Ironi Indonesia: Kaya Raya, tapi Kebutuhan Dasar Rakyat Saja Tak Terpenuhi

0
69
Pembagian nasi oleh Lazismu Kota Surabaya dalam acara Jumah Berkah. (Habibie/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Indonesia yang kaya, gemah ripah loh jinawi, ternyata belum mampu membebaskan rakyat dari kebutuhan dasar pangan, sandang, dan papan. Hal itu disampaikan Wakil Ketua Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqoh (Lazismu) Kota Surabaya Ustadz Abdul Hakim MPdI sehabis membagikan nasi Jumah Berkah Lazismu Kota Surabaya di Wilayah Selatan Surabaya, Jumat (12/3/2021).

Abdul Hakim menambahkan, jika batas kemiskinan adalah penghasilan minimal perbulan 3 juta rupiah, lebih dari 50 persen rakyat Indonesia termasuk kategori miskin. “Mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan riil dasar berupa pangan, sandang, dan papan. Mereka tidak bisa membayar biaya pendidikan dan kesehatan serta kebutuhan dasar lainnya yang terus melambung tinggi,” katanya kepada Klikmu.co.

“Pengangguran, sempitnya lapangan kerja, dan PHK besar-besaran kian memperbesar persentase kemiskinan dan keterbelakangan. Setiap hari di berbagai sudut kota, desa, atau  kampung, akan kita dapati banyak pemulung, tukang becak, pengemis, tunawisma, tunakarya, janda, petugas kebersihan, pengemudi angkot, dan kaum marginal lainnya yang menunggu uluran bantuan,” ucapnya prihatin.

Menurut Abdul Hakim, sebungkus nasi yang mereka dapatkan melalui kerja keras atau yang mereka terima melalui para dermawan sudah cukup mengembangkan senyum mereka dengan penuh syukur.

“Inilah sebagian ironi Indonesia. Kekayaan alamnya melimpah. Tetapi tidak untuk memenuhi biaya hidup, pendidikan, dan kesehatan. Mayoritas penduduk yang diimpit kemiskinan struktural,” ucapnya lagi.

“Keberlimpahan kekayaan alam itu terbukti sebagian besar dalam genggaman segelintir pengusaha nonpri, taipan, atau kaum oligarki yang tidak memiliki empati bagi nasib banyak rakyat negeri ini,” tutur Pemred majalah Lazismu itu. (Habibie/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here