Ibrah Kehidupan117: Ummu Aiman, Menangis Bertiga (-4 habis).

0
455
Ilustrasi diambil dari Republika.co.id

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Ummu Aiman memiliki sifat-sifat yang terpuji, ditambah lagi pada usianya yang sudah tua, beliau tidak mau tinggal diam, beliau ingin menyertai para pejuang Islam dalam menghancurkan musuh-musuh Allah swt, untuk meninggikan kalimat-Nya.
Oleh sebab itu, ia ikut dalam perang Uhud dan ikut andil dengan kemampuan yang ia miliki, ia memberikan minum bagi pasukan muslim dan mengobati yang terluka. Ia juga menyertai perang Khaibar bersama Rasulullah saw.

Ketika Rasulullah saw wafat, Abu Bakar berkata kepada Umar, “Pergilah bersama kami menemui Ummu Aiman, kita akan mengunjunginya sebagaimana Rasulullah saw telah mengunjunginya.” Tatkala mereka sampai di rumah Ummu Aiman, ternyata ia sedang menangis, keduanya berkata, “Apa yang membuat Anda menangis? Bukankah apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya?”

Ummu Aiman menjawab, “Bukanlah saya menangis karena tidak tahu bahwa apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya, hanya saja saya menangis karena dengan wafatnya Rasulullah saw berarti telah terputusnya wahyu dari langit.” Hal itu membuat Abu Bakar dan Umar pun akhirnya menangis, sehingga jadilah mereka (Abu Bakar Assiddiq, Umar Ibnul Khattab, dan Ummu Aiman) menangis bertiga bersama.

Pada saat terbunuhnya Khalifah Umar bin Khaththab, Ummu Aiman menangis sambil berkata, “Pada hari ini, Islam menjadi lemah.”
Ummu Aiman (si wanita Cadel) itu wafat pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, tepatnya dua puluh hari setelah terbunuhnya Khalifah Umar bin Khattab. Semoga Allah swt merahmati Ummu Aiman, pengasuh pemimpin anak Adam yang amat mulia yakni Nabi Muhammad saw.

Ummu Aiman adalah seorang wanita yang rajin puasa dan tahan lapar, berhijrah dengan berjalan kaki, diberi minum yang tidak diketahui asal-usulnya, minuman dari langit sebagai penyembuh bagi beliau. Pengasuh setia Nabi Muhammad saw ini dikaruniai Allah swt sifat kelembutan, teguh aqidahnya, dan kuat fisiknya.

Barkah binti Tsa’labah (Ummu Aiman) adalah seorang shahabiyah (sahabat Nabi dari kalangan wanita) yang kehidupannya penuh berkah. Ia hidup sepanjang masa kenabian sehingga ia menyaksikan peristiwa-peristiwa penting pada periode kenabian tersebut.
Kun-yahnya (panggilan akrabnya) adalah “Ummu Aiman”, dan ia lebih dikenal dengannya; menjadi pengasuh Nabi saw sejak beliau masa kecil. Ia wafat jauh sesudah wafatnya Nabi saw, yakni pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan.

Ummu Aiman adalah isteri Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Zaid, ia mendapatkan seorang anak yang menjadi mujahid yang sangat hebat, yang sangat disayangi oleh Rasulullah saw, yaitu Usamah bin Zaid. Usamah bin Zaid tercatat dengan tinta emas dalam sejarah umat Islam sebagai sosok pemuda cerdas, cerdik dan pemberani.

Di usianya yang masih sangat belia sudah muncul bakat militer dan bakat kepemimpinannya, sehingga dia diangkat oleh Nabi saw menjadi panglima perang dalam usia 17 tahun. Dia merupakan jendral termuda sepanjang sejarah perjuangan Islam.
Dari suaminya yang pertama, Barkah binti Tsa’labah memiliki seorang anak laki-laki yang kemudian gugur sebagai syuhada (yaitu “Aiman bin Ubaid Al-Khazraji”). Itulah sebabnya Barkah binti Tsa’labah dikenal dengan panggilan “Ummu Aiman” (Ibunda-ya Aiman).

Ibrah dari Kisah ini:

Barkah binti Tsa’labah (Ummu Aiman) adalah seorang shahabiyah (sahabat Nabi dari kalangan wanita) yang kehidupannya penuh berkah. Ia hidup sepanjang masa kenabian sehingga ia menyaksikan peristiwa-peristiwa penting selama pada periode kenabian tersebut. Barkah binti Tsa’labah lebih popular dipanggil Ummu Aiman (ibunda-nya Aiman).
Ummu Aiman menjadi pengasuh Nabi saw sejak beliau masa kecil sampai remaja / dewasa. Ia wafat jauh sesudah wafatnya Nabi saw, yakni pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Ummu Aiman, profil wanita berkarakter, berintegritas, dan pengabdiannya pada agama sangat totalitas.

Wahai kader 1912, beliau adalah  wanita mulia, cerdas tetapi lembut hatinya, peramah tetapi kokoh pendiriannya, sebagai Ibu asuh Nabi Muhammad saw dan Nabi-pun sangat sayang dan hormat kepadanya. Nabi Muhammad saw memanggilnya “Ibu” Dan Nabi Muhammad saw juga pernah menyatakan : Ummu Aiman adalah “Ibuku, setelah Ibuku”.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here