Inilah Perbedaan Muhammadiyah dengan NU dan LDII Menurut Kyai Tafsir

0
8034
Kyai Berkemajuan: Ustadz Drs. K.H. Tafsir, M.Ag. (berpeci putih) saat di Kajian Ahad Pagi 'Pencerah' PDM Kota Surabaya. (Foto: Andalucia)

KLIKMU.CO – Ribuan warga Muhammadiyah memadati Kajian Ahad Pagi “Pencerah” Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Suabaya di auditorium Gedung At-Tauhid Tower Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Ahad (25/2) pagi. Jamaah telah hadir sejak pukul 06.00 wib meski acara baru dimulai satu setengah jam kemudian.

Hadir sebagai penceramah pada acara tersebut adalah Ustadz Drs. K.H. Tafsir, M.Ag. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah. Tampak juga hadir mendampingi Dr. dr. H. Sukodiono, MM Rektor UMSurabaya, Dr. K.H. Mahsun Jayadi, M.Ag. Ketua PDM Kota Surabaya, Drs. K.H. Abdul Wahid Syukur Sesepuh Muhammadiyah Surabaya.

Kyai Tafsir dalam tausiyahnya banyak menyinggung hal-hal ringan dalam praktik keagamaan umat Islam. Salah satunya adalah perbedaan kultur dan amaliah warga Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Yang menarik, Ustadz Tafsir mampu mengurai sisi-sisi perbedaan tersebut dengan suasana canda tawa, sehingga jamaah dibuatnya ger-geran.

“Perbedaan pertama warga Muhammadiyah dan NU adalah kalau pengurus Muhammadiyah dan warganya itu sakit karena kurang gizi, sedang kalau pengurus NU dan jamaahnya sakit karena kolesterol,” ujar Kyai Tafsir disambut tawa hadirin. Hal itu diungkapkannya saat mengenang diskusinya dengan sang Ayah yang merupakan Kyai pesantren tradisional di Kebumen.

Perbedaan kedua Muhamamdiyah dan NU menurut Kyai Tafsir adalah kalau di NU yang kaya kyai dan muballighnya, sedang kalau di Muhammadiyah yang kaya rektor dan direktur Amal Usaha Muhammadiyah (AUM)nya.

“Kalau di NU santri dan jamaahnya sowan ke kyai bawa amplopan, minimal gula kopi. Berbeda, kalau di Muhammadiyah, warga sowan ke kyai dan pimpinannya bawa proposal,” ungkap Muballigh yang lahir dari keluarga NU tersebut.

Sedangkan, perbedaan kultur warga Muhammadiyah juga berbeda dengan warga LDII. Menurutnya, warga Muhammadiyah menyukai hal-hal yang simpel, sedang warga LDII menyukai berkumpul sesama jamaahnya, misal dalam praktek ibadah shalat Jumat.

“Warga Muhammadiyah kalau sedang safar bisa shalat di masjid mana saja, tapi yang disuka mencari masjid yang shalat Jumatnya cepat. Kalau orang LDII sedang safar yang dicari masjid LDII, makanya papan nama LDII banyak ditemukan di tepi jalan,” ujarnya yang lagi-lagi diikuti tawa hadirin.

Namun, kata Kyai Tafsir, meski terdapat beberapa perbedaan di kalangan umat Islam, perbedaan yang ada tidak perlu disikapi berlebihan, apalagi saling menyalahkan karena hal tersebut masuk wilayah pemahaman atau fiqhiyyah. (ICOOL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here