Testimoni Sang Penyintas Covid (3)

0
230
Fahd Pahdepie saat berjuang melawan Covid-19. (Foto Facebook)

Oleh: Fahd Pahdepie

KLIKMU.CO

Kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Beberapa hari lalu (16/1) bahkan memecahkan rekor hingga 14.000 kasus positif per hari. Sepertinya rekor itu masih mungkin terlampaui lagi dalam waktu-waktu kedepan, jika jumlah tes yang dilakukan pemerintah diperbanyak dan masyarakat tidak menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dengan benar—apalagi menganggapnya sepele, hoaks, atau konspirasi belaka.

Tak bisa dimungkiri bahwa literasi dan pemahaman masyarakat kita tentang pandemi ini masih tergolong rendah, apalagi di pedesaan dan tempat-tempat yang jauh dari kota besar, di kalangan masyarakat berpendidikan menengah-bawah. Padahal virus Covid-19 makin hari makin menyebar, konon bahkan ada varian baru ‘super spreader’ yang berpotensi memperburuk situasi. Sementara rumah sakit-rumah sakit kewalahan sebab daya tampungnya penuh, tenaga kesehatan banyak yang tumbang ikut terpapar, vaksin belum bisa diandalkan karena persoalan stok dan distribusi.

Tahun 2021 ini sepertinya kita akan memasuki babak baru dari pandemi Covid-19. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) terasa lebih longgar dibandingkan ketika pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), bukan sekadar ganti nama belaka. Sementara masyarakat tak acuh dengan protokol kesehatan ketika harus tetap melakukan kegiatan sosial-ekonomi sehari-hari—masker jadi formalitas, jarang mencuci tangan, jaga jarak diabaikan. Jadi jangan bermimpi soal ‘herd immunity’, karena konon tingkat prevalensi kita masih di angka 4-5% saja, padahal untuk mencapai kekebalan kelompok menurut WHO perlu 70% total populasi terpapar virus ini. Sungguh masih jauh.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Selain berharap pemerintah terus menggalakkan 3T (tracing, testing, treatment) dan memperbaiki kebijakan penanganan pandemi, kelompok masyarakat sipil bisa membantu mensosialisaikan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas). Namun, kampanye itu harus diikuti dengan strategi komunikasi yang tepat. Bukan hanya memberi data, informasi dan fakta kepada publik, sambil melupakan narasinya yang membumi dan lebih bisa dimengerti. Masyarakat butuh cerita, bukan hanya angka-angka.

Surplus Informasi, Defisit Narasi

Informasi dan data tentang Covid-19 ada di mana-mana, masyarakat bisa mengaksesnya dengan mudah. Data-data tersaji di website pemerintah, di media sosial, di grup-grup WhatsApp. Para ahli dan pengambil kebijakan juga berbicara di TV, membuat utas di Twitter, menjelaskan di aneka seminar daring. Masalahnya, data-data dan informasi yang mereka sajikan justru jadi kebisingan (noise), apalagi ditambah debat-debat perbedaan pendapat yang membingungkan masyarakat, literasi tentang Covid-19 jadi kehilangan nyawa dari suara yang semestinya (voice).

Apa yang bisa kita bunyikan dari angka pasien sembuh yang lebih banyak dari jumlah kematian akibat Covid-19? Jika tak dinarasikan dengan benar, yang muncul bisa jadi sikap ‘survivorship bias’ di mana masyarakat menyepelekan penanganan medis karena pikiran “Ah, nanti juga akan sembuh sendiri. Toh banyak yang sembuh, kan?” Hal ini bisa muncul akibat gagalnya orang membaca esensi dari sebuah informasi, gagal menginterpretasi data, karena memang tak semua orang bisa membaca sekaligus memahami data, bukan?

Data-data itu perlu dibunyikan agar bisa dipahami masyarakat luas dari berbagai kalangan. Fakta dan informasi harus dinarasikan, diberi nyawa agar terasa lebih manusiawi. Kata Daniel Pink (A Whole New Mind, 2005), dalam rangka membuat orang mengerti dan bisa mempengaruhi perilakunya, “We need not only logic but also empathy”. Kita butuh menyentuh empatinya, bukan hanya rasionalisasinya. Dalam hal literasi masyarakat Indonesia mengenai Covid-19, kita perlu lebih banyak menyajikan cerita-cerita yang manusiawai itu, bukan sekadar data dan angka-angka saja.

