Islam Kafah Bukan Dicapai, tapi Dicari

0
171
Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

Oleh: Kiai Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

“Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan sebilah pedang,” begitulah kata Yesus yang termaktub dalam Matheus (10:34).

Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mengucapkan Lailaha illa-Allah, Rasulullah saw dalam riwayat Thurmudzi.

***

Amerika adalah tanah air Kristen sebelum dikuasai ‘Si Lain’. Lantas orang mengambil jalan kekerasan untuk menapak jalan Tuhan. Timothy McVeigh mengamuk. Sebanyak 168 orang mati. Lima ratus lainnya luka parah. McVeigh yang tergabung dalam laskar Tuhan itu berpendirian tentang musuh Tuhan yang harus dikalahkan.

Banyak orang tak cakap melihat realitas kebenaran lantas memandang yang berbeda sebagai musuh. McVeigh salah satunya dan ribuan lainnya tersebar di berbagai agama dan idelogi. Demikian Mark Juergensmeyer, guru besar sosiologi dari Universitas California Santa Barbara, dalam sebuah buku yang ditulisnya dengan teliti, “Terror in the Mind of God.”

Ada sebagian yang menganut pemutlakan nilai, bahwa iman tak bisa disentuh, apalagi ditawar. Ia lupa bukan dirinya yang sempurna, tapi Islam. Bukan dirinya yang tinggi atau mulia, tapi Al-Quran. Bukan dirinya yang mulia, tapi Muhammad saw. Jadi, Islam kafah bukan dicapai, tapi dicari . tidak satupun berhak mengklaim telah mencapai kafah selain nabi.

Perjuangan ini perlu karena Amerika telah diperintah oleh “sekularisme” yang dibangun oleh komplotan Yahudi dan para intelektual progresif untuk menghabisi kemerdekaan “masyarakat Kristen”. Rohaniawan Pierce membenarkan kekerasan untuk mencapai kesempurnaan tatanan moral.

***

Keadaan jiwa yang terancam memang bahaya. timbul sikap nekat menerjang membabi buta. Apalagi dibakar marah karena agama. Menabalkan diri senagai laskar Tuhan, semacam Paderi berani mati di jalan tuhan, meski sering hanya menjadi martir karena kemarahan sesaat.

Kristenisasi islamisasi pemurtadan kerap mengancam pikiran meski realitasnya tidak sekeruh yang dibayang. Tapi cukup membuat orang berbuat di luar nalar. Gambaran muram tentang Amerika yang dikuasai ‘si lain’ telah melahirkan banyak kelompok kecil tapi beringas seperti Al-Qaeda atau ISIS di timur tengah, mereka juga membangun kamp militer untuk latihan dan menunggu giliran menjadi manten yang siap meledakkan dirinya.

Syetan diciptakan sebagai musuh, tapi bukan untuk dubunuh. Orang Yahudi, Nasrani, Hindu, Buddha, Shinto, Zoroaster, dan 4.300 agama lainya bukan untuk saling menerkam atau memangsa satu sama lainnya. Hanya Islam yang benar dan kafah, tapi bukan berati hanya Islam yang boleh tinggal.

Buku “Terror in the Mind of God” menjelaskan bahwa Agama kerap menjadi picu pemutlakan nilai. Hanya Islam yang benar yang lain salah dan tak boleh ada. Ironisnya agama juga membenarkan kekerasan atas nama nahi munkar untuk menegakkan tataran moral yang disebut syariat.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here