Indonesia Dalam Keadaan Sakit!, Sampai Kapan Terus Begini

0
560
Foto diambil dari google

KLIKMU.CO

Oleh: R Fauzi Fuadi*

Alerta! alerta!. Kini, negeri ini terancam kehilangan keadilan dan kdaulatan rakyat. Masyarakat sudah semakin muak dan lelah melihat beberapa keputusan DPR dan pemerintah yang sungguh sangat bertentangan dengan nilai, moral, dan terutama kebijaksanaan.

Akhir-akhir ini, bahtera yang bernama Indonesia mengalami turbulensi dan guncangan yang sangat besar, yang–anehnya–disebabkan oleh para pemimpin negeri yang semakin sembrono dan tak masuk akal dalam memegang penuh kendali dan mengambil keputusan yang dapat mengakibatkan bahtera itu luluh lantak.

Kita telah ketahui bersama bahwa ada banyak sekali “luka” negeri ini yang harus disembuhkan sesegera mungkin. Ada banyak sekali RUU yang bermasalah dan kontradiktif, juga problem lain yang membuat luka itu semakin kompleks, diantaranya penundaan RUU P-KS, RKUHP, krisis iklim, ancaman kebebasan pers, pemanasan global, presiden yang anti kritik, karhutla, hingga nasib kelanjutan KPK.

Pada masa-masa akhir jabatan ini mereka seolah-olah masa bodoh, tak mau bebrayan dengan aktivis HAM, lingkungan atau pakar hukum tata negara, dan seakan-akan tak mengindahkan suara rakyatnya perihal beberapa problem terkait, di mana hal ini menyangkut hajat masyarakatnya, yang pada akhirnya mereka memutuskan untuk menggarap beberapa RUU itu dengan terkesan sangat terburu-buru dan serampangan.

Dan jika kesemuanya itu disahkan–tanpa adanya perlawanan. Maka boleh jadi, mereka dan sekutunya itu akan menari kegirangan. Dan pancasila akan menjadi bayangan semu, ia tak lagi perkasa, ia hanya menjadi pajangan dinding sekolah.

Entah apa motif mereka sehingga membuat keputusan yang jelas-jelas kontradiktif itu harus disahkan segera, tanpa peduli sebab akibat yang akan ditimbulkan nantinya. Yang jelas masyarakat dengan mudahnya dijebloskan kedalam sel atau denda yang jumlahnya tak bisa dibilang sedikit. Serta para koruptor yang semakin mendapatkan keringanan karena RUU-KPK yang telah disahkan beberapa hari lalu.

Tak sedikit RUU yang lebih menguntungkan bandit berdasi, daripada wong cilik yang hidupnya tak menentu. Contohnya saja, dilansir dari mojok.co, pada pasal 9 dan 10 revisi UU Pemasyarakatan (PAS) yang memberikan hak rekreasi dan cuti bersyarat kepada napi. Ya, hak rekreasi, lur. Walaupun dengan syarat: Napi harus diikuti oleh petugas kemanapun, yang jelas napi dapat melenggang bebas dan terserah mau kemana ia pergi, yang penting bisa jalan-jalan seenak jidatnya.

Jadi, kalau mereka pengin traveling ke luar negeri atau sekadar belanja di mall, maka para napi, koruptor–yang selama ini dianggap pelaku extra ordinary crime–tak perlu sembunyi-sembunyi atau menyamarkan diri dengan wig. Jika ndilalah kok ya ketahuan, maka dapat dipastikan kita tak bisa berkilah. Lha wong dalam UU PAS sudah jelas tak mempermasalahkan hal itu?.

Nahasnya, DPR dan pemerintah telah meloloskan revisi UU PAS dan akan segera disahkan di rapat paripurna.

Bukan hanya itu. Korban perkosaan bakal dipenjara 4 tahun kalau mau mengugurkan janin hasil perkosaan (Pasal 470 (1)), pengamen yang menganggu ketertiban umum (Pasal 432) kena denda Rp.1 juta, gelandangan (Pasal 432) kena Rp.1 juta, hingga jurnalis atau netizen bakal dipenjara 3,5 tahun kalau mengkritik presiden (Pasal 218).

Demi melihat ketidak beresan di atas, maka disinilah peran mahasiswa–sebagai agent of change, social control, iron stock, dan lain sebangsanya–musti menaruh perhatiannya dan menyatakan pendapat, kritik, serta aspirasinya kepada wakil rakyat dan pemerintah agar tidak berlaku dungu dan sadar akan kerancuannya dalam berfikir dan berTuhan. Dan menyeru kepada Presiden untuk sesegera mungkin meluruskan kiblat bangsa!.

Oleh karenanya dibutuhkan langkah dan perhitungan yang cermat dan matang dalam mencermati serta memahami seluruh isi atau draft RUU yang bermasalah di atas. Dengan begitu, kita dapat meresapi dan menjadi pemicu untuk melakukan sebuah aksi dan gerakan yang terstruktur, masif, dan progresif.

Dengan begitu, turbulensi dan goncangan serta berbagai luka itu dapat diredam dan disembuhkan segera. Oleh karenanya, mahasiswa tak bisa berjalan sendirian, ia harus bergandengan tangan dan merapatkan barisan dengan seluruh elemen masyarakat, buruh, tani, PKL, nelayan, aktivis HAM, hingga jurnalis, dalam menyembuhkan luka yang semakin menganga itu.

Arkian, sejarah Indonesia adalah sejarah perlawanan mahasiswa dan seluruh lapisan masyarakat yang memiliki cita-cita bersama dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, yakni keadilan tanpa pandang bulu, kesejahteraan yang merata, dan kedamaian yang meliputi seluruh elemen negeri ini.

Tan Malaka, Widji Thukul, Marsinah, Munir, Salim Kancil boleh tiada, tapi mereka akan tetap ada dan berlipat ganda. Melawan segala bentuk kemursalan para tiran.
Salam demokrasi!, abadi perlawanan!.

*Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UINSA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here