Ibrah Kehidupan #21 : Khalifah Ali Bin Abi Thalib, Menantu Cerdas dan Pemberani (-3)

0
162
Foto orang berkuda diambil dari Royal Indonesia Travel

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Siapa yang tidak kenal dengan Ali bin Abi Thalib? Beliau adalah khalifah terakhir dari Khulafaurrasyidin. Ia adalah sosok pejuang yang cerdas dan pemberani serta heroik, pantang mundur, tidak pernah takut mati dalam membela dan menegakkan kebenaran. Semenjak kecil Ali bin Abi Thalib hidup diasuh oleh Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam, karena ayahnya terlalu banyak beban dan tugas yang sangat banyak dan juga banyak keluarga yang harus dinafkahi, sedangkan Abu Thalib hanya memiliki sedikit harta semenjak Rasulullah masih anak-anak.
Selain cerdas, berani, heroic, Beliau juga sosok sahabat yang ahli ilmu, bicaranya logis dan mampu melumpuhkan lawan lantaran “petah” lidahnya. Beliau disebut oleh Rasulullah saw sebagai pintu kota ilmu, sedangkan Rasulullah saw adalah kota ilmu.

Keberanian Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim dicatat di dalam sejarah sebagai berikut:
Pertama, Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin berhijrah ke Madinah pada saat rumah beliau dikepung di malam hari oleh sekelompok pemuda dari berbagai utusan kabilah Arab untuk membunuh Nabi, Nabi menyuruh Ali bin Abi Thalib tidur di tempat tidur beliau dengan mengenakan selimut milik beliau. Di sini Ali bin Abi Thalib benar-benar mempertaruhkan nyawanya demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan penuh tawakal kepada Allah Ta’ala.
Keesokan harinya, Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim disuruh menunjukkan keberadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun suami Fatimah az-Zahra itu menjawab tidak tahu, karena beliau hanya disuruh untuk tidur di tempat tidurnya. Lalu beliau disiksa dan digiring ke Masjidil Haram dan di situ beliau ditahan beberapa saat, lalu dilepas.

Kedua, Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim, setelah diinterogasi dan diintimidasi, serta disiksa oleh kaum kuffar quraisy, kemudian dilepas dan kembali pulang ke rumah.
Kemudian keesokan harinya Ali bin Abi Thalib pergi berhijrah ke Madinah dengan berjalan kaki sendirian, menempuh jarak yang sangat jauh tanpa alas kaki, sehingga kedua kakinya bengkak dan penuh luka-luka setibanya di Madinah.

Ketiga, Orang kedua yang masuk Islam setelah Khadijah radhiyallahu ‘anha itu terlibat dalam semua peperangan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, selain perang Tabuk, karena saat itu beliau ditugasi menjaga kota Madinah. Di dalam peperangan-peperangan tersebut beliau sering kali ditugasi melakukan perang tanding (duel) sebelum peperangan sesungguhnya dimulai. Dan semua musuh Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim berhasil dilumpuhkan dan tewas. Dan Ali bin Abi Thalib juga menjadi pemegang panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibrah Dari Kisah Ini:
Hidup sesuai dengan ajaran agama Allah swt (Islam) adalah sebuah keniscayaan bagi setiap umat Islam. Tetapi itu saja belum cukup. Ada sebuah tugas nan mulia lagi yakni membela dan memperjuangkan kebenaran Islam, kapan, dan dimanapun berada. Perjuangan menegakkan kebenaran, membutuhkan keberanian. Keberanian itu muncul dari keyakinan (aqidah) yang mantap pada diri seseorang. Tetapi, keberanian perlu didampingi oleh Ilmu, sebab keberanian tanpa ilmu itu namanya “bonek” , dan itu berarti juga perjuangan tanpa ruh dan tanpa strategi.
Mari kader generasi 1912 ayo kita teladani kisah menantu Rasulullah saw ini.

Foto Kyai Mahsusun Jayadi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya diambil dari dokumen pribadi

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota surabaya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here