Jihad Melawan Covid-19: Siapa Sanggup Tanggung Pangan Warga Persyarikatan?

0
487

Oleh: Nurbani Yusuf *)

KLIKMU.CO

Afwan para kiai jika saya selalu mengambil jalan berbeda sebagaimana uswah para Nabi menjadi antitesis bagi umatnya —dua setengah bulan lebih kami mentaati fatwa PP. Izinkan sejenak saya tinggalkan mazhab kesehatan, bermigrasi pada pendekatan perut. Kebutuhan paling primitif, jauh dari kata rasional, apalagi di kalangan para akademisi yang pintar atau para faqih yang bijak berfatwa.

Jika jihad melawan Covid-19 komit dilaksanakan, idealnya ada penjaminan institusional bahwa sekolah-sekolah dan universitas tetap bisa operasional, para warga, karyawan dan gurunya juga ada jaminan pangan. Anak didik bisa tetap mendapat layanan karena mampu beli pulsa.

Fatwa yang bijak adalah yang fleksibel dan dinamis -seperti pagi yang baik, datang untuk mengistirahatkan bulan dan para pekerja malam- dalam sepekan.

Tentang ribuan guru yang dirumahkan tanpa jaminan, karena melemahnya eksistensi ribuan sekolah-sekolah Muhammadiyah yang tidak mendapatkan asupan SPP karena nunggak atau tidak terbayar akibat hidup susah wali murid dicengkeram wabah. Ini hanya soal perut lapar karena PHK atau dirumahkan akibat pandemi.

Ada ribuan TK, PAUD, sekolah dasar, sekolah menengah pertama atau menengah umum, dan kejuruan bahkan puluhan atau ratusan universitas yang tumbuh berdiri, terbayang beban berat: kecemasan karena ketidakpastian, kekhawatiran tidak mendapatkan siswa atau mahasiswa akibat ‘sosial distancing’ yang diberlakukan. Terpikir pula ribuan mahasiswa yang urung balik ke kampus karena tak mampu bayar her-registrasi.

Saya bukan menolak sehat, tapi perut lapar juga soal penting yang harus dipikir sebagai akibat samping dari ‘jihad melawan korona’. Terbayang sekolah-sekolah kolaps, guru-guru yang dirumahkan tanpa jaminan, masjid dan mushala yang sepi karena jamaahnya pindah ke lain tempat karena tidak betah di rumah, universitas yang merogoh tabunganya dalam-dalam untuk biaya operasional dan entah bisa cukup bisa bertahan untuk berapa bulan ke depan.

Saya tak akan larut dalam bahasan dialektik atau nasihat para tabib, fatwa para faqih tentang berbagai ikhtilaf dan polemik yang tak kunjung habis atau lainnya. Saya akan mengajak berpikir realistis tentang ‘hidup normal baru’. Tentang pasar dan mal yang tetap ramai. Tentang masjid-masjid tetangga sebelah yang tetap normal menjalankan ibadahnya tanpa mengurangi ikhtiar melawan wabah.

Atau tentang pemerintah yang mulai kendur dan mengajak berdamai dengan wabah sambil tetap ikhtiar. Dan ‘epos’ tentang kita yang tetap kokoh di jalan jihad melawan wabah untuk waktu yang belum tentu.

Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Semua berpulang pada fatwa para pimpinan dan ulama di Persyarikatan, ada banyak resiko: ada positif, ada negatif, juga ada marwah organisasi yang harus dijaga, juga ada ribuan sekolah yang harus tetap selamat. Bukan merevisi apa yang sudah kita lakukan. Hanya watak yang kuat dan jujur yang berani mengoreksi kekhilafannya sendiri dan PP Muhammadiyah salah satunya.

Mungkin ini semacam kado di bulan Syawal sampai beberapa bulan ke depan. Apakah pikiran dan energi kita semua akan tercurahkan untuk melawan wabah atau ada semacam ‘distribusi perhatian’ agar melahirkan keseimbangan atau balancing yang rasional di Persyarikatan.

Tidak harus panik, apalagi menggunakan segenap hati untuk melawan wabah, tapi juga tak elok hanya bersandar pada nasihat para tabib sebagai satu-satunya ikhtiar dan acuan pengambilan fatwa. Artinya di samping protap kesehatan yang dinasihatkan para tabib, juga jangan abai pada protap para ‘ahlul buthun’ agar terhindar dari melarat masal.

Sebab, kedua mazhab itu menawarkan konsep dan cara bertahan hidup yang prinsip meski dengan pendekatan berbeda. Di atas segalanya ada ikhtiar dan kesadaran atas keterbatasan yang melahirkan doa-doa. Di setiap ujian ada hikmah di setiap kesulitan ada kemudahan. Semoga wabah segera pergi dan ujian berganti rahmat. Aamin insya Allah. Wallahu ta’ala a’lm.

*) Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here