Islam dan Muhammadiyah Menyambut Negara Adidaya 2040

0
360
Super Adventure

Oleh: M. Khusnul Khuluq

Kader Muda Mudahmmadiyah

KLIKMU.CO

Tantangan yang kita hadapi hari-hari ini adalah, kita hidup di zaman dikotomik. Agama dan ilmu pengetahuan berdiri sendiri-sendiri. Islam masa lalu tidak dikotomik. Karena itu, Islam pada waktu itu bisa maju.

Hari ini, negara-negara Barat maju. Dan umat Islam mundur. Itu terjadi karena Barat menguasai ilmu pengetahuan. Dan umat Islam justru menjauhi ilmu pengetahuan (ilmu-ilmu alam). Kita cenderung sibuk dengan ilmu-ilmu sufistik.

Pada zaman Nabi, wilayah yang maju soal ilmu pengetahuan salah satunya adalah Bizantium. Apa yang dilakukan Nabi? Pascaperang, para tawanan perang dari Bizantium akan dibebaskan. Dengan syarat, mereka mengajarkan membaca pada umat Islam.

Dari situ Islam maju. Artinya, sebuah kemajuan, salah satunya, diawali dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Hari ini, umat Islam tidak berdaya karena lemah dalam hal ilmu pengetahuan. Karena itu, Islam tidak bisa berbuat banyak.

Secara teori, memang, tidak ada negara yang mampu mempertahankan kejayaan selamanya. Pada masa Nabi, tidak ada yang mengira, kerajaan besar seperti Bizantium akan runtuh. Tapi faktanya, runtuh. Kemudian kejayaan itu digantikan Dinasti Bani Umayyah.

Kejayaan Dinasti Bani Umayyah itu kemudian digantikan dengan Dinasti Bani Abbasiyah. Turki Utsmani juga begitu. Runtuh. Britania Raya sempat berjaya, juga runtuh. Hari ini, yang cenderung menjadi negara adidaya adalah negara-negara Eropa dan Amerika. Mungkin, ke depan kejayaan itu juga akan luntur.

Beberapa analis memprediksi bahwa abad 21 negara-negara Asia-Pasifik yang akan menjadi negara adidaya. Pada tahun 2050, kejayaan itu akan ada di tangan Cina, India, Amerika, dan keempat Indonesia. Jadi, berdasarkan prediksi ini, Indonesia akan menjadi salah satu negara adidaya pada 2050-an.

Dalam sebuah pertemuan di Brasil, Indonesia juga diprediksi akan menjadi negara adikuasa dalam beberapa dekade ke depan. Merespons hal itu, mantan Presiden B.J. Habibie mengiyakan.

Dengan syarat, hari ini, kita punya sumber daya potensial sebanyak paling tidak 10% dari keseluruhan penduduk. Sekitar 1,8 juta manusia potensial. Karena kunci dari kemajuan adalah kualitas sumber daya manusia.

Suatu ketika, seorang ekonom bernama Adam Smith mengemukakan sebuah teori. Bahwa, suatu negara akan maju jika punya sumber daya alam melimpah. Teori ini yang kemudian menjadi motivasi bagi negara-negara Barat untuk melakukan kolonialisasi. Karena mereka cenderung kurang dalam soal sumber daya alam. Dari situ, negara-negara seperti Prancis, Inggris, Spanyol kemudian menjadi kaya. Berjaya.

Adam Smith melahirkan teori itu setelah membaca buku-buku Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun mengambil teori itu dari Al-Quran. Dari salah satu ayat yang mengatakan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum selama kaum tersebut tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri.

Jadi, negara-negara Barat maju karena mengikuti firman Allah. Walau mereka mungkin tidak tua bahwa prinsip itu berasal dari firman Allah. Jadi, itu juga masalah kita. Bahwa kita cenderung kurang menerjemahkan firman Allah dalam kehidupan.

Pada tahun 2008, pimpinan tertinggi Iran menyampaikan bahwa umat Islam akan kembali memimpin dunia. Dan itu berawal dari umat Islam Indonesia. Karena memang, umat Islam Indonesia sangat banyak.

Dari beberapa prediksi itu, pada tahun-tahun 2040 atau 2050-an, kemungkinan besar Indonesia akan menjadi negara yang berjaya. Di mana, pendapatan negara akan mengalahkan negara-negara Eropa, Inggris, Prancis, Spanyol, mungkin sudah keluar dari 10 besar. Karena ekonomi mereka sudah merosot jauh.

Persoalannya adalah, ketika negeri ini menjadi adi kuasa nanti, siapa yang akan memegang kendali? Apakah umat Islam Indonesia akan menjadi penentu? Melihat fakta hari ini, fakta-fakta itu tampaknya kurang mendukung untuk mengatakan bahwa umat Islam akan menjadi penentu.

