Ibrah Kehidupan #179: Thariq bin Ziyad, Mantan budak, Menjadi Panglima Perang (-1)

0
38
Foto diambil dari kami-kamu

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Thariq bin Ziyad (Arab: طارق بن زياد‎), dilahirkan pada tahun 50 H atau 670 M di Kenchela, Aljazair, dari kabilah Nafzah. Ia bukanlah seorang Arab, akan tetapi seorang yang berasal dari kabilah Barbar yang tinggal di Maroko.

Masa kecilnya sama seperti masa kecil kebanyakan umat Islam saat itu, ia belajar membaca dan menulis, juga menghafal surat-surat Alquran dan hadis-hadis. Tidak banyak yang dicatat oleh ahli sejarah mengenai masa kecil Thariq bin Ziyad, bahkan sejarawan seperti Imam Ibnu al-Atsir, ath-Thabari, dan Ibnu Khaldun tidak meriwayatkan masa kecil Thariq bin Ziyad dalam buku-buku mereka kecuali hanya sepintas saja.

Dalam Tarikh Ibnu Nushair (seorang sejarawan), mengatakan Thariq adalah budak dari amir Kerajaan Umawiyah di Afrika Utara, Musa bin Nushair. Lalu Musa membebaskannya dari perbudakan dan mengangkatnya menjadi panglima perang. Setelah beberapa generasi kemudian, status Thariq sebagai budak dibantah oleh keturunan-keturunannya.

Salah satu daerah yang paling strategis di wilayah Afrika Utara adalah Maroko. Daerah ini telah mengenal Islam sebelum kedatangan Musa bin Nushair dan pasukannya. Thariq bin Ziyad termasuk dalam pasukan Musa bin Nushair.
Namun penduduk di daerah ini belum menerima Islam secara utuh dan keimanan mereka belum kokoh, terbukti dengan seringnya masyarakat wilayah ini berganti agama dari Islam ke agama selainnya.
Di antara penyebab pergantian agama ini karena penaklukan Maroko di masa Uqbah bin Nafi’, kurang memperhatikan pendidikan keagamaan. Islam belum mapan di suatu daerah, Uqbah dan pasukannya sudah berangkat ke daerah lainnya. Selain itu keadaan bangsa Barbar di Afrika Utara yang memang mewaspadai pergerakan Uqbah bin Nafi’.

Keadaan demikian menyebabkan masyarakat Maroko sering murtad setelah masuk ke dalam Islam (Qishshatu al-Andalus min al-Fathi ila as-Suquth, Hal. 30).

Dalam perjalanan menaklukkan Afrika Utara, Musa bin Nushair dibuat kagum dengan kesungguhan dan keberanian salah seorang prajurit pasukannya yang bernama Thariq bin Ziyad. Setelah menaklukkan beberapa wilayah, akhirnya pasukan ini berhasil menaklukkan Kota Al-Hoceima, salah satu kota penting di Maroko.

Kota ini sebagai wilayah strategis yang mengantarkan pasukan Islam menguasai semua wilayah Maroko. Musa kembali ke Qairawan sedangkan Thariq menetap di sana dan memberi pengajaran keagamaan kepada masyarakat Barbar Maroko.

Thariq bin Ziyad, dikenal dalam sejarah Spanyol sebagai legenda dengan sebutan Taric el-Tuerto (Taric yang memiliki satu mata), adalah seorang jendral dari dinasti Umayyah yang memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) pada tahun 711 M.

IBRAH DARI KISAH INI :

Salah satu pahlawan besar Islam yang banyak dikenang dan diingat orang adalah seorang panglima yang bernama Thariq bin Ziyad. Thariq adalah salah seorang panglima besar dalam sejarah Islam yang merupakan prajurit Kerajaan Umawiyah (Bani Umayyah).

Thariq bin Ziyad, sejatinya bukanlah orang keturunan bangsawan. Dia adalah mantan budak dan berasal dari keluarga bar-bar di Marokko. Karena bakat kemiliterannya sangat menonjol, menjadikan Musa Bin Nushair (Gubernur Afrika utara dari dinasti Umawiyah, perintis jalan penaklukan Eropa) merawatnya, dan di kemudian hari diangkatlah menjadi panglima perang untuk meneruskan dakwah Islam ke daratan Eropa.

Wahai kader Islam berkemajuan, kehebatan seseorang, kewibawaan seseorang, tidak selalu berbanding lurus dengan keturunannya atau asal keluarganya. Tetapi benar-benar ditentukan oleh kepribadian dirinya sendiri, keteguhan aqidahnya, kedisiplinannya, kecerdasannya dan tentu juga keberaniannya, serta komitmennya dalam memperjuangkan agama dan kemanusiaan.

Thariq bin Ziyad, telah membuktikan hal itu. Dia bukan keturunan orang hebat, tetapi kemudian dicatat oleh sejarah sebagai orang hebat. Thariq bin Ziyad awalnya hanyalah “orang biasa”, tetapi kemudian menjadi orang yang “Luar biasa”.
Subhanalloh.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here