IPM Smamda-Muhipo Embrio Pemimpin Umat dan Bangsa

0
239
Kepala Smamda, Wigatiningsih. (Ernam/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – “Pandemi boleh saja meningkat, kasus juga tak kunjung melambat, namun silaturahmi harus tetap kuat, tak boleh terikat, apalagi minggat.”

Demikian mukadimah yang disampaikan oleh Kepala SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo (Muhipo) Kholil saat memberikan sambutan acara silaturahmi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Muhipo dengan IPM SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (Smamda) melalui Zoom Meeting Cloud, Jumat (29/1/2021).

Ya, Muhipo dan Smamda memang telah lama menjalin kerja sama dan ini adalah pertemuan kali kesekian yang mereka adakan. Selain sama-sama pengurus di Forum Silaturahmi Kepala SMA Muhammadiyah (Foskam), kepala Muhipo dan Smamda juga aktif di Forum Guru Muhammadiyah (FGM).

“Dulu Smamda juga pernah memberikan pelatihan sinergi building untuk guru dan karyawan Muhipo,” lanjut Kholil yang juga aktivis Hizbul Wathan ini.

Dalam hal predikat, Muhipo dan Smamda pun tidak jauh beda. Keduanya sama-sama menyandang gelar dari Dikdasmen PWM Jatim. “Muhipo menyandang gelar excellent, sedang Smamda menyandang the out standing school. Ya, sebelas dua belas lah,” kata Kholil yang lantas berharap agar hasil silaturahmi bisa diterapkan oleh IPM Muhipo.

Kepala Muhipo, Kholil. (Ernam/Klikmu.co)

Sementara itu, Kepala Smamda Sidoarjo Wigatiningsih berterima kasih atas terjalinnya silaturahmi antara IPM Muhipo dan IPM Smamda. “Ini luar biasa. Di masa pandemi tetap aktif kreatif, tidak mati ide untuk melakukan sesuatu yang baik,” papar perempuan yang juga pendekar Tapak Suci ini.

Dia menjelaskan, IPM Muhipo dan Smamda tetap melaksanakan pesan agama agar tidak berhenti hanya pada satu kegiatan apa pun kondisinya. Sebagaimana pesan Allah dalam surah Al Insyiroh. “Faidza faraghta fansob. Setelah selesai dari satu urusan, segera berpindah ke urusan lain. Tidak duduk berpangku tangan,” terang perempuan asal Lamongan itu.

Kegiatan silaturahmi ini, lanjut dia, adalah satu ikhtiar untuk mengisi waktu belajar dan bekerja dari rumah masing-masing. Silaturahmi sekaligus kolaborasi untuk saling berbagi kiat dan ide agar menjadi gerakan yang bisa dijadikan keunggulan sekolah masing-masing.

“IPM berbeda dengan OSIS. IPM sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang membidangi pelajar tidak sekadar berorganisasi, tapi sebagai wadah perkaderan agar kelak bisa melahirkan pemimpin persyarikatan, umat, dan bangsa,” jelas ibu dua anak tersebut.

Banyak sekolah Muhammadiyah tidak melahirkan kader karena IPM hanya berfungsi sebagai organisasi, belum menjadi kawah perkaderan. Karena itu, lanjut dia, IPM Muhipo dan Smamda harus menjadi alat sukses perkaderan dan memberikan sumbangan kemajuan untuk agama dan bangsa. “Sukses perkaderan tidak bisa dicapai sendiri. Harus kolaborasi seperti yang dilakukan IPM Muhipo dan Smamda,” tandas Wigati, sapaan akrabnya. (Ernam/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here