Ibrah Kehidupan #53: Saad bin Abi Waqas, Pembawa “Yi Si Lan Jiao” di Guangzhou, China (-3 habis).

0
214
Foto ilustrasi Saad bin Abi Waqas diambil dari tokoh muslim

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Saad bin abi Waqas, bukanlah orang China. Dia putera asli Makkah. Tetapi dialah pembawa dakwah Islam pertama kali ke daratan China. Saad bin abi waqas datang ke China melaksanakan perintah khalifah Utsman bin Affan untuk berdakwah ke seluruh daratan China.

Saad bin abi Waqas, merupakan salah satu sahabat yang dikurniai Allah swt kekayaan yang banyak dan digunakannya untuk kepentingan dakwah. Ia juga dikenal karena keberaniannya dan dermawannya. Saad bin abi Waqas hidup hingga usianya menjelang 80 puluh tahun. Menjelang wafatnya, Saad bin abi Waqas meminta putranya untuk mengafaninya dengan jubah yang ia gunakan dalam perang Badar. Pesan beliau ”Kafani aku dengan jubah ini kerana aku ingin bertemu Allah SWT dalam keadaan berpakaian ini,” ujarnya.

Dimanakah Saad bin Waqas Dimakamkan? Menurut catatan resmi dari Dinasti Tang yang berkuasa pada 618-905 M dan berdasarkan catatan serupa dalam buku A Brief Study of the Introduction of Islam to China karya Chen Yuen, Islam pertama kali datang ke China sekitar tahun 30 H atau 651 M.

Disebutkan, Islam masuk ke China melalui utusan yang dikirim oleh Khalifah Usman bin Affan (23-35 H / 644-656 M). Menurut catatan Lui Tschih, penulis Muslim China pada abad ke-18 dalam karyanya Chee Chea Sheehuzoo (Perihal Kehidupan Nabi), Islam dibawa ke China oleh rombongan yang dipimpin Saad bin Abi Waqas.

Islam pertama kali datang ke China dibawa panglima Islam, Saad bin Abi Waqas, bersama sahabat lainnya pada tahun 616 M. Catatan tersebut menyebutkan, Saad bin Abi Waqas dan tiga sahabat lainnya datang ke China dari Abyssinia atau yang sekarang dikenal dengan Etiopia. Setelah kunjungan pertamanya, Saad kemudian kembali ke Arab.

Masyarakat China menganggap bahwa Saad bin abi Waqas telah membawa “Yi si lan Jiao” artinya “Agama yang Murni”. Ia kembali lagi ke China beberapa tahun kemudian, yakni pada masa setelah pemerintahan Utsman bin Affan, dan datang dengan membawa salinan Al Quran. Utsman bin Affan pada masa kekhalifahannya memang menyalin Al Quran dan menyebarkan ke berbagai tempat, demi menjaga kemurnian kitab suci ini.

Pada kedatangannya yang kedua di tahun 650, Saad berlayar melalui Samudera Hindi ke Laut China menuju pelabuhan laut di Guangzhou. Kemudian ia berlayar ke Chang’an atau kini dikenal dengan nama Xi’an melalui rute yang kemudian dikenal sebagai Jalan Sutera.

Bersama para sahabat, Saad bin abi Waqas datang dengan membawa hadiah dan diterima dengan baik oleh kaisar Dinasti Tang, Kao-Tsung (650-683). Namun Islam sebagai agama tidak langsung diterima oleh sang kaisar. Setelah melalui proses penyelidikan, sang kaisar kemudian memberikan izin bagi pengembangan Islam yang dirasanya sesuai dengan ajaran Konfusius.

Namun, sang kaisar merasa bahwa kewajiban shalat lima kali sehari dan puasa sebulan penuh terlalu berat baginya hingga akhirnya ia tidak jadi memeluk Islam. Namun begitu, ia mengizinkan Saad bin Abi Waqas dan para sahabat untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat di Guangzhou. Oleh masyarakat China, Islam disebut sebagai Yi si lan Jiao atau agama yang murni.

Saad bin Abi Waqas kemudian menetap di Guangzhou dan ia mendirikan Masjid Huaisheng yang disebut juga “Masjid Saad bin abi Waqas” menjadi salah satu tonggak sejarah Islam paling berharga di China.

Masjid ini menjadi masjid tertua yang ada di daratan Cina dan usianya sudah melebihi 1300 tahun. Masjid ini teletak di jalan Guang Ta Lu. Masjid ini terus bertahan melewati berbagai monumen sejarah China dan saat ini masih berdiri tegak dan masih seindah dahulu setelah diperbaiki beberapa kali. Masjid Huaisheng ini kemudian dijadikan Masjid Raya “Guangzhou Remember the Sage” atau masjid untuk mengenang Nabi Muhammad Saw.

Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Guang ta, karena masjid dengan menara yang indah ini yang letaknya di jalan Guangta. Ta berarti menara karena menurut sejarahnya menara masjid ini adalah yang tertinggi pada awal pendiriannya dibandingkan bangunan lain.

Sebagian besar orang percaya Saad bin Abi Waqas menghabiskan sisa hidupnya dan meninggal di Guangzhou, China. Sebuah pusara diyakini sebagai makamnya. Makamnya menjadi tempat kunjungan wisata religi dari seluruh pelosok dunia. Orang yang datang di Guangzhou merasa tidak lengkap jika tidak menjejakkan kaki ke makam Saad bin abi Waqas. Namun, sebagian lagi menyatakan, Saad meninggal di Baqi’, kota Madinah, dan dimakamkan dikawasan makam para sahabat.

Meskipun terjadi pro kontra tentang di mana Saad bin Abi Waqqas meninggal dan dimakamkan, namun yang pasti ia memiliki peranan penting terhadap perkembangan Islam di China. Kalaupun andaikata kubur yang ada di China itu bukan kubur Saad bin Abi Waqas tetapi pastinya kubur tersebut adalah kubur seorang berbangsa Arab yang memiliki jasa besar kepada perkembangan Islam di China.

Ibrah dari Kisah ini :

Saad bin abi Waqas, benar-benar sosok sahabat Nabi saw yang sangat fenomenal. Kecerdasan dan semangat jihadnya yang tinggi, beliau dikenal tumbuh dari kalangan keluarga kaya dan terdidik.

Dan yang sangat inspiratif adalah sifat kedermawanannya, beliau tidak “eman” mengerahkan harta kekayaannya untuk kepentingan dakwah Islam.

Terjawab sudah misteri tentang Saad bin abi Waqas. Beliau bukan orang asli China tetapi orang arab dan asli Makkah. Beliau merupakan orang yang pertama kali membawa agama Islam masuk ke daratan China.

Beliau berdakwah di negeri ini sejak masa akhir dari zaman dinasti Tang. Beliau pembawa “Yi si Lan Jiao” yakni agama Murni, atau agama yang benar-benar dari Tuhan.

Pendapat yang masyhur mengatakan bahwa beliau meninggal di Guanzhou, China. Dan dimakamkan di negeri Tirai Bambu ini.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here