Jihad di Muhammadiyah Itu Berbayar

0
679
Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Di Muhammadiyah tak ada anggaran bikin tandu buat menyambut pemimpin. Isu egaliter lebih dominan dibanding tentang mulianya nashab. Semua dilihat sama, bergantung prestasi. Yang paling mulia di antara kami adalah yang paling bertakw. Sebab itu di Muhammadiyah tak ada habib, syaryf, atau sayyid.

Isu tentang kesejahteraan sosial  (social walfare), pendidikan berkualitas, demokrasi, keadilan, kesenjangan sosial, dan toleransi lebih dominan dibanding dengan isu-isu sektarian dan SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).

Sejak awal Kiai Dahlan menolak formalisme dan strukturalIsme. Sebab itu, beliau pernah menolak ketika beberapa santrinya mengusulkan agar ‘sopo tresno’ diubah menjadi sebuah organisasi: ”nanti engkau akan sibuk ngurus organisasi ketimbang pergerakan”.

Muhammadiyah memberi ruang spesial bagi kadernya untuk berkompetesi, berlomba-lomba berbuat bajik, fastabiqul khairat menjadi salah satu jargon paling populer dan diminati dibanding menjadi paderi atau pasukan berani mati.

***

Bukan nyawa tapi harta. Kami juga berani mati, tapi ada saatnya. Jihad tak melulu setor nyawa, bahkan harta lebih perlu dan didahulukan. Allah berfirman: ‘Berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”(At-Taubah 9:20)

Muhammadiyah menghargai kerja keras, ikhlas ,dan tulus. Para ulamanya bersahaja. Tidak berharap sanjungan puji. Hampir semua menyerahkan harta, tanah, rumah, dan uang untuk persyarikatan dan tak satu pun terpikir membawa kembali pulang meski triliunan aset telah diusahakan.

Jangan dikira kami tak berani mati. Jika sudah waktunya, semua akan kami beri, termasuk jiwa dan nyawa. Harta saja kami berikan, apalagi nyawa. Jadi, jangan pernah ragukan girah jihad kami. Jihad kami berbayar. Harta benda kami serahkan, baru nyawa.

***

Max Webber menulis apik tentang etika Protestan dalam sebuah risetnya, ‘Die Protestantiesche Ethik Under Geits Des Kapitalismus.

Yang fenomenal yang melahirkan semangat kapitalisme: orang Kristen puritan yang disebut Webber ini begitu kuat memengaruhi perilaku kapitalisme Eropa. Kerja keras, kompetitif, hemat, produktif, dan suka memberi.

Syekh Maulana Muhammad Zakariya Al Khandahlawi mengisahkan dalam kitabnya bahwa Sayidina Abu Bakar ra menyerahkan semua hartanya, Sayidina Umar ra separo hartanya, kemudian Rasulullah saw bertanya:

“Apa yang kautinggalkan buat keluargamu? Abu Bakar menjawab yakin Allah dan RasulNya. “

Jihad Islam bukan ofensif, tapi defensif. Islam tak pernah menyerang duluan, tapi bertahan. Bukan seperti kebo nantang pasangan.  Dan menantang semua yang lewat di hadapan.

***

Kiai Dahlan menyerahkan semua hartanya untuk biaya Persyarikatan tanpa menyisakan sedikit pun. Beliau berkata kepada para kadernya: “Janganlah kamu berteriak-teriak sanggup membela agamamu dengan menyumbangkan jiwamu, jiwamu tak usah kamu tawarkan. Kalau Tuhan menghendakinya, entah dengan jalan sakit atau tidak tentu kamu akan mati. Tapi, beranikah kamu menawarkan harta bendamu untuk kepentingan agama? Itulah yang lebih diperlukan pada waktu sekarang ini.”

Agak berat memang, sebab Jihad kami berbayar…

 

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here