Isra Mikraj dan Agama Sains

0
229
Foto istimewa

Oleh: Ahmad Faizin Karimi *)

KLIKMU.CO

Peristiwa ini fenomenal, sekaligus kontroversial. Tidak hanya saat disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW saat itu. Kepada kaumnya yang meragukan kenabiannya karena belum punya riwayat dengan Masjid Aqsa–tempat suci yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim, bapak para nabi di tanah semit.

Pengisahan Isra menjadi fenomenal karena meletakkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh sentral dalam deretan nabi lain (melalui bagian Rasulullah menjadi imam salat di Masjid Aqsa). Kita tahu bahwa sejak Nabi Ibrahim, nabi-nabi kaum Semit diturunkan dari jalur Ishak. Narasi Isra Mikraj memasukkan Nabi Muhammad yang lahir dari jalur Nabi Ismail dalam kesatuan nabi-nabi yang lain. Hal ini penting, apalagi bagi kaum Arab yang sangat memperhatikan silsilah. Penjelasan sosial politik atas peristiwa Isra Mikraj bisa anda baca pada buku Muhammad: Prophet for Our Time dari Karen Armstrong.

Barangkali soal Isra, tidak terlalu kontroversial lagi bagi manusia modern. Bahwa saat kisah itu diceritakan kemudian banyak orang yang meragukan kebenaran tentang bisanya seorang manusia menempuh jarah 1.500 kilometer dalam semalam, tentu cukup wajar memahami ketidakpercayaan mereka. Katakan dengan kecepatan rata-rata unta 25km/jam, perjalanan bolak-balik sejauh 3 ribu kilometer itu baru selesai dalam 120 jam (5 hari) tanpa istirahat.

Sangat wajar kaum Quraisy mengolok-olok Rasulullah. Bahkan meski mereka tidak memusuhi dan membenci pun, mereka cukup alasan untuk menertawakan pengakuan Nabi Muhammad saw. Pengisahan Isra Mikraj ini pun membuat hanya pengikut yang memiliki keimanan tinggi yang masih percaya pada Nabi Muhammad SAW.

Dan inilah justru salah satu problemnya. Kisah Isra Mikraj kerap menjadi contoh kasus yang disodorkan penganut “Agama Mistis” untuk menanamkan paradigma “tidak semua ajaran Islam bisa kamu logikakan”. Isra Mikraj dan beberapa mukjizat dari nabi-nabi lain yang sesungguhnya sarat muatan sains, malah dicerabut dari pesan-pesan ilmiahnya.

Tentu bagi orang modern, bagian Isra sudah bukan di luar nalar lagi. Dengan kecepatan pesawat penumpang standar, perjalanan Pulang-Pergi Masjid Haram ke Masjid Aqsa bisa ditempuh dalam 4,5 jam. Apalagi pakai Concorde, bisa hanya 2 jam saja.

Bagian Mikrajnya yang masih menjadi kontroversi. Bahkan secara ilmiah, perjalanan ke luar angkasa untuk saat ini butuh waktu yang lama. Cak Neil saja ke bulan butuh waktu 9 hari. Maka, sama seperti saat peristiwa ini dikisahkan Rasulullah 1.401-an tahun yang lalu, orang terbelah menyikapi kisah ini. Sebagian yang berpikir ilmiah menolaknya, sebagian yang mengamini memilih untuk menyingkirkan penjelasan ilmiah.

Ini sangat disayangkan. Karena mukjizat, bagaimanapun detail kebenaran proses terjadinya dulu, harusnya dipandang sebagai sebuah tantangan. Mengabaikan perspektif ilmiah pada mukjizat artinya mencerabut bagian paling penting dari mukjizat: tantangan untuk menirunya. Sebagaimana kajian agama memandang mitos sebagai tindakan paradigmatik, mukjizat pun harus dan harus kita ulangi, tidak sekedar kita imani.

Mukjizat kelahiran Nabi Isa sudah bisa dijelaskan secara medis. Mukjizat Nabi Ibrahim dibakar tidak hangus sudah bisa ditiru melalui penemuan Gel Anti-Api, Mukjizat Nabi Musa tongkat jadi ular bisa ditiru menjadi robot ular yang bisa dinonaktifkan dengan menekan tombol tertentu, dan sebagainya. Saya bisa kaitkan hampir semua mukjizat dengan penemuan ilmiah.

Kembali, bagaimana dengan Mikraj? Tentu tidak bisa dijawab sekarang bukan berarti tidak bisa dijawab selamanya. Meski clue-clue untuk itu sudah ada.

Misalnya kendaraan untuk Isra yang disebut Buraq itu, bisa kita anggap tantangan untuk menciptakan pesawat super cepat. Apakah Sidratul Muntaha itu adalah horizon peristiwa? batas alam semesta? apakah pintu langit yang dijaga para nabi itu adalah lubang antar pararel universum? apakah perjalanan itu menggunakan kecepatan melebihi cahaya sehingga jika dimasukkan rumus relativitas maka satuan waktu menjadi imajiner? semua ini secara konseptual memungkinkan.

Bahwa tidak semua detailnya bisa dipahami, tentu itu akan menjadi proses yang harus kita ungkap. Ilmu pengetahuan tidak berpretensi untuk membuktikan semua hal saat ini. Dan hal-hal yang belum bisa dibuktikan bukan berarti tidak nyata. Inilah prinsip probabilitas, ilmu hanya memberikan kemungkinan bukan kepastian. Apakah 1 + 1 itu pasti 2? kemungkinan besar iya, jika variabel karakteristiknya bisa dianggap identik.

Jadi ringkasnya, selagi kita mengingat Isra Mikraj maka ingatlah pesan tersembunyinya: bahwa mukjizat itu harus kita tiru. Bukan sekedar secara teologis: salat itu meniru isra mikraj, tapi secara teknologis juga: ciptakan alat yang punya “sulthan” untuk menembus langit. Belajar, jangan hanya sibuk bertengkar. (*)

*) Pegiat Literasi, peneliti Faqih Usman Center

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here