Ibrah Kehidupan#166: Walid bin Abdul Malik, Penakluk Prancis di Barat dan India di Timur (-2)

0
887
Foto diambil dari blogger Harian Islam Agamaku

KLIKMU.CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Kecakapan, kewibawaan, dan keteladanan yang ditunjukkan oleh Al-Walid (Walid bin Abdul Malik) telah mampu menginspirasi keberadaan dan kinerja para gubernur di derah-daerah wilayah kekuasaan daulah Bani Umayyah.
Kekhalifahan mampu meluaskan wilayah hingga mencapai Transoxiana di Asia Tengah, Sindh di anak benua India, dan semenanjung Iberia di Eropa. Al-Walid juga memerintahkan pembangunan berbagai infrastruktur, sehingga sejarah arsitektur Islam dapat dikatakan dimulai dengan serius mulai pada masa kekhalifahannya.

Al-Walid melanjutkan kebijakan ayahnya (Abdul Malik bin Marwan) untuk meluaskan wilayah kekhalifahan. Tidak ada yang menantang kedudukannya sebagai khalifah sebagaimana pada masa tiga pendahulunya, sehingga Al-Walid dapat lebih memusatkan perhatian pada upaya penaklukan di timur dan barat. Masa pemerintahannya dipandang sebagai salah satu periode terkuat kekhalifahan Bani Umayyah.
Salah satu factor keberhasilan mengkonsolidasikan para penguasa daerah (gubernur) adalah kejujuran dan keteladanan sang khalifah sendiri. Khalifah Al-Walid tidak sekedar main perintah, tetapi terjun langsung memberi bukti kerja-kerja nyata. Keteladanan inilah yang menjadikan sang khalifah mendapat dukungan penuh dari bawahannya.

Keberhasilan dalam masa kekhalifahan Al-Walid tidak terlepas dari para gubernur berpengaruh yang berkuasa atas namanya. Sepupunya, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, ditunjuk sebagai gubernur di kawasan Hijaz dan dia berhasil meredakan ketegangan yang disebabkan luka politik antara penduduk setempat dengan pihak Umayyah.
Al-Walid menaruh perhatian besar pada pengembangan militer. Dia membangun angkatan laut (yang telah dirintis sebelumnya oleh khalifah Mu’awiyah bin Abu Sufyan) terkuat pada masa Umayyah dan menjadi kunci penting penaklukan Iberia. Pada tahun 711, pasukan kekhalifahan telah menyeberang Selat Gibraltar dan di bawah kepemimpinan dari Musa bin Nusair dan Thariq bin Ziyad, pasukan Umayyah yang terdiri dari bangsa Arab dan Berbar mulai menaklukkan kawasan tersebut. Tahun 716, dinasti bani Umayyah sudah berhasil menguasai Iberia dan sebagian Franka (Prancis).

Seperti ayahnya, ia melanjutkan untuk memberikan kebebasan pada Al-Hajjaj bin Yusuf (tokoh militer senior orang kepercayaan Ayahnya, Abdul Malik bin Marwan), dan kepercayaan tersebut berbuah kemenangan. Al-Hajjaj bertanggung jawab memilih panglima yang berhasil membawa kemenangan di timur. Muhammad bin Qasim berhasil menundukkan Sindh pada 711, membuka jalan penaklukan India di masa-masa selanjutnya. Qutaibah bin Muslim, salah satu panglima dinasti Umayyah dan gubernur Khurasan, menaklukkan Samarkand (Uni Soviet/ Rusia) dan mengirim duta ke Tiongkok.

Dalam menjalankan pemerintahan di kawasan timur, Al-Hajjaj sendiri sangat keras dalam menekan para penentang Umayah, di antaranya adalah kelompok Syi’ah. Keadaan ini membuat mereka mengungsi ke Madinah dan hidup dalam perlindungan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz di sana. Al-Hajjaj mengkritik ‘Umar karena dinilai terlalu lemah terhadap para penentang yang berpotensi menggoyahkan kekuasaan Bani Umayyah sehingga dia meminta Al-Walid untuk memberhentikan ‘Umar. Al-Walid sepakat, kemudian mengangkat ‘Utsman bin Hayyan sebagai Gubernur Makkah dan Khalid bin ‘Abdullah sebagai Gubernur Madinah.

IBRAH DARI KISAH INI :

Kesuksesan demi kesuksesan telah diraih oleh dinasti Bani Umayyah di bawah kepemimpinan Walid bin Abdul Malik. Dari sisi perluasan dan pengembangan kewilayahan sang khalifah juga sukses dilakukannya.
Apa yang pernah diimpikan oleh Umar ibnul Khattab melakukan perluasan dakwah ke tanah eropa, telah dibuktikan oleh Walid bin Abdul malik. Bukan hanya itu, para ahli sejarah mengatakan bahwa pada masa kekhalifahan Aw-Walid ini praktis Islam telah merambah ke barat (Prancis) dan ke timur (Sind, anak benua India, dan Tiongkok).

Ada satu kata kunci keberhasilan pada kekhalifahan Al-Walid, yakni keteladanan. Bahwa pemimpin itu harus cerdas, iya. Bahwa pemimpin itu harus sehat fisik dan ruhaniahnya, iya. Bahwa pemimpin itu harus orang yang saleh, iya. Tetapi ada yang sangat penting juga bahwa pemimpin itu harus menjadi teladan bagi yang dipimpin.

Berapa banyak dalam catatan sejarah seorang pemimpin yang otoriter, bisanya hanya perintah ini perintah itu. Pandai berretorika tetapi kosong atau NOL besar dalam bukti perbuatan. Bukankah Allah sangat tidak suka kepada orang yang hanya pandai bicara tentang apa yang tidak ia lakukan.

Point ini menjadi sangat penting bagi generasi muda, generasi millennial, calon pemimpin bangsa, agar selalu mengasah kecerdasan intelektual, memperkuat mental berbasis agama Islam, dan selalu sesuai antara ucapan dengan perbuatannya. Walid bin Abdul malik adalah contoh yang inspiratif.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here