Jumat Cerah #13: Ki Bagus dan Piagam Jakarta (Bag. 2 Habis)

0
291
Ilustrasi diambil dari historia.id

KLIKMU.CO

Oleh Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si.*)

Ringkasan Bag.1
Pada Masa penjajahan Jepang setiap pagi orang harus melakukan saikeirei yaitu membungkukkan badan seperti rukuk, menghadap matahari untuk menghormati kaisar Tenno Haika.

Menurut Ki Bagus Hadikusuma penghormatan semacam itu sudah menyerupai penghormatan kepada Tuhan dan bisa tergelincir syirik. Ki Bagus menolak.
Banyak orang mengikuti seruan Ki Bagus. Jepang marah dan Ki Bagus dipanggil.
Tetapi dengan keteguhan tauhid Ki Bagus, si Jepang akhirnya tak mampu memaksa Ki Bagus. Bahkan setelah kemerdekaan, ketika bertemu di Jepang, kolonel Tsuda, orang yang dulu menggebrak dan menaikkan kakinya di meja, mengaku saat itu sebenarnya hatinya sangat hormat  kepada Ki Bagus atas keteguhan pendiriannya.

*****

Terjadi perdebatan panjang, panas dan meletihkan selama 21 hari (2-22 Juni 1945) tentang dasar negara yang akan berdiri, Islam atau Pancasila. Akhirnya terjadi konsensus. Pancasila diterima sebagai dasar negara dengan perubahan.

Sila Ketuhanan diletakkan urutan pertama dengan tambahan kalimat yang terdiri tujuh kata: “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”.
Konsensus yang diputuskan dalam siding BPUPKI itu terkenal dengan sebutan PIAGAM JAKARTA.

Ternyata masih ada ganjalan di hati sebagian anggota BPUPKI. Latuharhary (protestan), Wongsonegoro dan Hoesein Djayadiningrat (sekuler) khawatir implikasi pada pemeluk agama lain dengan adanya tujuh kata itu.

Sebaliknya Ki Bagus (Muhammadiyah) minta agar kalimat “bagi pemeluknya” dihapus. Yang diinginkan Ki Bagus: “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam”. Titik.  Tiga kali Ki Bagus mengusulkan ini. Dua kali dalam rapat membicarakan dasar negara dan diulang lagi pada rapat penyusunan UUD. Dia juga mengusulkan presiden harus beragama Islam karena mayoritas rakyat beragama Islam.

Soekarno mengingatkan semua pihak bahwa kompromi Piagam Jakarta itu dihasilkan dengan susah payah. “Kita harus memberi dan mendapat. Pendek kata, inilah kompromi yang sebaik-baiknya”.

Mengapa akhirnya tujuh kata itu dihapus? Kita semua sudah tahu ceritanya.
Bung Hatta dalam bukunya “Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945” mengungkapkan sore hari setelah proklamasi seorang opsir Jepang utusan Kaigun mengatakan dengan sungguh-sungguh  bahwa wakil-wakil Katolik dan Protestan keberatan dengan tujuh kata itu. Jika ditetapkan juga mereka lebih suka berdiri di luar Republik Indonesia.

Hatta dengan jujur mengakui perkataan opsir itu berpengaruh pada dirinya. “Tergambar di muka saya perjuangan saya lebih 25 tahun dengan melalui bui dan pembuangan untuk mencapai Indonesia merdeka yang tidak terbagi-bagi”.

Esoknya sebelum rapat PPKI, Hatta mengajak rapat Ki Bagus, Wahid Hasyim, Kasman Singadimeja dan Teuku Hasan dari Sumatera membicarakan masalah itu supaya tidak pacah sebagai bangsa. “Kami mufakat menghilangkan kalimat yang memberatkan kaum kristen itu dan mengganti dengan Ketuhanan yang Maha Esa”.

Kalimat “Yang Maha Esa” itu usulan Ki Bagus. Dia tidak mau hanya “Ketuhanan” saja.
Prawoto Mangkusasmito pernah bertanya kepada Ki Bagus maksud Yang Maha Esa. Ki Bagus menjawab: “Itu Tauhid”. Menurut Mohamad Roem yang dimaksud tauhid oleh Ki Bagus adalah surat al-Ikhlas.

Endang Saifuddin Anshari dalam bukunya: “Piagam Jakarta Sebuah Konsensus Nasional” membuat analisis bahwa Kasman dan Teuku Hasan berhasil dengan cepat di lobbi Hatta karena keduanya tidak terlibat langsung penyusunan Pembukaan UUD itu.
Wahid Hasyim diragukan Endang hadir karena pada Ramadlan biasanya pulang ke Jombang. Tinggal Ki Bagus yang tidak mudah. Diperlukan bantuan keterlibatan Kasman untuk membujuk karena Belanda sudah siap  menyerbu. Sudah thongol-thongol dan thingil-thingil.

Ki Bagus dengan jiwa besar sebagai negarawan dan rindunya pada keutuhan RI dia bersedia mengubah tujuh kata dengan “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Tentang perubahan ini menarik yang dikatakan Moh Roem.  “Semua itu sudah menjadi sejarah. Hal itu tdk dapat dikembalikan tetapi semangatnya hidup di hati sanubari rakyat.

Jika sesuatu sudah menjadi sejarah, kita setuju atau tidak, tidak pada tempatnya kita menyayangkan sesuatu, laksana menyayangkan  susu yang sudah tumpah”. [*]

Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si. Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim dan Penulis Buku-buku Best Seller.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here