Jumat Cerah #12: Ki Bagus Melawan Jepang dengan Tauhid (Bagian 1)

0
418
Ki Bagus Hadikusumo bersama Presiden Soekarno bertemu Tenno Haiko di Tokyo, Jepang. Ilustrasi diambil dari gomuslim.com

KLIKMU.CO

Oleh Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si.

Seorang pemimpin harus jujur. Itu mutlak. Tetapi jujur saja ternyata tidak cukup. Pemimpin  juga harus berani karena dia lokomotif yang menggerakkan gerbong panjang bernama umat.

Sikap berani itu membuat lidahnya enteng berkata “tidak” atau “ya”. Itulah karakter pemimpin. Ki Bagus Hadikusumo, Ketua Umum PP Muhammadiyah dan pahlawan Nasional  telah memberi teladan.

Pada Masa penjajahan Jepang setiap pagi orang harus melakukan saikeirei yaitu membungkukkan badan seperti rukuk, menghadap matahari untuk menghormati kaisar Tenno Haika.

Menurut Ki Bagus penghormatan semacam itu sudah menyerupai penghormatan kepada Tuhan dan bisa tergelincir syirik. “Ini perbuatan terlarang”, simpul Ki Bagus.

Ketika pendapat Ki Bagus ini tersiar luas, banyak orang tidak lagi mau membungkuk menghadap ke timur, termasuk para pelajar.

Tentu Jepang marah besar. Dalam buku “Ki Bagus Hadikusumo, Etika dan Regenerasi Kepemimpinan” tulisan Siswanto Masruri, sumber tulisan ini,  diceritakan Ki Bagus akhirnya dipanggil ke gedung Kempetai.

Semua orang tahu kekejaman Jepang. Untung setelah dipanggil masih bisa kembali pulang. Tetapi Ki Bagus tetap datang dengan kepala tegak.
Ia ditemui kepala Kempetai Kolonel Tsuda.

“Tuan Ki Bagus, saya minta agar tuan memerintahkan orang Islam dan Muhammadiyah serta murid-murid semua untuk melakukan upacara Saikeirei”, kata si Jepang yang mengenakan sepatu laras. Dengan congkak kakinya dinaikkan di atas meja.

“Tidak mungkin karena agama Islam melarangnya”, jawab Ki Bagus.

“Saya tidak tahu itu!. Pendek kata tuan harus memerintahkannya!”.

“Kalau tuan tidak tahu, maka saya beritahu bahwa hal tersebut dilarang agama saya. Orang Islam tidak boleh membungkuk malakukan saikerei kepada sesama manusia”, jawab Ki Bagus tanpa rasa gentar.

“Tetapi Dai Nippon memerintahkan semua bangsa Indonesia melakukan upacara tersebut”. kata si Jepang

“Kalau begitu tuan saja yang memerintahkan”, kata Ki Bagus.
“Tidak! Tuan yang memberi perintah. Tuan adalah pemimpin Islam”.

“Tidak bisa! Agama Islam melarangnya, bukan saya yang melarang. Saya tidak akan lakukan dan tidak akan perintahkan hal itu”, jawa Ki Bagus.
Kolonel Tsuda marah besar. Ia menggebrak meja. Tetapi Ki Bagus tetap tenang.

“Tuan menganut agama seperti saya sekalipun agamanya beda” kata Ki Bagus. “Tentu tuan juga tidak mau  melanggar ajaran agama tuan sebagaimana orang-orang Islam juga tidak mau melanggar ajaran agama mereka”.

Konsistensi Ki Bagus pada sikap tauhidnya ini justru menimbulkan simpati luar biasa. Termasuk pengakuan kolonel Tsuda sendiri ketika Ki Bagus berkunjung ke Tokyo setelah Indonesia merdeka.

Ki Bagus suka mendalami tasawuf dan hikmah serta memusatkan perhatian pada nasib rakyat rendahan. Secara materi beliau hidup sederhana.

Sebagai orang yang mendalami tasawuf, saya membayangkan jawaban yang diberikan kepada si Jepang sekalipun tegas namun tetap lembut dan santun, tidak meledak-ledak apalagi membentak.

Kedalamannya soal tauhid dan tasawuf inilah menyebabkan sikapnya yang egaliter, tidak merasa lebih tinggi atau lebih rendah dari orang lain. Bagi orang sufi, pasir dan emas itu sama harganya. Karena itu orang sufi tidak pernah tergila-gila pada emas dan tidak pernah mengeluh jika cuma punya pasir.

Rasa sederajat itu pula yang menyebabkan Ki Bagus tanpa beban menjawab Bung Karno soal pakaian yang dipakainya. Jenderal Sudirman yang mengagumi Ki Bagus  sebagai tokoh besar, orang alim dan  sederhana masih mengingat kejadian itu. “Ki Bagus, karena Indonesia sudah merdeka, sebaiknyalah tuan tidak selalu mengenakan kain sarung, pakailah pantalon”  tegur Bung Karno.

Ki Bagus menjawab: “Lha ya to Bung, sebelum tahun 1945 di daerah mana di Indonesia ada orang berpantalon yang berani melawan dan memberontak Belanda?.  Hanya orang yang memakai basahan (jubah seperti Diponegoro) dan orang-orang sarungan  yang berani melawan”kata Ki Bagus.

Ajaran tauhid yang menyebabkan seorang Ki Bagus  mempunyai jiwa merdeka. Merdeka dari rasa takut kepada Jepang. Meredeka dari rasa rendah diri. Merdeka dari pura-pura modern. Merdeka dari hidup yang mengutamakan tampilan luar.

Ajaran tauhid adalah ajaran yang memerdekakan manusia dari belenggu jiwa yang dangkal. Itulah jiwa Ki Bagus. Orang yang lebih mengutamakan isi dan tidak mendewakan bungkus. Tetapi apakah tauhid kita telah membuahkan jiwa merdeka seperti Ki Bagus? Ataukah cuma seperti gincu,  menyentuh bagian luar saja dari kehidupan kita dan tanpa membekas dalam jiwa?

Dengan tauhid gincu, Allah menyindir kita sebagai manusia berjiwa rapuh seperti rumah laba-laba. “Perumpamaan mereka yang mengambil pelindung selain Allah ibarat laba-laba membuat rumah. Sungguh rumah paling rapuh adalah rumah laba-laba, kalau mereka tahu”. (QS Al-Ankabut; 41) [*]

Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si. Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim dan Penulis Buku-buku Best Seller.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here