Jalaludin Rakhmat: Pak Amien Orang Jujur, Mari Kita Bantu

0
883
Amien Rais saat di gedung KPK, Jakarta, (29/10/2018). (ANTARA)

Oleh: Kiai Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Perbedaan pendapat di antara para ulama, cendekiawan, dan tokoh pemikir itu hal lumrah. Mereka tetap saling berguru dan bersahabat meski pendapat mereka kerap musuhan.

Imam Abu Hanifah dan Imam Malik para pendiri mazhab Hanafi dan Maliki yang Sunni berguru kepada Imam Ja’far Ash Shadiq, Imam ke-6 dalam tradisi Syiah. Begitu pula dengan Cak Nur, Gus Dur, Pak Amien Rais, dan Kang Jalal. Empat maestro cendekiawan tanah Jawa ini tetap bersahabat meski berbeda pandangan.

Bahkan, Pak Amien meresmikan sekolah Muthahhari yang didirikan Kang Jalal. Hanya orang jahil yang apabila berbeda pendapat dilanjutkan adu urat leher.

***

Pada saat itu, di tahun 1998 di depan ratusan mahasiswa, Kang Jalal mengatakan, ”Pak Amien Rais adalah orang baik. Ia jujur. Dalam politik, orang jujur sering kali tidak beruntung. Oleh karena itulah kita harus membantu.”

Kang Jalal memprediksi bahwa upaya Amien Rais ”running for power” tak akan berjalan mulus. Terbukti, ia gagal beberapa kali dalam pilpres.

Dalam buku Meraih Cinta Ilahi, Kang Jalal mengajarkan pentingnya berpikir positif. Ia mengutip hadis Qudsi: Anna inda zhanni ‘abdi bi. ‘Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku pada diri-Ku’.

Mengutip Iqbal, ia menegaskan manusia adalah co-creator, ”kawan” Sang Pencipta. Manusia menciptakan kenyataan melalui pikirannya. Kenyataan yang dikehendaki manusia bisa digapai melalui pikiran-pikiran positif tentang Tuhan.

Secara tidak langsung, Tuhan meminta kita untuk selalu berpikir positif tentang diri-Nya, dan memang begitulah seharusnya. Wajah Tuhan dengan kasih dan sayang-Nya jauh lebih nyata dibanding kemurkaan-Nya. Keagungan Tuhan dengan kemahalembutan-Nya jauh lebih memancar.

Bila manusia berpikir negatif tentang dirinya, yang akan ia rasakan adalah kesulitan, siksaan, dan penderitaan. Bila ia berpikir positif, ia akan merasakan kesenangan, ketenangan, kesehatan, dan kebahagiaan. Hal ini kembali ditegaskan Kang Jalal dalam buku Meraih Kebahagiaan.

Membaca pikiran pikiran cerdas Kang Jalal butuh kelapangan dada dan kedalaman pengetahuan. Tak berasa pikiran pikiran sufistiknya digemari banyak kalangan mahasiwa meski ia menganut Syiah, tapi siapa peduli. Bagi penimba ilmu tak penting dari mana ia berasal.

***

Kalau ditimang-timang semua aliran dan manhaj tak ada yang sempurna. Sunni dan Syiah juga melakukan banyak peyimpangan.

Pada kalangan Sunni juga tak sedikit yang masih menyembah kuburan, wali yang dikeramatkan, bahkan ada yang masih berguru kepada Nyi Roro Kidul Ratu pantai selatan meski tata cara ibadahnya menganut madzab Imam Syafi’i.

Syiah pun sama. Penyimpangan kerap terjadi di kalangan Syiah tradisionalis, bahkan ada yang menganggap Ali ra sebagai nabi dan imam-imamnya ma’shum terjaga. Termasuk kebenciannya kepada sahabat-sahabat besar ahli surga.

Salafi-Wahabi yang mengaku Islamnya paling Sunni pun tak luput dari penyimpangan. Pada tataran konseptual, trilogi rubbubiyah, uluhiyah dan ubudiyah pun disoal mirip trinitas yang diyakini Kristen.

Meski mengaku Sunni, realitasnya juga berbeda dengan tradisi Sunni yang lain, bahkan saling mentahdzir. Pembagian ulama ahli bidah, ahli subhat, dan ahlu sunah semakin memperkuat bahwa dalam tradisi Sunni pun tak lepas dari pertengkaran dan konflik.

Lantas, apakah mimpi tentang bersatunya umat Islam dalam satu kekhilafahan masih relevan mengingat potensi konflik dan perbedaan begitu besar.  semua ini bagian dari ‘rencana besar’ Tuhan menciptakan manhaj, ideologi, aliran agar masing-masing berlomba-lomba berbuat bajik dan masuk surga sesuai niat dan amal perbuatan dengan tidak melihat apakah beraliran Sunni, Syiah, Wahabi, atau lainnya. Wallahu ta’ala a’lm.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here