Imam Shalat Lima Waktu di Masjid Al-Jihad Desa Takerharjo Solokuro  Telah Meninggalkan Kita Semua

0
814
Pak Sukatim ( bawa tas) Imam yang penyabar itu telah meninggalkan kita semua.( Foto: Special)

KLIKMU.CO – Pagi ini sabtu(14/4), saya menerima kabar duka dari istri saya di Indonesia. Pak Sukatim, Imam Shalat lima waktu di masjid Al-Jihad desa Takerharjo Solokuro  telah meninggalkan kita semua.

Setelah saya konfirmasi kepada putra sulungnya, Ustadz Muslihin, kabar itu benar adanya.

Sehari-hari, Pak Sukatim adalah petani desa. Kendati demikian, kelima anaknya sudah mentas semua. Pak Sukatim orangnya pendiam. Tidak banyak bicara. Yang pasti, lelaki 68 tahun itu adalah orang yang istikamah dalam beribadah.

Puluhan tahun, sejak saya kecil, dia sudah menjadi imam di masjid tanpa absen, kecuali ada kepentingan sangat mendesak.

Sebagai imam tua, Pak Sukatim sangat tahu diri. Tidak pernah tampil ke mimbar untuk memberikan ceramah atau apa. Dia cukup mengimami shalat. Bahkan, ketika ada orang yang dianggap lebih terpelajar dari dirinya, Pak Sukatim sering mempersilakan orang itu sebagai imam.

Saya sendiri beberapa kali disuruh jadi imam, ketika kebetulan saya ada di rumah. Saya jadi berpikir, kiranya siapa setelah ini yang bisa jadi imam seistikamah beliau.

Karena itu, begitu saya terima kabar dari istri saya, hati saya luruh.

Mata saya basah. Ya Allah. Semoga ada pengganti imam seistikamah Pak Sukatim.

Terkadang kita malu, mencari orang yang pintar berkhotbah, di desa kami, tidak susah. Tetapi, mencari orang yang istikamah ke masjid, apalagi untuk menjadi imam, luar biasa susahnya. Saya peribadi sering merasa, jangan-jangan iman kita baru sebatan lisan dan pikiran?

Kita tidak tahu kapan maut menjemput kita. Kronologis meninggalnya Pak Sukatim, menurut Muslihin seperti kebiasaan imam sederhana itu. Habis jamaah Asar Pak Sukatim mesti cari rumput naik sepeda ontel.

Kebetulan saat itu merumput ke ladangnya, harus melewati jalan raya. Ketika belok di perempatan, dia ditabrak motor orang dari belakang dan terjatuh hingga kepala belakangnya membentur aspal.

Pak Sukatim tak sadarkan diri selama seminggu di RS Muhammadiyah Lamongan sampai meninggal dunia Sabtu, (14/4) pukul 10.30.

Pak Sukatim meninggalkan istri, Ibu Sutami (55) dan lima anak, yaitu Mushlihin (44), Niswatul qoiyimah (40), Rofiqoh (35), Maharani Faiqoh (28), Roudlotun Ni’mah (25).

Selamat jalan, Pak Sukatim. Semoga amal Panjenengan diterima Allah SWT dan kepribadian Panjenengan dapat kita teladani bersama.Amin.(Husnaini)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here