Lihatlah cerita-cerita yang viral di media sosial, rata-rata adalah cerita yang menusiawi dan dekat di keseharian. Seorang ibu kehilangan anaknya, dai terkenal yang meninggal, anak perempuan yang terpaksa hidup sebatangkara karena harus kehilangan kedua orangtuanya. Semua itu cerita yang kuat, memenuhi semua unsur yang disyaratkan John Truby dalam ‘The Anatomy of Story’ (2007). Mengandung urutan peristiwa, memiliki karakter-karakter, jelas kapan dan di mananya, menggambarkan dengan jelas konsekuensi sebab-akibatnya. Cerita-cerita itu jauh lebih berdampak dari data rutin yang disajikan pemerintah setiap hari.

Menghadapi pandemi ini, selain berjuang dengan semua prosedur dan protokol ilmiah serta kebijakan yang tepat dari pemerintah, kita juga butuh jihad narasi. Kita perlu menghadirkan cerita-cerita dari berbagai sudut pandang dan dimensinya tentang Covid-19 ini. Bahwa dokter dan tenaga kesehatan juga manusia yang punya keluarga dan kehidupan pribadi, pasien-pasien bukan sekadar berjuang untuk bisa sembuh tetapi juga harus menata ulang kehidupannya, keluarga yang berduka karena ditinggalkan orang-orang tercinta, dan betapa bodohnya stigma yang menganggap Covid-19 itu adalah aib.

Jihad Narasi

Kita butuh banyak cerita dari dokter, tenaga kesehatan, pasien, penyintas, dan keluarga mereka yang terkena Covid-19 sehingga harus dirawat atau melakukan isolasi mandiri. Lewat cerita-cerita itu masyarakat akan lebih mengerti dan memahami pandemi ini, mudah-mudahan itu juga bisa meningkatkan kewaspadaa mereka, mengubah cara berpikir dan perilaku mereka untuk lebih baik. Tulisan-tulisan harus terus dibuat dan disebarkan di media sosial, video-video testimoni perlu diproduksi, forum-forum berbagi secara daring harus dikerjakan. Semua itu bukan hanya akan memberikan pemahaman, tetapi penting juga untuk membangkitkan optimisme.

Kelompok masyarakat sipil bisa membantu pemerintah mengerjakan jihad narasi ini. Ormas seperti Aisyiyah saya kira akan memainkan peran yang sangat penting jika masuk ke isu ini. Jejaringnya yang tersebar ke seluruh pelosok Indonesia, digerakkan oleh ibu-ibu pengajian, akan menjadi corong yang sangat tepat untuk semua ini. Apalagi jika ibu-ibu ini juga berkolaborasi dengan anak-anak muda untuk menyebarkan cerita-cerita di media sosial. Konsep marketing YWN (Youth-Women-Netizen) akan sangat efektif diterapkan di sini.

Konon, jika kita ingin memenangkan pertarungan gagasan, kita harus memimpin anak-anak muda (youth). Jika kita ingin memastikan gagasan itu diterima atau tidak, dipakai atau tidak, dipraktekkan atau tidak, kita harus menggerakkan para perempuan (women). Karena perempuan ini, kaum ibu, punya daya persuasi yang tak bisa ditandingi kelompok manapun. Terakhir, jika kita ingin memenangkan pertarungan untuk sebuah isu disukai atau tidak, kita harus mengorganisasikan para pengguna internet (netizen).

Sebagai contoh eksekusi di lapangan, ormas Muhammadiyah dan Aisyiyah memiliki struktur dan ekosistem yang sangat memadai sekaligus memenuhi syarat untuk mengerjakan jihad narasi Covid19 ini. Sebagai organisasi Muhammadiyah berkomitmen penuh ikut menghadapi pandemi ini dengan kerja nyata termasuk menyediakan rumah sakit, tempat untuk isolasi mandiri, hingga pesantren Covid-19. Tentu banyak cerita di sana.

Aisyiyah bisa mengolah dan mengamplifikasi cerita-cerita itu ke seluruh pelosok negeri melalui pengajian, tulisan, hingga seminar. Organisasi-organisasi otonom yang lebih muda di bawahnya seperti Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan lainnya bisa ikut menggerakkan kampanye naratif di media sosial melalui tulisan, video, poster dan seterusnya. Ini akan menjadi percontohan jihad narasi yang luar biasa di tengah pandemi ini, menggerakkan dan menyasar semua elemen.

Akhirnya, kita berharap semoga pandemi ini lekas usai dan bisa terlalui dengan baik. Saat ini kita masih harus berjuang dengan sekuat tenaga. Mengerjakan semua yang bisa kita lakukan. Termasuk berjuang dengan cerita.

Fahd Pahdepie
Penulis buku ‘Saya Akan Sembuh!’, Penyintas Covid19, Kader Muhammadiyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here