Ini Permintaan Terakhir Almarhum Joko Sustanto kepada LPCR PP Muhammadiyah

0
400
Foto Almarhum Joko Sustanto Bin Akyas damiri diambil dari menara62

KLIKMU.CO

“…Kami wakafkan tanah kami yang di Yogya untuk LPCR PP dan mohon bisa selesai urusannya sebelum saya meninggal…”

(Permintaan terakhir almarhum Mas Joko Sustanto kepada LPCR PP Muhammadiyah)

Selamat Jalan Mas Joko, Semoga Husnul Khatimah

Saya mengenal Mas Joko kali pertama ketika dia mengikuti salah satu training IPM tingkat nasional di Yogyakarta. Ketika sebagai peserta training, Mas Joko kala itu menjadi pribadi yang hangat, selalu murah senyum, dan sangat peduli pada teman. Pertemuan kedua terjadi saat saya menghadiri musyawarah wilayah IPM Lampung di Bandar Lampung tahun 1990.

Waktu itu dia masih kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Lampung sekaligus aktivis IPM Lampung. Pribadinya yang hangat, cerdas, dan selalu membuat orang lain bahagia menjadikan Mas Joko Sustanto sebagai pribadi dan calon ketua IPM paling menonjol dalam forum musywil tersebut. Akhirnya memang Mas Joko Sustanto terpilih menjadi ketua umum PW IPM Lampung menggantikan Mas Budi (terakhir Mas Budi menjabat sebagai kepala Kemenag Lampung Timur. Semoga saat ini sudah mendapat amanah yang lebih tinggi).

Dalam kepemimpinan beliau, IPM Lampung menjadi semakin maju dan berkembang disertai lahirnya kader-kader baru bagi IPM. Selepas dari IPM dan lulus kuliah, kami hampir tidak pernah ketemu lagi. (Oo…iya, selain aktif di IPM, Mas Joko juga aktif di IMM). Saya kemudian aktif di Dinas Psikologi Polri, sedangkan Mas Joko aktif juga di dunia psikologi, pelatihan/training, menjadi motivator dan inspirator, aktif di Maarif Institute sebagai Manager Program Good
Goveneer.

Ketika saya pensiun dini sebagai pamen Polri dan kemudian diamanahi sebagai direktur SDI dan BINDATRA RSIJ CP, di RSIJ inilah kami bertemu kembali karena Mas Joko dan saya sering diundang oleh Akper RSIJ dan Akbid RSIJ CP untuk memberikan kuliah, menjadi narasumber training, dan kegiatan lainnya. Pribadinya tetap sama: hangat, periang, murah senyum, menghormati senior, dan renyah kalau tertawa. Persaudaraan kami semakin akrab ketika oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mas Joko Sustanto diamanahi sebagai pengurus LPCR PP Muhammadiyah periode 2015-2020 bersama kami. Meski tinggal di Jakarta, dia berusaha selalu hadir dalam rapat rapat pleno LPCR PP dan juga hadir ketika LPCR PP ada acara di berbagai wilayah dan acara nasional.

Awal tahun 2018 kami dikabari bahwa Mas Joko sakit cukup serius dan dirawat di RS Gading Pluit. Mendapat kabar tersebut, LPCR PP mengutus saya dan Pak Rohyadi Anwar untuk menjenguknya. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa menjenguk dia. Dalam kondisi sakit Mas Joko menyambut kami dengan penuh keriangan, minta didoakan dan mohon dimotivasi. Kami ngobrol cukup lama, termasuk ingin memenuhi permintaan Mas Joko yang sudah mulai jenuh di rumah sakit dan pengin pindah ke rumah sakit lain. Alhamdulillah, Mas Joko akhirnya pindah dan dirawat di Rumah Islam Jakarta Cempaka Putih. Di RSIJ CP ini ada Pak Rohyadi Anwar selaku direktur SDM dan sama-sama sebagai pengurus LPCR PP Muhammadiyah. Setelah dirawat di RSIJ CP, Mas Joko diizinkan pulang untuk menjalani perawatan di rumah.