Dalam hal ini, seorang filsuf bernama Noam Chomsky mengatakan bahwa yang menjadi penentu dalam sebuah negara adalah orang yang menguasai sumber daya material. Yaitu pemilik kapital. Karena mereka menguasai ekonomi, dengan bisnis yang mereka kembangkan.

Apa yang dikatakan Chomsky itu, tampaknya, sesuai dengan kondisi kita hari ini. Di mana, para pemilik modal memegang pos-pos strategis negara kita. Tidak hanya itu. Persoalan lain adalah iklim politik kita yang cenderung transaksional. Hari-hari ini, untuk menjadi pimpinan daerah kota atau kabupaten, butuh dana sekitar 30 sampai 50 miliar. Untuk maju menjadi gubernur, butuh sekitar 100 miliar. Untuk maju menjadi presiden butuh biaya sekitar 10 triliun. Maka, pemilik modal itu juga masuk pada wilayah politik. Dengan itu, mereka memegang pos-pos strategis.

Beberapa waktu lalu, Mahfud MD mengatakan bahwa sekitar 92 persen peserta pilkada dibiayai konglomerat. Ini mempertegas bahwa pemilik modal juga bermain dalam politik.

Kemudian, di mana posisi umat Islam? Ada banyak unsur yang menentukan arah negara. Mulai dari agamawan, politisi, pengusaha, birokrat, profesional, pendidik, pekerja sosial, tentara dan polisi, hingga penegak hukum.

Mereka ini yang menentukan arah negara. Kebanyakan dari mereka adalah seorang Muslim. Kecuali pengusaha. Maka, wajar jika ada ketegangan.

Dalam soal politik transaksional ini, ada sebuah kutipan yang cukup menarik. Jika kamu memberi pada seseorang, kamu bisa memerintah dia. Jika kamu minta-minta pada seseorang, kamu akan jadi tawanan mereka.

Begitu juga soal regulasi. Undang-Undang Cipta Kerja yang baru disahkan beberapa waktu lalu, misalnya, cenderung berpihak pada pemilik modal. Yang nyata-nyata memegang kendali kebijakan di balik layar.

Dunia perbankan juga begitu. Dunia perbankan mengeluarkan pembiayaan sebesar 8000 T pada dunia usaha. Usaha besar dan UMKM. Di lapangan, jumlah UMKM sekitar 99,99 persen. Sisanya, usaha besar 0,01 persen. Lalu berapa jumlah dana yang lari ke pengusaha besar?

Tahun 2015, BI mematok UMKM harus menyerap kredit minimal 5% dari 8000 triliun itu. Tahun 2016 meningkat menjadi 10%. Tahun 2017 meningkat menjadi 15 %. Dan tahun 2018 menjadi 20% persen. Tahun 2019 hanya sekitar 19,1%.

Artinya, sebagian besar dari kredit yang disediakan itu diserap oleh pemilik modal. Sebagian besar pemilik modal itu nonmuslim. Akibatnya, umat Islam berada di bawah. Sementara mereka menjadi penentu.

Karena itu, sangat tampak di situ. Ada politik ekonomi yang dimainkan. Undang-Undang Cipta Kerja adalah contoh dari politik ekonomi itu. Yaitu pekerjaan politik yang akan berdampak pada ekonomi.

Kesimpulan awalnya, nasib umat Islam masih memprihatinkan. Meski secara jumlah, umat Islam mayoritas. Namun, dalam peran, umat Islam sebetulnya minoritas. Karena pos-pos strategis banyak dimainkan oleh pemegang modal. Yang kebetulan adalah nonmuslim.

Apakah umat Islam harus menyalahkan sepenuhnya pemilik modal itu? Kurang tepat juga jika kita hanya menyalahkan orang. Kita juga harus mengevaluasi diri kita sendiri. Misalnya, dengan mengajukan pertanyaan. Mengapa ekonomi umat Islam kurang maju? Salah satu jawabannya mungkin karena mental sebagian besar umat Islam kurang mendukung untuk menjadi pebisnis. Karena lebih suka menghindari risiko.

Ada satu kisah yang cukup menarik. Yakni tentang Chairul Tanjung, yang memilih menjadi pebisnis daripada menjadi dokter gigi. Menjadi dokter gigi akan menerima pendapatan sekitar 10 miliar per tahun. Namun, dengan menjadi pebisnis, kini dia punya kekayaan sekitar 60 triliun.

Hari-hari ini, tenaga kerja asing (TKA) banyak masuk ke Indonesia. Tidak ada yang bisa menghentikan. Terlebih lagi pasca disahkannya UU Ciptaker, TKA makin bebas. Karena perusahaan bisa menggunakan TKA tanpa adanya izin penggunaan TKA.

