Muadz bin Jabal) semoga Allah meridhoimu dan akupun ridho kepadamu”. Sayang pertemuannya saat itu dengan Nabi Muhammad saw adalah pertemuan terakhirnya, sebab ketika Nabi Muhammad saw wafat, Muadz bin Jabal masih malang melintang dalam belantara dakwah Islam di negeri Yaman.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here