Indonesia Sehat tanpa FPI?

0
869
Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

Oleh: Kiai Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Demokrasi dibenamkan famili-krasi.

Inilah demokrasi liberal yang cenderung liar. Oposan boleh mengkritik rezim bebas sesuka hati. Sebaliknya, rezim bebas menekan sekuat baja. Sikap represif rezim berbanding lurus dengan sikap keras oposan.

Hanya ada dua pilihan model mengelola kekuasaan, meminjam istilah Prof Mochtar Mas’oed: politik sebagai panglima atau ekonomi sebagai panglima. Agaknya rezim reformasi cenderung mengulang orde lama: politik sebagai panglima. Diukur dari banyaknya partai politik, kebebasan berserikat dan berbicara adalah indikasi bahwa politik menempati urut satu.

Reformasi adalah orde politik bukan pendekatan ekonomi atau kesejahteraan yang menjadi arus utama, jadi jangan berharap hidup enak, sembako murah di masa ketika politik menjadi panglima. Selain kegaduhan karena kebebasan berbicara dan berkerumun yang berlebih. Ini zaman ketika semua orang boleh berbicara sesuka hati dan rezim menekan sekuat baja.

Negara akan disibukkan dengan urusan perbedaan pendapat dan riuh ideologi politik dan abai pada social walfare, apalagi keadilan bagi semua. Kontrol politik makin menguat, ongkos demokrasi juga makin mahal. Politik transaksional makin menggurita. Pilpres, Pileg, Pilgub, dan Pilkada menjadi tujuan, bukan alat. Semua energi dihabiskan disana. Demokrasi dibenamkan famili-krasi.

***

FPI rontok karena pandemi: Imam besar dibui. FPI-nya dibubarkan tanpa alasan. Enam anggotanya ditembak mati. Pesantrennya dirampas. Bukan kezaliman, tapi buah demokrasi liberal ketika politik menjadi panglima.

Kebenaran politik adalah pilihan yang dipertaruhkan. Di Mesir puluhan ulama dibungkam, diktator Gamal Abdul Nasser jatuh, kemudian lahir diktator baru Anwar Sadat. Di Indonesia kurang lebih sama: para ulama juga dibui. Soekarno dijatuhkan lahir diktator baru Soeharto.

Ustadz Abu Bakar Baasyir masih dibui dan dilupakan. Allahuyarham Ustadz Abdullah Sungkar, Amrozi, Muklas, Imam Samudra, Dul Matin menjalani takdirnya. Sebagian menyebutnya mujahid, sebagian yang lain menyebutnya teroris.

***

Prof Deliar Nor pernah menyebut bahwa partai Islam habis pascafusi menjadi PPP. Nurcholish Masjid lantang berkata “Islam Yes Partai Islam No”. Perpecahan umat Islam akibat politik memang lebih mengerikan ketimbang manfaat yang didapat.

Tapi, Islam tidak bergantung pada satu atau dua ormas atau parpol tertentu atau seseorang yang diberhalakan. Islam tak bisa sirna apalagi hilang dari semesta –FPI boleh tiada. Dakwah amar ma`ruf nahi munkar tak boleh berhenti: masih ada Muhammadiyah, NU, Al Irsyad, Persis, Nahdhatul Ummah, Al Wahiliyah, dan puluhan lainnya yang tak bisa disebut. Semua telah ada, bahkan sebelum Indoenesia merdeka. Berdakwah dan beramal tidak bergantung siapa rezim berkuasa.

Imam besar boleh menyusul Ustadz Abu Bakar Baasyir dibui. Tapi, masih ada puluhan ulama mulia: Prof Haedar Nashir, Kiai Aqiel Syiradz, Habib Muhamamd Lutfi bin Ali Yahya, Habib Umar bin Hafidh, Ustadz Abdul Shomad, Ustadz Adi Hidayat, dan lainnya yang tak kalah mulia. Hidup adalah perjuangan dan jalan dakwah adalah pilihan. Begitulah hukum kekuasaan berjalan. Semua akan mendapatkan. Wallahu taala a’lam.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here