Ibrah Kehidupan#78 : Abbas, Keinginan Menjabat ditolak Nabi (bagian-3).

0
249
Foto diambil dari Republika

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang masuk Islamnya Abbas. Ada yang mengatakan, sesudah penaklukkan Khaibar. Ada yang mengatakan, lama sebelum Perang Badar. Pendapat yang lain mengatakan, bahwa Abbas telah masuk Islam sebelum hijrah, tetapi secara diam-diam.

Ketika Rasulullah saw berhijrah ke Yatsrib, Abbas tetap tinggal di Makkah, mendengarkan berita Rasulullah dan kaum Muhajirin, dan mengirimkan berita-berita kaum Quraisy, hingga berkecamuknya Perang Badar.

Abbas, yang lebih popular dengan panggilan “Abu Fadhl”, pergi berhijrah ke Madinah bersama Naufal ibnul Harits. Ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal hijrahnya, namun mereka sependapat bahwa Rasulullah saw telah memberikan sebidang tanah kepadanya, berdekatan dengan tempat kediamannya di Madinah.

Suatu hari, Abbas datang menghadap Rasulullah saw dan memohon dengan penuh harap, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak suka mengangkat aku menjadi pejabat pemerintahan?” tentu saja keinginannya ini bukan sekadar pencitraan atau sekedar pamer jabatan. Dia ingin mengaplikasikan berbagai pengalamannya di bidang pelayanan public sehingga bisa lebih maksimal bentuk dukungannya kepada dakwah Nabi Muhammad saw.
Berdasarkan pengalaman, Abbas seorang yang berpikiran cerdik, berpengetahuan luas, dan mengetahui liku-liku jiwa orang. Namun Nabi saw tidak ingin mengangkat pamannya menjadi kepala pemerintahan. Beliau tidak ingin pamannya dibebani tugas-tugas pemerintahan. “Wahai paman, menyelamatkan sebuah jiwa lebih baik daripada menghitung-hitung jabatan pemerintahan,” demikian jawaban Rasulullah saw.
Abbas menerima dengan senang hati Jawaban Rasulullah, tetapi malah Ali bin Abi Thalib yang kurang puas. Ia lalu berkata kepada Abbas, “Kalau kau ditolak menjadi pejabat pemerintahan, mintalah diangkat menjadi pejabat pemungut zakat/ sedekah!”
Sekali lagi Abbas menghadap Rasulullah saw untuk meminta seperti yang dianjurkan Ali bin Abi Thallib itu. Rasulullah saw kemudian bersabda kepadanya, “Wahai pamanku, tak mungkin aku mengangkatmu mengurusi cucian (kotoran) dosa orang.”

Rasulullah saw adalah orang yang paling akrab dan paling kasih kepadanya, tidak mau mengangkatnya menjadi pejabat pemerintahan atau pengurus sedekah. Bahkan ia tidak diberi kesempatan dan harapan untuk mengurusi soal-soal yang bersifat duniawi, tetapi menekannya supaya lebih menekuni soal-soal ukhrawi. Abbas pun menerima dengan legowo jawaban Nabi dan bahkan sangat enjoy dengan tugas-tugas yang berkaitan dengan keakhiratan.

Ibrah dari Kisah ini:

Abbas bin Abdul Mutthallib, dikenal dengan panggilan “Abbas” atau juga dipanggil “Abu Fadhl” , adalah paman Nabi Muhammad saw, yang selalu melindungi dan memberikan pembelaan terhadap dakwah Nabi Muhammad saw, baik sebelum masuk Islam maupun sesudah masuk Islam.

Meskipun demikian, Nabi Muhammad saw tidak serta merta menuruti segala kemauan atau keinginan Abbas, terutama dalam jabatan-jabatan public. Nabi Muhammad saw telah menolak dengan bijaksana keinginan Abbas menduduki jabatan public.
Penolakan itu tentu berdasarkan “info langit” bahwa Abbas lebih tepat mengurusi hal-hal yang terkait dengan keakhiratan.

Ketika Rasulullah saw wafat, Abbas adalah orang yang paling merasa kesepian atas kepergiannya itu. Abbas hidup terhormat di bawah pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq maupun pada masa kepemimpinan Umar bin Khathab.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here