IDUL ADLHA DAN KEMERDEKAAN

0
156

Oleh:
KH. Dr. M. SAAD IBRAHIM, MA
Ketua PWM Jawa Timur

KLIKMU.CO

Di bulan ini peringatan Hari Kemerdekaan RI berhimpitan dengan Id Adlha. Bukan karena kehimpitan waktu terjadinya itu kalau kemudian perlu direnungkan sisi kehimpitan substansial keduanya. Ada kehimpitan waktu atau tidak, kehimpitan substansial keduanya memang benar-benar hakiki. Kita mulai.

Perjalanan eksistensial Ibrahim mencari Tuhannya merupakan pembebasan dari kooptasi mind set oleh segala yang imitasi atau diimitasikan oleh ilusi kedirian manusia. Ketika Tuhan sudah ditemukan melalui kejernihan eksistensi total mind set Ibrahim, seakan perjalanan telah usai.

Ternyata belum, ternyata masih panjang bentang jalan yang harus ditempuh. Justru perjalanan menempuh etape berikutnya jauh lebih menguras enerji kedirian Ibrahim. Melawan dan kemudian menghancurkan segala idol imitatif jauh lebih memerlukan curahan total potensial Ibrahim dibanding pencariannya menemukan Sang Tuhan. Idol imitatif potensialis ada di luar dan di dalam diri. Pembersihan terus menerus inilah yang akan menentukan ketercapaian pembebasan yang puncaknya berupa kemerdekaan itu sendiri.

Syukur kemudian, ketika tidak saja dirinya tapi juga Ismail, putranya, bisa sampai pada puncak pencapaian yang berupa kemerdekaan dari idol-idol tersebut. Antara lain dari pemberhalaan terhadap Ismail sebagai sang putra yang lama Ibrahim dambakan.

Untuk Ismail, keterbebasannya dari pengidolaan terhadap diri dan kediriannya sendiri. Ceritanya akan lain jika kemudian Ismail bersikokoh pada posisi eksistensialnya: ‘Saya harus eksis, harus melawan perintah Tuhan yang ditaklifkan kepada sang ayah‘.
Ya, Ibrahim diuji untuk menyembelih, melenyapkan diri dan kedirian Ismail.

Ibrahim dan Ismail merdeka dengan mempersembahkan kemerdekaan mereka sendiri kepada ‘Sang Idola Orisinal’, Allah yang tak terserikatkan!

Indonesia merdeka, kita memperingatinya! Merdeka dari apa. Mestinya dari segala ‘idol imitatif’, baik aktual maupun potensial. Pada awalnya merdeka dari penjajahan para penjajah yang kasat mata, dari luar bangsa ini sendiri. Tentu tidak serta merta merdeka dari seluruh ‘idol imitatif’, masih terlalu banyak bermunculan, oleh karena itu masih terlalu banyak yang harus kita capai.

Artinya, kemerdekaan tidak mengenal keberhentian perjalanan bangsa ini. Tetaplah bejalan, memerdekakan diri dan kedirian dari kebodohan, kemiskinan, keterpurukan, kehinaan, korup, syahwat kekuasaan yang menegasikan etika, termasuk dari ketidakbalighkan politik, dan lainnya.

Tetaplah berjalan dan berjalan sampai bertemu kembali dengan ‘Sang Idola Orijinal’, dengan Allah Swt seraya berucap “Maa Ana min al-Musyrikiin!

Capaian Ibrahim dan keluarganya, semoga akhirnya seperti itu juga bangsa ini!

Islamabad, Pakistan, 16 Agustus 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here