Ini akan membuat pengangguran meningkat. Terlebih lagi pascaresesi karena Covid-19. Ini menunjukkan bahwa ada yang lebih menjadi penentu. Dan itu bukan umat Islam.

Kembali ke topik kita. Indonesia akan menjadi negara maju. Dalam hal itu, umat Islam harus mengambil peran dan menjadi penentu. Tidak seperti sekarang.

Masih ada waktu menuju 2040. Dalam hal ini, Muhammadiyah ikut bertanggung jawab agar umat Islam menjadi penentu. Muhammadiyah punya banyak sekolah. Melalui itu, Muhammadiyah bisa menyemaikan benih semangat entrepreneur. Tentu tidak mudah.

Misalnya, bagaimana supaya anak didik itu yang menjalankan bisnis kantin sekolah? Satu hari dalam satu minggu itu, mereka yang mengelola kantin. Mungkin, ini akan menjadi pengalaman bisnis bagi mereka. Dengan harapan, bisa menanamkan mental entrepreneur pada anak. Ini contoh kecil.

Umat Islam di Indonesia banyak. Terbagi menjadi banyak kelompok. Di berbagai ormas, dengan jumlah ormas ada puluhan. Tapi, dari sekian banyak itu, yang sangat potensial adalah NU dan Muhammadiyah. Karena itu, mau tidak mau Muhammadiyah harus berperan.

Kita tahu, Muhammadiyah punya banyak amal usaha di berbagai sektor. Dan secara legal, amal usaha itu milik Muhammadiyah. Bukan milik orang-orang Muhammadiyah. Artinya, Muhammadiyah cukup punya potensi dalam hal ini.

Dalam hal ini, paling tidak ada lima poin penting di Muhammadiyah dalam konteks ekonomi. Pertama, iuran anggota. Kedua, iuran amal usaha. Ketiga, zakat, infaq, dan sadaqah. Kempat, manajemen dana simpanan. Kelima, efisiensi. Ini adalah pos-pos yang sangat potensial di Muhammadiyah.

Jika pos-pos itu dikelola dengan baik, akan semakin mengembangkan potensi Muhammadiyah. Namun, sejauh ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh Muhammadiyah. Jika pos-pos itu dikelola dengan baik, ini akan menjadi lompatan yang luar biasa. Dan selanjutnya, ekonomi umat akan berkembang.

Soal efisiensi saja, misalnya. Muhammadiyah punya banyak perguruan. Mulai dari sekolah sampai universitas. Selama ini, perguruan Muhammadiyah itu melakukan pembelian secara parsial. Sendiri-sendiri. Dalam banyak hal. Mulai dari keperluan kantor sampai sarana dan pra sarana.

Kita bisa bayangkan, bagaimana jika banyak perguruan Muhammadiyah itu melakukan pembelian secara bersama-sama. Dan dalam jumlah besar. Maka akan terjadi menghemat yang banyak. Karena pembelian dalam jumlah sedikit lebih mahal dari pada pembeli dalam jumlah besar. Ini makna efisiensi.

Jadi. Jika ingin Islam berjaya, Muhammadiyah harus bergerak memajukan ekonomi dan bisnis. Muhammadiyah harus mengambil peran supaya ekonomi umat bangkit.

Kembali pada ayat di atas. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika mereka tidak berusaha mengubah nasib mereka sendiri. Dalam hal ini, Muhammadiyah sedang dalam usaha untuk merubah diri.

Hari-hari ini, Muhammadiyah sedang mengembangkan amal usaha di luar negeri. Di Australia, misalnya, Muhammadiyah sudah membeli lahan. Juga direncanakan akan membeli salah satu gedung sekolah. Ini akan difungsikan menjadi sekolah Muhammadiyah nantinya.

Di Malaysia juga begitu. Bahkan, mereka membantu Muhammadiyah untuk mendirikan sekolah di sana. Ini adalah langkah awal agar Muhammadiyah menjadi gerakan Islam yang mendunia. Kita semua memimpikan Muhammadiyah akan punya banyak aset penting di berbagai penjuru dunia.

CATATAN:

Ulasan ini diolah dari notulensi webinar kuliah singkat oleh Dr H Anwar Abbas MM MAg, dengan moderator Abu Jahid Darso Atmojo Lc LLM PhD, host Sapuan SHI MH, dan notulen M. Khusnul Khuluq SSy MH. Kajian ini dilakukan pada hari Sabtu, 14 November 2020, pukul 19.00 hingga 21.00. Selain para hakim, peserta kali ini juga dihadiri oleh beberapa dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here