Ibrah Kehidupan #44: Zaid Bin Tsabit, Juru Tulis Nabi (-1).

0
480
Foto Ilustrasi Zaid Bin Tsabit diambil dari kelaspena.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Dialah Zaid bin Tsabit, ketua tim pengumpul dan pembukuan al-Qur’an. Penghafal, dan pencatat paling teliti dan lengkap ayat-ayat yang turun kepada Nabi Muhammad saw.

Nama lengkap beliau adalah Zaid bin Tsabit bin adh-Dhahak al-Anshari. Ia berasal dari Bani Najjar yang merupakan keluarga Rasulullah saw di Madinah. Saat Rasulullah saw tiba di Madinah, kondisi Zaid kala itu adalah seorang anak yatim. Di tahun pertama hijrah itu, usia Zaid tidak lebih dari 11 tahun.

Ia memeluk Islam bersama keluarganya. Rasulullah saw pun mendo’akan keberkahan untuknya.

Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu adalah seorang sahabat Anshar. Ia dipilih sebagai ketua tim pembukuan Alquran di zaman khalifah Abu Bakar Assiddiq dan di zaman khalifah Utsman bin Affan. Amanah yang besar itu tentu menunjukkan sebesar apa kapasitas dan kedudukan beliau dalam Islam dan sejarah umat Islam.

Sewaktu kecil, ia bersama orang-orang dewasa berangkat menemui Rasulullah saw untuk turut serta dalam Perang Badar. Tapi, Rasulullah saw tidak mengizinkannya karena ia terlalu muda dan badannya pun masih kecil. Tidak menyerah karena ditolak saat Perang Badar, saat Rasulullah saw menyiapkan pasukan Perang Uhud, Zaid bin Tsabit kembali mendaftarkan diri. Kali ini ia berangkat bersama rombongan remaja seusianya.

Berharap Rasulullah saw mengikut-sertakan mereka dalam pasukan mujahidin. Dan keluarga mereka lebih-lebih lagi harapannya adalah agar Rasulullah saw menerima mereka sebagai prajurit.
Rasulullah saw memandangi mereka dengan pandangan terima kasih. Seakan-akan beliau menginginkan mereka untuk izin tidak ikut saja. Majulah anak muda yang bernama Rafi’ bin Khadij membawa sebuah tombak.

Ia memamerkan keahliannya memegang senjata tersebut. Rafi’ berkata, “Sesungguhnya aku sebagaimana yang Anda lihat. Aku mahir dalam melempar senjata, karena itu izinkanlah aku.” Rasulullah saw pun mengizinkannya.
Kemudian Samurah bin Jundab pun maju. Salah seorang anggota keluarganya mengatakan, “Sesungguhnya Samurah lebih hebat dari Rafi.” Rasulullah saw pun mengizinkan beliau.

Tersisalah 6 orang pemuda pemberani lainnya. Di antara mereka ada Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar. Mereka mengeluarkan segala kemampuan membujuk rayu Rasulullah saw. Tak mempan dengan lisan, mereka bujuk dengan air mata. Belum juga berhasil dengan cara menghiba itu, mereka unjuk kekuatan dengan menunjukkan otot-otot mereka. Tapi usia mereka masih terlalu muda. Dan tubuh mereka masih begitu kecil. Rasulullah saw menolak mereka secara halus sekaligus menghibur mereka dengan berjanji akan mengajak mereka pada perang selanjutnya.

Akhirnya, Zaid bin Tsabit bersama anak-anak seusiasanya baru bisa memulai pengalaman jihad mereka di Perang Khandaq, Pada tahun 5 H.

Zaid bin Tsabit, memegang bendera Bani Najjar di Perang Tabuk. Awalnya bendera tersebut di pegang Umarah bin Hazm, tapi Rasulullah saw mengambilnya dan menyerahkannya kepada Zaid bin Tsabit. Umarah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah ada sesuatu tentang aku (yang buruk) yang sampai kepadamu?” “Tidak ada. Tapi, yang lebih banyak menghafal Alquran layak dikedepankan. dan Zaid bin Tsabit lebih banyak menghafal Alquran daripada engkau.”

Perlu diketahui, dahulu para sahabat menghafal 10 ayat-10 ayat. Ketika mereka sudah paham dan mengamalkannya barulah mereka menambah hafalan. Sehingga siapa yang paling banyak hafalannya, maka semakin baik kualitasnya di antara mereka.

Dari sumber riwayat Amir, disebutkan bahwa sesungguhnya tebusan tawanan Perang Badar adalah 40 ukiyah emas. Siapa yang memiliki kepandaian baca-tulis, mereka diperintahkan mengajar baca-tulis kepada 10 orang kaum muslimin. Di antara yang mendapat pengajaran adalah Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit adalah seorang cendekia, cerdas, dan memiliki keistimewaan dalam berbagai bidang. Ia seorang penghafal Alquran. Juru tulis Nabi yang menulis wahyu yang turun kepada Rasulullah. Ia memiliki kualitas ilmu dan hikmah yang mendalam.

Ibrah dari Kisah ini :

Satu di antara sahabat Nabi saw adalah Zaid bin Tsabit. Seorang pemuda cerdas, anak ingusan pemberani ini mendaftarkan diri menjadi prajurit di perang badar, tapi ditolak Nabi saw karena masih terlalu muda. Di perang uhud-pun keinginannya menjadi prajurit tetap ditolak oleh nabi saw, dan baru dalam perang khondak keinginannya terkabul.

Zaid bin Tsabit, juru tulis Nabi saw tentang semua ayat-ayat yang turun kepada Nabi saw.

Zaid bin Tsabit benar-benar mampu memanfaatkan usia muda-nya untuk berjuang membaktikan diri di jalan Allah.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here