Jelang Seabad Berdirinya Cabang Muhammadiyah Surabaya, AMM Gelar Kajian Perdana Sapu Kawat

0
154

KLIKMU.CO – Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya bersama Angkatan Muda Muhammadiyah Kota Surabaya menggelar kajian yang cukup aktual guna memberikan penguatan kepada kader muda Muhammadiyah. Acara ini bersamaan dengan momen Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.

Kajian Sapu Kawat yang bertema “Isro’ Mi’roj dan Spirit Kepemudaan dalam Prespektif Islam Sosial dan Ilmu Alam” menghadirkan narasumber Muhammad Raqib SS MA yang merupakan kandidat doktor di Frankfrut (Germany) dan Agus Purwanto DSC, penulis buku Ayat-Ayat Semesta. Kajian dipusatkan di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah pada Kamis malam (4/4).

Ketua Majelis Pendidikan Kader PDM Surabaya Andi Hariyadi
memaparkan, pada 1920 KH Ahmad Dahlan bertabligh di Surabaya. Di antaranya dihadiri Mas Mansyur yang begitu kagum atas kesederhanaan dan luasnya ilmu beliau.

Kemudian, pada 18 November 1921 berdirilah Cabang Muhammadiyah Surabaya dengan ketuanya KH Mas Mansyur. KH Ahmad Dahlan memberikan julukan kepada beliau “Sapu Kawat”. Dari semangat itulah menjelang seabad dakwah Mas Mansyur di Surabaya, AMM Surabaya berusaha berkontribusi atas paham keagamaan yang mencerahkan, integritas keilmuan yang berwawasan luas, dan wawasan kebangsaan yang mampu menguatkan NKRI.

Implikasi Isra Mikraj tidak hadir dalam ruang kosong, tetapi ada alasan-alasan yang menyertainya, seperti adanya ketegangan politik dengan kaum Qurays seperti ketimpangan sosial. Di sinilah peran pemuda diharapkan mampu berkontribusi atas persoalan-persoalan kekinian. Gus Pur, panggilan akrab Agus Purwanto D.SC, menggugah semangat peserta diskusi dengan memapar fenomena alam semesta.

“Ilustrasi Isra Mikraj itu begini. Anggap Rasul Saw mikraj mulai jam 20.00 dan nyampe Makkah lagi jam 04.00. Berarti 8 jam perjalanan pulang pergi,” kata Agus.

Menurut Gus Pur, ekali jalan 4 jam.
Jika Rasul Saw mikraj bersama Buroq (kilat), jarak yang ditempuh dalam 4 jam adalah 4x60x60x300.000 km = 4.320.000.000 km.

“Belum nyampe Neptunus, masih kurang 15.000.000 km lagi. Artinya Rasul Saw belum keluar sistem tata surya jika mikraj dengan kecepatan cahaya sekalipun,” terangnya.

Belum lagi, dampak kecepatan tinggi bepergian ke ruang angkasa tanpa penutup kepala, tanpa helm tentu peluang masuk angin sangat tinggi, demikian juga kelilipen atau kena debu.

“Singkat cerita, penjelasan relativitas khusus untuk Isra Mikraj tidak memadai dan harus dijelaskan dengan cara lain,” jelasnya.

Gus Pur kemudian mengumpumakan balon dan semut. Permukaan balon adalah ilustrasi alam semesta 2 dimensi lengkung dengan kelengkungan positif. Potongan kertas yang ditempel ibarat galaksi yang terus berjauhan saat balon membesar. i
Inilah the expanding universe.

Anggap semut adalah makhluk 2 dimensi yang hanya bisa melihat ke depan dan kanan-kiri. Misalnya ada 2 semut -sebut semut S dan semut T- janjian untuk bertemu di suatu tempat di alam semesta balon 2 dimensi.

Kedua semut pun berjalan menuju ke lokasi yang telah disepakati. Ketika keduanya sudah cukup dekat dan bisa saling melihat, tiba-tiba semut T terlempar ke luar permukaan balon. Semut S pun kaget dan melihat ke kanan dan ke kiri, ditunggu sampai beberapa lama tidak ketemu juga. “Ke manakah semut T?” tanyanya.

Permukaan balon adalah alam semesta 2 dimensi lengkung. Ruang di dalam bola adalah dimensi lain atau dimensi lebih tinggi di luar dimensi balon. Demikian pula ruang di luar permukaan balon adalah ruang atau langit dimensi lebih tinggi.

Ketika semut T terlempar dari permukaan balon ke ruang di luar balon, berarti semut T masuk dimensi lain. Semut S melihat semut T menghilang, bukan bersembunyi di balik bebatuan atau perbukitan, tetapi lenyap karena masuk dan menembus ruang berdimensi lebih tinggi.

Mikraj adalah perjalanan menuju Sidratul Muntaha di dimensi lebih tinggi. Rasul Saw lenyap menembus dimensi lain. “Pengetahuan kita hanya sampai di sini. Indra dan akal kita hanya meliput ruang waktu material. Selebihnya adalah wilayah wahyu,” tuturnya. (Andi H./Achmadsan)

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here