Jika Prabowo Bilang Indonesia Bisa Bubar 2030, Dahnil Malah 2019

0
3146
Rawan Membahayakan: Dahnil Anzar Simanjuntak Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah. (Foto: Fuji)

KLIKMU.CO – Indonesia bisa bubar di tahun 2019 manakala negeri ini tidak dikelola secara baik dan adil. Demikian dikatakan Dahnil Anzar Simanjuntak Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah di hadapan sekira 5 ribu jamaah Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang di Lawang, Ahad (25/3).

Bagi Anin, begitu sapaan akrabnya, ketimpangan hukum, ketimpangan ekonomi, dan pemerataan kesejahteraan yang tidak merata menjadi pemicu runtuhnya sebuah bangsa. Juga membiarkan liarnya berbagai pemicu lain yang mengakibatkan terjadinya konflik horizontal.

“Sebuah contoh, di wilayah perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko, ada sebuah kota bernama Los Nogales. Kota ini terbelah dua oleh sebuah pagar pembatas. Di sebelah utara adalah Los Nogales yang masuk wilayah Arizona, Amerika Serikat dan di sebelah selatan adalah Los Nogales yang masuk wilayah Sonora, Meksiko,” ungkapnya.

Ia menyitir tulisan dari buku ‘Why Nations Fail’ karya James A. Robinson dengan menjelaskan  bahwa Los Nogales yang dikelola Amerika Serikat tingkat kesejahteraan lebih tinggi dengan kondisi lingkungan masyarakatnya bersih, tertata, dan berpendidikan. Sementara, Los Nogales yang dikelola Mexico merupakan kebalikan, yakni miskin, kumuh, dan berantakan.

Dalam buku lain, Asian Drama, lanjutnya, di sana ada dua karakter masyarakat, yaitu soft culture dan hard culture. Yang mana, soft culture tipologi masyarakatnya tidak tepat waktu, malas, dan ala kadarnya. Sementara itu, tipologi masyarakat dengan hard culture adalah tipe masyarakat yang berkemajuan dengan karakter tepat waktu, giat, dan kompetitif.

“Tahukah bapak/ibu, selain Surat Al-Ma’un, Quran surat apa yang dikaji Kyai Dahlan dalam tempo yang lebih lama?” tanyanya kepada hadirin. Lantas ia melanjutkan, bahwa selama 7 bulan Kyai Dahlan mengkaji dan mengajarkan Surat Al-Ashr, hingga murid-muridnya memahami dan mengamalkannya.

Bagi Anin, bicara watak berkemajuan adalah waktu. Buya HAMKA, lanjutnya, menjelaskan dalam Tafsir Al-Azhar bahwa Al-Ashr merupakan simbol kemajuan umat sebab dalam surat ini ditunjukkan pentingnya menghargai waktu.

“Kalau Muhammadiyah ingin maju, perhatikan dan hargai waktu, jangan suka membuang-buang waktu, tandasnya.

Jadi, lanjut Dahnil, tinggal bagaimana penguasa negeri ini mengurus rakyatnya. Lebih lanjut, menurut pria keturunan Batak ini, bukan perihal potensi atau banyaknya sumber daya alam yang dimiliki bangsa, melainkan mau mengurus dengan serius atau tidak bangsa dan rakyat ini.

“Karena itu kalau Pak Prabowo ber-statemen di tahun 2030 Indonesia bisa bubar, tapi menurut saya, di tahun 2019 pun juga bisa runtuh jika para petinggi negeri tidak mengurusnya secara baik dan adil kepada rakyatnya,” katanya.

Dalam kesempatan itu, pengamat ekonomi itu mengingatkan agar Persyarikatan ini memiliki metode dan manajemen dakwah yang berkemajuan dengan pendekatan kultural.

“Saya itu masuk di komunitas Vespa Jakarta. Di sana ada proses taqribul qulub, kedekatan hati. Dengan begitu, ada sentuhan tersendiri kepada anggota lainnya karena memiliki ikatan. Metode dakwah seperti ini juga sebagai rekomendasi Muktamar Makassar, yakni dakwah komunitas dan hal itu belum sepenuhnya diterapkan Muhammadiyah,” pungkasnya. (Kholiq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here