Jawab Tantangan Ketahanan Pangan di Masa Pandemi, UMM Kembangkan Padi 400 Bulir Per Batang

0
123
Varietas padi UM2-400 yang dikembangkan dosen dan mahasiswa UMM. (Huma UMM/KLIKMU)

KLIKMU.CO – Turut menjawab tantangan ketahanan pangan keluarga di masa pandemi Covid-19, dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi mengembangkan produk unggulan. Salah satunya mengembangkan padi unggulan dengan 400 bulir padi per batang.

Lazimnya, satu batang pohon padi berisi 125-200 bulir saja. Namun, melalui teknologi yang dikembangkan tim Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), satu batang bisa sampai 400 bulir padi. Pengembangan itu dipelopori Dr Ir David Hermawan, Dr Ir Wahono, dan mahasiswa.

April lalu sudah panen perdana. UMM memberi nama varietas padinya UM2-400. Padi varietas baru dengan kode UM2-400 ini merupakan silangan dari beberapa padi varietas lokal di Jawa Timur. ”Mulai pembibitan benih x, pengolahan tanah seperti pupuk yang digunakan juga organik. Kemudian, supporting karena tidak pakai pestisida, penyemprotannya memakai teknologi drone,” jelas David.

Namun, dia memilih tidak menjawab jika ditanya terkait dengan jenis varietas beras yang disilangkan. Namun, dia menyebut bibit hasil dari kawin silang 4 varietas padi. “Kalau jenis apa sama apa, rahasia dong,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan bahwa bibit yang mereka kembangkan adalah bibit unggul yang tahan hama. Selain itu, batangnya kuat dan tahan angin. “Kan sering tuh, banyak gagal panen karena padi yang ambruk. Jadi, kami coba kembangkan kearah itu. Selain itu, bulir yang kami kembangkan rata-rata di atas 400. Jumlah ini lebih banyak dari varietas padi lainnya yang hanya 125-200 bulir per batang. Kini kami mengembangkan 600 bulir dan 700 bulir,” ujar dia.

David membeberkan, untuk menghasilkan beras kualitas bagus, tak hanya diperlukan pembibitan yang baik. Tetapi diperlukan pula pengolahan lahan dan pupuk yang bagus. “Kami memakai pupuk cair, juga pupuk kandang yang dibuat oleh para mahasiswa yang praktikum,” sebutnya.

Beras varietas unggul yang dikembangkan FPP itu ditanam di area persawahan milik UMM di daerah Tegalgondo, Kabupaten Malang. Dia menjelaskan, kelebihan dari varietas ini adalah produksinya yang dapat lebih banyak dari produksi pada umumnya. Sementara untuk masa panen sama: sekitar 105 hari.

“Ini bisa sampai 2-3 kali produksi dari jenis biasa. Kalau nasional kan biasanya standar 5,1 ton per hektare. Kalau pakai varietas ini bisa 12 ton per hektare, dengan biaya produksi lebih murah Rp 15 juta per hektare. Kalau pertanian konvensional rata-rata Rp 20 juta per hektare,” jelasnya.

Karena itu, dia berharap nantinya varietas ini bisa menunjang swasembada pangan. “Jadi, kalau pemerintah mau, tidak perlu impor beras dan mengurangi devisa negara. Jadi, kita bisa menghasilkan produk produktivitas tinggi dan sehat karena tidak menggunakan pupuk kimia,” ungkapnya. (Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here