Jumat Cerah #11: Dua Pesan Kasman Singodimejo (2 Habis)

0
255
Ilustrasi diambil dari Jejak Wordpress.com

KLIKMU.CO

Oleh Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si.*)

Bagian I

Jaksa yang memeriksa gagal memperoleh pengakuan dari Pak Kasman soal tuduhan mengadakan rapat gelap menggulingkan pemerintahan Bung Karno. Singa Pak Kasman keluar pada saat yang tepat. Kalimatnya tegas, disampaikan setengah berteriak dan dengan mata melotot. Petugas terpaksa mengehentikan pemeriksaan. Pemeriksa gagal menjerat tuduhan palsu kepada sang singa yang lagi mengaum.

****

Selain keberanian yang bisa muncul bagaikan singa mengaum pada saat yang tepat, ada dua pesan penting disampaikan Pak Kasman untuk generasi penerus, untuk kita semua. Pesan itu patut menjadi renungan.

Pertama: “Hidup itu berjuang”. Karena hidup itu berjuang maka bagi mereka yang tidak ikut berjuang atau meninggalkan gelanggang perjuangan, berarti dia kehilangan makna hidupnya.

Jika hidup telah kehilangan, maka hidup itu sia-sia. Dia sesungghnya telah mati meskipun masih tetap bernafas.

Kedua: “Memimpin itu jalan menderita.” Jalan memimpin itu bukan jalan mudah. Bukan jalan di atas karpet merah.

Berjuang dan Menderita memang sering meyatu. Pak Kasman tidak hanya bicara. Tetapi, dia sejak muda telah menjalani dan merasakan sendiri.

Dia teguh dalam keyakinan dan kokoh dalam integritas. Karena keteguhannya pada perinsip, maka dia rela empat kali masuk penjara. Sekali pada zaman Belanda dan tiga kali pada zaman Orde Lama.

Meskipun keluar masuk penjara, dia tetap bahagia. “Bahagia dalam kehidupan pribadi, bahagia dalam keluarga, bahagia karena hidupnya punya cita-cita,” kata Moh Roem.

Sejak muda aktif berjuang melawan Belanda, Jepang dan aktif dalam pendirian Republik Indonesia. Dia Anggota Badan Persiapan Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPKI) dan anggota PPKI (Penitia Persiapan kemerdekaan Indonesia).

Pak Kasman juga berhasil melunakkan hati Ki Bagus Hadikusumo agar mengubah tujuh kata dalam piagam Jakarta.  “Ketuhahan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” diaganti dengan kalimat Ketuhanan yang Maha Esa.

Kita semua sudah tahu sejarah proses terjadinya perubahan itu. Ki Bagus adalah orang paling ngotot mengusulkan konstitusi Indonesia berdasarkan Islam. Malah bagi dia Kewajiban menjalankan syariat Islam. Titik. Tidak ada kata “bagi pemeluknya.”

Ki Bagus juga mengusulkan Presiden harus beragama Islam karena mayoritas masyarakat beragama Islam.

Kita bisa perkirakan Ki Bagus akan menolak mengubah tujuh kata itu. Yang harus diingat  yang berunding saat itu adalah kelas para negarawan. Bukan kelas politisi. Sekali lagi para negarawan, bukan politisi.

Pak Kasman lalu berusaha melunakkan Ki Bagus dengan mengatakan bahwa Belanda sudah “thingil-thingil dan thongol-thongol di Indonesia yang baru merdeka.

Maksudnya Belanda sudah mengintai dan siap menyerbu Indoensia. “Nanti setelah keadaan aman kita perjuangkan lagi,” cerita Pak Kasman dalam kesempatan di Yogyakarta dengan mata berkaca-kaca saat mengenang peristiwa itu.

Kesediaan menghapus tujuh kata inilah yang oleh Menteri Agama Alamsyah berkali-kali dinyatakan sebagai hadiah umat Islam kepada bangsa Indonesia.

Pada 25 April 1981 dalam Dies Natalis Institut Ilmu Alquran Pak Kasman dan banyak tokoh lain hadir. Alamsyah kembali menyatakan Pancasila sebagai hadiah umat Islam. Telunjuk Alamsyah ditujukan kepada Pak Kasman dan menyatakan bahwa beliau sebagai orang yang berjasa dalam pemberian hadiah berharga itu.

Ada yang mengganjal di hati kita. Pak Kasman sejak muda ikut aktif dalam pendirian Republik ini. Mulai persiapan kemerdekaan sampai Repulik ini merdeka. Entah apa sebabnya, sampai sekarang usulan  agar negarawan kita ini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional belum terpenuhi.

Muhammadiyah sudah mengusulkan dan semua prosedur sudah ditempuh. Sudah beberapa tokoh memberi janji membatu tapi janji masih tinggal janji. Pemberian gelar sudah tersalip tokoh-tokoh lain misalnya KH As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo Jawa Timur. Kita berharap tahun ini penghargaan itu bisa menjadi kenyataan. [*]

Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si. Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim dan Penulis Buku-buku Best Seller.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here