Ibrah Kehidupan#33: Usamah Bin Zaid, Djenderal termuda (2 -habis)

0
124
Foto ilustrasi Pemuda Islam berkuda diambil dari bina amal

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Ditunjuknya Usamah bin Zaid oleh Nabi saw sebagai panglima perang meskipun masih dalam usia yang muda belia (17 tahun), dimaksudkan untuk menempati posisi ayahnya (Zaid Bin Haritsah) yang sudah gugur dalam pertempuran di Mu’tah dulu, dan akan menjadi kemenangan yang dibanggakan sebagai balasan atas gugurnya ayahnya itu, di samping semangat yang akan timbul dalam iiwa pemuda-pemuda, juga untuk mendidik mereka membiasakan diri memikul beban tanggungjawab yang besar dan berat.

Dalam pasukannya, terdapat nama- nama sahabat besar, Abu Bakar Shidiq, Urnar bin Khatab, Sa’ad bin Abi Waqqas. Abu Ubaidah bin Jarrah, dan para sahabat senior lainya.

Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada Usamah supaya menjejakkan kudanya di perbatasan Balqa’ dengan Darum di Palestina, tidak jauh dari Mu’ta tempat ayahnya dulu terbunuh, dan supaya menyerang musuh Tuhan itu pada pagi buta, dengan serangan yang gencar, dan menghujani mereka dengan api.

Hal ini supaya diteruskan tanpa berhenti sebelum berita sampai lebih dulu kepada musuh. Apabila Tuhan sudah memberi kemenangan, tidak usah lama-lama tinggal di tempat itu. Dengan membawa hasil dan kemenangan itu ia harus segera kembali.
Pengangkatan Usamah sebagai panglima ini sempat menimbulkan desas desus yang menyebabkan kegusaran Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ lalu pergi ke mesjid Nabawi dan berkata : “Jika kalian mencemoohkan kepernimpinannya, maka kalian dulu juga mencemoohkan kepemimpinan ayahnya. Demi Allah. dia layak untuk jabatan pimpinan. Dan dia adalah orang yang paling aku cintai sesudah ayahnya”.

Sepeninggal Rasulullah saw kepemimpinan umat Islam dipegang oleh Abu Bakar Assiddiq. Barulah pemberangkatan pasukan dipimpin Djenderal muda Usamah Bin Zaid diteruskan. Maka, pasukan tentara muslimin berangkat di bawah pimpinan panglima yang masih muda remaja, Usamah bin Zaid. Khalifah Abu Bakar turut mengantarkannya berjalan kaki, sedangkan Usamah menunggang kendaraan.

Kata Usamah, “Wahai Khalifah Rasulullah! Silakan Anda naik kendaraan. Biarlah saya turun dan berjalan kaki“.

Jawab Abu Bakar, “Demi Allah! jangan turun! Demi Allah! saya tidak hendak naik kendaraan! Biarlah kaki saya kotor, sementara mengantar engkau berjuang fisabilillah! Saya titipkan engkau, agama engkau, kesetiaan engkau, dan kesudahan perjuangan engkau kepada Allah. Saya berwasiat kepada engkau, laksanakan sebaik-baiknya segala perintah Rasulullah kepadamu!”

Kemudian dibalas oleh Usamah dengan jawaban yang penuh makna, “Aku menitipkan kepada Allah agamamu, amanatmu juga penghujung amalmu dan aku berwasiat kepadamu untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah”.

Kemudian, Khalifah Abu Bakar lebih mendekat kepada Usamah. Katanya, “Jika engkau setuju biarlah Umar tinggal bersama saya. Izinkanlah dia tinggal untuk membantu saya. Usamah kemudian mengizinkannya.

Kecintaan Kaum Muslimin Kepada Usamah
Usamah memiliki seluruh sifat agung yang membuatnya dekat di hati Rasulullah. Dalam usia belum genap 20 tahun, ia telah menjadi komandan pasukan yang di antara prajuritnya terdapat Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Usamah bin Zaid sepanjang hidupnya berada di tempat terhormat dan dicintai kaum muslimin. Karena, dia senantiasa mengikuti sunah Rasulullah dengan sempurna dan memuliakan pribadi Rasul.
Khalifah Umar bin Khattab pernah diprotes oleh putranya, Abdullah bin Umar, karena melebihkan jatah Usamah dari jatah Abdullah sebagai putra Khalifah. Kata Abdullah bin Umar, “Wahai Bapak! Bapak menjatahkan untuk Usamah empat ribu dinar, sedangkan kepada saya hanya tiga ribu dinar. Padahal, jasa bapaknya agaknya tidak akan lebih banyak daripada jasa Bapak sendiri. Begitu pula pribadi Usamah, agaknya tidak ada keistimewaannya daripada saya. Jawab Khalifah Umar, “Wah?! jauh sekali?! Bapaknya lebih disayangi Rasulullah daripada bapak kamu. Dan, pribadi Usamah lebih disayangi Rasulullah daripada dirimu.” Mendengar keterangan ayahnya, Abdullah bin Umar rela jatah Usamah lebih banyak daripada jatah yang diterimanya.

Apabila bertemu dengan Usamah, Umar menyapa dengan ucapan, “Marhaban bi amiri!” (Selamat, wahai komandanku?!). Jika ada orang yang heran dengan sapaan tersebut, Umar menjelaskan, “Rasulullah pernah mengangkat Usamah menjadi komandan saya”.

Setelah menjalani hidupnya bersama para sahabat, Usamah bin Zaid wafat tahun 53 H / 673 M pada masa pemerintahan khalifah Mu’awiyah.

Ibrah dari kisah ini:
Usamah Bin Zaid, tokoh muda yang cukup fenomenal. Diangkat oleh Nabi Muhammad saw sebagai panglima perang dan merupakan Djenderal termuda dalam sejarah dan perjuangan umat Islam. Djenderal muda dengan usia 17 tahun.

Usamah telah diketahui potensi kepemimpinannya, dan juga yang tak kalah pentingnya ialah diberi kesempatan memimpin. Dua diksi yang amat menentukan dalam sebuah perjuangan, yakni “Punya Potensi” dan “Diberi Kesempatan”.

Berapa banyak tokoh yang tidak punya potensi tetapi diberi kesempatan memimpin, maka hasilnya pasti tidak maksimal. Begitu juga berapa banyak tokoh yang sebenarnya punya potensi besar dalam memimpin, tetapi tidak punya atau tidak diberi kesempatan, maka akan sia-sia pula.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here