Jika Tak Dimanfaatkan, Artificial Intelligence Bakal Jadi Ancaman Umat Islam

0
166
Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) Majelis Ulama Indonesia KH Wahfiudin Sakam. (Istimewa)

KLIKMU.CO – Hadirnya Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan bisa melahirkan ancaman jika umat Islam tidak segera tanggap dalam memahami dan mengadopsi ke dalam dunia dakwah keislaman. AI atau kecerdasan buatan adalah bidang dalam komputer atau sains yang mencoba meniru kecerdasan yang dimiliki manusia secara khusus dan makhluk hidup secara umum, kemudian menginterpretasinya dan memberikan respons atau tindakan yang diperlukan.

Demikian paparan Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) Majelis Ulama Indonesia KH Wahfiudin Sakam dalam  FGD dengan tema “Kecerdasan Artifisial dan Dakwah Islam”, Kamis (4/3/2021).

Menurut Wahfiudin, AI memungkinkan mesin untuk belajar dari pengalaman, menyesuaikan input-input baru dan melaksanakan tugas seperti manusia.
Dia menyampaikan, AI ke depan juga bisa digunakan sebagai sistem untuk menanamkan nilai-nilai pemurtadan, radikalisasi, dan terorisme.

“Pemurtadan tidak lagi dilakukan dengan sumbangan beasiswa atau sembako seperti dulu, tapi ke depan dilakukan dengan cara membombardir sentimen manusia. Di masa mendatang mereka menggunakan AI yang lebih terhormat dan cerdas,” tegasnya.

Dalam FGD ini, Wahfiudin juga meyoroti Dubai sebagai negara pertama yang bisa meluncurkan AI mengenai fatwa berbasis aplikasi yang mana dalam IA tersebut terdapat 250 fatwa mengenai salat atau hal keagamaan lainnya.

Ia berharap ini bisa menjadi contoh bagi MUI agar menjadi pelopor dalam peluncuran sistem dakwah berbasis AI di Indonesia. Tak lain untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses fatwa, pendidikan keislaman, maupun keuangan syariah.

“Dengan menyelenggarakan Islamic Artificial Intelligence Summit 2021, MUI bisa untuk paling tidak mendata apa yang sudah kita miliki dan memikirkan apa yang bisa kita kembangkan kedepan dalam bidang dakwah atau keislaman lainnya,” ucap dia.

Pakar Artificial Intelligence ITB Prof Dr Bambang Riyanto Trialksono juga menjelaskan bahwa IA Fatwa milik Dubai disebut sebagai virtual IFTA. Sistem ini memudahkan masyarakat dalam mencari jawaban atas pertanyaan dalam ruang lingkup keagamaan karena aksesnya yang mudah dan jawaban yang diminta dapat dimunculkan dalam waktu yang relatif singkat.

“Jadi pertanyaan bisa diajukan melalui telepon dan satu program komputer yang berbasis pada AI dan akan menjawab pertanyaan yang digunakan secara traktif dengan bahasa natural,” jelas dia. (Nurul/Nashih/AS)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here