Jumat Cerah #10: Kasman Singodimejo, ‘Singa’-nya Ada di Mana-mana (Bagian 1)

0
238
Prof. Dr. Mr. Kasman Singodimejo. (Ilustrasi diambil dari dekandidat.com)

KLIKMU.CO

Oleh Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si.*)

Prof. Dr. Mr. Kasman Singodimejo adalah tokoh Muhammadiyah kelahiran Purwokerto Jawa Tengah 1904. Dikenal sebagai tokoh yang hidupnya sederhana, suka berterus terang, dan pemberani.

“Namanya memang Singodemejo, tetapi kenyataannya dia singa di mana-mana. Dan singanya itu muncul pada saat yang tepat,” kata Mr. Muhammad Roem, kawan dekat beliau sejak muda.

Dalam buku biografinya berjudul: “Hidup itu Berjuang” diceritakan ‘singa’-nya Pak Kasman yang muncul pada saat  yang tepat itu.

Pada zaman Orde Lama, Pak Kasman dijebloskan dalam tahanan karena intrik PKI. Dia diminta mengakui mengadakan rapat gelap untuk gerakan makar atau menggulingkan pemerintah yang sah.

Pak Kasman menolak karena memang tidak melakukannya. Lalu untuk membenarkan tuduhan, maka dikonfrontir dengan Nasuhi, tahahan lain.

“Bukankah Letkol. Nasuhi malam itu menjemput Pak Kasman lalu membawanya ke Tangerang?,” kata pemeriksa.

Nasuhi diam, tidak menjawab. Pertanyaan itu diulang lagi. Nasuhi tetap diam.  “Awas! Letkol. Nasuhi, di proses verbal Anda telah menandatanginya,” Penyidik mulai menggertak. Namun Nasuhi tetap diam.

Suasana senyap. Kemudian Pak Kasman minta izin bicara: “Bismillahir rahmanir rahim. Nasuhi kamu kan percaya kepada Allahu Akbar, Allah yang Maha Besar. Jawablah secara jantan. Kamu kan laki-laki. Allah sebagai saksi. Jawablah dengan lantang supaya jelas kedengaran,” kata Pak Kasman dengan tegas.

Rupanya ucapan Pak Kasman ini berpangaruh kepada Letkol. Nasuhi. Nasuhi menjawab: “Saya terpaksa menandatangani proses verbal. Tetapi, kejadian yang sesungguhnya tidak seperti di proses verbal itu,” kata Nasuhi.

Pak Kasman segera menyambung: “Nah, itulah tuan-tuan keadaan yang sebenarnya. Saya sebagai bekas Jaksa Agung, bekas Kepala Kehakiman Militer, bekas Menteri Muda Kehakiman tahu persis semua ini tidak sah,” tegasnya.

Pak Kasman lalu berdiri. Dibuangnya kursinya jauh ke belakang. Tangannya diangkat lalu berteriak sangat keras sambil matanya melotot.

“Percuma pemeriksaan semacam ini! Silakan tuan-tuan cabut pistol. Tembak saya! Tembak saya! Tembak! Tembak!” teriaknya. Petugas pemeriksa itu gagal memaksa Pak Kasman mengakui tuduhan. Singanya keluar pada saat yang tepat.

Peristiwa lain, suatu hari Pak Kasman berceramah di Ternate. Selesai dari Ternate, Pak Kasman harus menyeberang ke Bitung memenuhi undangan di sana. Ketika sampai di tepi laut tiba-tiba cuaca berubah. Angin besar, ombak laut meninggi.

Pemilik perahu biasanya tidak berani berlayar, menunggu cuaca normal kembali. Tetapi, tidak tahu pasti kapan cuaca normal itu akan terjadi.  Di tengah ketidakpastian, ketika cuaca sudah sedikit membaik, Pak Kasman keluar ‘singa’-nya.

“Apakah ada nakhoda muslim yang percaya bahwa hidup dan mati itu di tangan Allah? Siapakah yang berani mengantarkan saya dalam keaadan begini ke Bitung?” teriak Pak Kasman.

Teriakan itu menularkan keberanian kepada para pemilik perahu. Beberapa orang mengacungkan tangan. Namun karena hanya dibutuhkan satu perahu, maka Pak Kasman memilih salah satu dan berterima kasih kepada yang lain. “Kalian juga sudah mendapat pahala,” kata Pak Kasman kepada mereka.

Itulah Kasman Singodimejo. ‘Singa’-nya bisa muncul di mana-mana pada saat yang tepat. Pada saat biasa Pak Kasman adalah orang lembut hati.

Selain keberanian, ada dua pesan penting yang menarik dari Pak Kasman kepada kita. Apa dua pesan penting itu? Kita bicarakan Jumat depan. [*]

Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si. Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim dan Penulis Buku-buku Best Seller.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here