Siang itu Mas Joko WA saya pengin telepon. Akhirnya dia saya telepon karena ada sesuatu yang penting akan disampaikan ke saya. Akhirnya telepon tersambung. Mas Joko menyampaikan ke saya, “Mas Jamal, saya sudah musyawarah dengan istri dan anak anak. Kami sepakat, tanah kami yang di dekat Bandara Adi Soetjipto Yogyakarta yang dulu akan saya buat rumah, dengan mengharap rida Allah dan mengucap bismillahirrahmanirrahim, TANAH TERSEBUT KAMI WAKAFKAN UNTUK LPCR PP MUHAMMADIYAH dan mohon dikelola oleh LPCR PP Muhammadiyah”.

Saya pribadi kaget dan terharu. Tanah itu cukup luas, dekat bandara, dan menjadi mimpi serta keinginan beliau untuk pindah dan tinggal di Yogya. Dulu ketika tahu saya mau pindah ke Yogya, Mas Joko langsung mengungkapkan keinginannya yang juga pengin hijrah ke Yogya. Anak-anaknya juga akan disekolahkan di Yogya. Mimpi beliau itu ternyata diwujudkan. Putra-putranya di sekolah di MBS Prambanan terus lanjut ke sekolah Pribadi/Kerjasama Turki dan juga disekolahkan di Muallimin Yogya. Mas Joko juga beli tanah di Yogya. Ketika akhirnya mendapat tanah di Yogya, dia mengabari saya dengan hati berbunga-bunga.

Yang lebih mengharukan adalah kata-kata Mas Joko selanjutnya, ” Mas Jamal, mohon tanah wakaf dari kami ini segera diurus agar sebelum saya meninggal sudah selesai urusannya…”

Ya Allah, amanah itu harus segera kami/LPCR PP tunaikan. Kami bertiga, Jamal, Rohyadi Anwar, Mas Fauzi, mewakili LPCR PP langsung menindaklanjuti dengan silaturahim ke kediaman Mas Joko Sustanto sekaligus menjenguknya. Di hadapan keluarganya, Mas Joko menyerahkan sertifikat tanahnya kepada kami. Suasana begitu mengharukan. Gembira campur haru. Kami saling berpelukan erat dan menutup pertemuan dengan shalat Magrib berjamaah bersama Mas Joko.

Setelah pertemuan tersebut, segera kami melapor kepada PP Muhammadiyah. Melalui Pak Marpuji Ali, akhirnya PP Muhammadiyah menerima tanah wakaf tersebut dan langsung ditindaklanjuti sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

Waktu terus berjalan dan Allah SWT ternyata memiliki kehendak yang lain. Allah SWT ingin mengganti mimpi Mas Joko dengan sesuatu yang lebih bernilai di mata Allah. Mas Joko tidak jadi memiliki rumah di Yogya, tapi insya Allah akan diganti dengan rumah di surga yang lebih luas dan lebih indah. Tanah wakaf yang dia dan keluarga berikan pada Muhammadiyah semoga menjadi amal jariyah almarhum sekeluarga dan menjadi rumah yang indah tempat reuni Mas Joko Sustanto sekeluarga di surga. Kami akan manfaatkan tanah wakaf Mas Joko sekeluarga dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan dakwah.

Kematian itu adalah sebuah ketetapan yang sudah digariskan oleh Allah azza wa jalla kepada siapa pun makhluk yang berjiwa. Hal ini sesuai dengan apa yang tertulis dalam Al-Qur’anul karim dan tertera di banyak ayat.

Allah azza wa jalla, berfirman:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8).

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad).” (QS. Al Anbiya’: 34).

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (27)

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 26-27).Lalu …Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian …

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).

Semoga bermanfaat untuk semakin membuat kita mengingat akan kematian yang tidak akan pernah bisa dihindari (Muh. Jamaludin Ahmad, Wakil Ketua LPCR PP Muhammadiyah/Achmad San/Den Peyi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here