Jalan Terjal Mengejar Beasiswa ke Polandia

0
100
Muhammad Yusril Hasanudin saat di Polandia lewat beasiswa Erasmus Mundus. (Foto pribadi/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Mendapat kesempatan untuk kuliah di luar negeri merupakan impian semua orang, tak terkecuali Muhammad Yusril Hasanudin. Ia telah bermimpi untuk berkuliah di luar negeri sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Sayangnya, harapannya pupus ketika tidak mendapatkan izin dari orang tua untuk melanjutkan studi sarjana di Turki.

Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, ia lalu mengiyakan saran kakaknya untuk menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengikuti jejak sang kakak. Yusril ingat kakaknya pernah berkata bahwa salah satu hal menarik dari UMM adalah kerja sama internasionalnya yang luas. Laboratorium informatikanya juga memiliki fasilitas yang sangat lengkap dan terbuka 24 jam untuk mahasiswa.

Awalnya, kata Yusril kepada Klikmu.co, dirinya tak mengira bisa pergi ke Polandia dengan beasiswa dari Erasmus Mundus tahun ini. Situasi pandemi membuat panitia memundurkan pengumuman dan keberangkatan para mahasiswa hingga tahun depan. Namun, tiba-tiba Yusril mendapat kabar bahwa dirinya berhasil mendapatkan beasiswa dan pergi ke Lublin University of Technology Polandia dalam hitungan minggu.

Proses persiapan keberangkatan Yusril ke Polandia tak semulus yang dibayangkan. Asisten laboratorium fakultas teknik informatika ini ternyata menemui berbagai kendala. “Biasanya untuk persiapan keberangkatan memerlukan waktu dua bulan untuk mengurus visa dan izin tinggal di Polandia. Selain itu, harus menyiapkan hasil swab test. Namun, dengan berbagai usaha yang telah saya lakukan, akhirnya semua dokumen dapat terselesaikan,” cerita mahasiswa kelahiran Bali tersebut.

Bukan kisah yang menarik jika tidak menemui banyak kendala. Begitu pun dengan kisah Yusril. Usai melengkapi dokumen, ia harus menyiapkan dana yang tidak sedikit untuk keberangkatan. “Biaya keberangkatan memang ditanggung pihak Erasmus Mundus, tapi nanti saat saya sudah sampai di Polandia,” kenang anak bungsu dari tiga bersaudara itu.

Tidak berhenti sampai di situ, ia kembali harus menerima kenyataan tidak bisa berangkat bersama dua temannya karena mereka kekurangan dokumen. Alhasil, Yusril harus pergi ke Polandia seorang diri. Belum lagi jarak antara bandara di Polandia dan asramanya sangat jauh.

“Beruntung, berbekal Google Translate, saya mencapai asrama dengan selamat,” ujarnya.

Sekarang Yusril sedang menikmati masa perkuliahannya di Polandia. Bersama kedua temannya, Yusril ingin mempelajari berbagai macam hal baru yang mungkin tidak bisa ia dapatkan di Indonesia. Kemudian membagikannya saat pulang nanti. (Candra/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here