Renungan Pendidikan di Masa Pandemi: Jangan Sepelekan Guru

0
295
Foto diambil dari Republika

KLIKMU.CO

Oleh:  Irnie Victorynie*

Menjadi seorang guru, bukan perkara mudah. Untuk menyandang profesi guru tidak bisa didadak, melainkan perlu proses. Salah satu prosesnya yaitu mengenyam masa pendidikan di fakultas keguruan, dimanapun kampusnya.

Bangga sekali pada generasi muda yang dengan tulus melanjutkan kuliah ke fakultas keguruan. Apalagi, memang sejak lama bercita-cita ingin menjadi guru. Karenanya, setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas, lalu melanjutkan menimba ilmu di fakultas pencetak calon-calon guru.

Sebaliknya, sedih sekali ketika mendengar, ada segelintir anak muda yang memilih kuliah di fakultas keguruan karena pelarian. Maksudnya, semula dia ingin kuliah di program studi tertentu, yang kelak akan berprofesi sesuai dengan harapannya. Namun, karena tidak diterima saat ujian masuk perguruan tinggi, lalu banting stir kuliah di fakultas keguruan. Dengan dalih, tidak apa-apa masuk fakultas keguruan, daripada tidak kuliah sama sekali. Toh menjadi guru kan gampang.

Sungguh prihatian mendengar ada fenomena begitu. Padahal memilih untuk berprofesi guru tidak boleh karena terpaksa, apalagi pelarian. Justru, menjadi calon guru harus dengan segenap jiwa. Karena, menjadi guru bukan hanya perkara mentransferkan ilmu pengetahuan saja kepada peserta didik. Kalau hanya sekedar memberikan ilmu, anak-anak tanpa bersekolahpun bisa. Di rumah, mereka bisa akses internet, beragam ilmu bisa dicari dan ditemukan sesuka hati mereka.

Nyatanya, peran guru tidak sesimpel itu. Guru harus punya rasa sabar dan telaten dalam menemani dan mendampingi peserta didik dalam belajar. Tidak semua anak memiliki kecerdasan yang sama. Pasti beragam. Masalah terkait peserta didikpun bervariasi. Di situlah, guru yang memiliki jiwa pendidik teruji. Selain itu, guru harus menyayangi peserta didik. Mengajar dengan penuh kasih sayang tentu akan berbeda rasa penerimaannya oleh peserta didik. Buktikan saja.

Ada cerita lain lagi. Dulu, saya pernah bertanya pada seorang mahasiswa yang sedang kuliah menjadi calon guru. Saya bertanya, apa motivasinya masuk kuliah di fakultas keguruan. Lalu ia menjawab, sebenarnya ingin masuk ke fakultas lain, tapi disuruh oleh orang tua untuk masuk fakultas ini. Waduh, jawaban ini cukup mengusik ketenangan saya.

Lagi-lagi, menjadi guru tidak boleh dipaksa. Sebaiknya atas ketulusan dan keinginan dari peserta didik sendiri. Karena, bila menjadi guru dengan diiringi rasa tulus dan ikhlas, maka ia akan menjalani tugasnya dengan senang hati dan ringan hati. Sehingga, apabila mengalami tantangan atau hambatan selama mengajar dan mendidik anak-anak, akan lebih mudah mengatasinya, dan tidak cepat putus asa.

Jadi, sebaiknya tidak menyepelekan profesi guru, karena nyatanya menjadi guru tidak sepele dan tidak simpel.

*Kandidat Doktor IIUM,
Dosen Universitas Islam 45 Bekasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here