Jumat Cerah #15: KH Fachruddin; Partai Politik Hanya Rumah Singga (2-Habis)

0
159
KH Fachruddin. Ilustrasi diambil dari Tirto.

KLIKMU.CO

Oleh Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si.*)

Bagian I: KH Fachruddin (bukan AR Fachruddin) punya bakat dalam banyak hal. Meskipun sekolahnya hanya di bawah “pohon sawo” (tidak berpendidikan formal), tetapi dia pemimpin alamiah, mutivator alamiah, penulis produktif alamiah, agitator alamiah, semuanya serba alamiah. Dia seorang autodidack.

****

Bakatnya yang kuat dalam banyak hal menyebabkan Fachruddin menonjol dalam orgnasiasi yang dimasukinya.
Selain sebagai sekretaris PB Muhammadiyah, Fachruddin juga aktif di organisasi pergerakan politik.
Ketika KHA Dahlan menjadi penasehat Sarikat Islam, Fachruddin menjadi bendahara organisasi yang dipimpin HOS Cokroaminoto ini. Meskipun hanya sekolah “di bawah pohon sawo”, dia dikenal sebagai bendahara yang rapi, cermat, dan amanah.

Keterlibatan Fachruddin dalam gerakan politik melalui Sarikat Islam menyebabkan dia kenal banyak tokoh dari SI antara lain KH Agus Salim dan Alimin yang komunis. Kebetulan rumahnya di Yogya dekat dengan rumah Agus Salim sehingga hubungan antara Fachruddin dan Agus Salim layaknya keluarga sendiri.

Suatu hari Sarikat Islam membuat keputusan bahwa pengurus SI tidak boleh rangkap jabatan dengan organisasi lain. Maka orang Muhammadiyah harus memilih salah satu antara SI dan Muhammadiyah.

Hubungan yang sangat dekat antara Agus Salim dengan Fakhruddin membuat Agus Salim yakin Fachruddin akan memilih tetap menjadi bendahra SI dan meningglakan Muhammadiyah. Ternyata perkiraan Agus Salim keliru. Fachruddin memilih meninggalkan SI dan tetap di Muhammadiyah.

Mengapa Fachruddin tetap memilih Muhammadiyah? Ibarat rumah, Muhammadiyah menurut Fachruddin adalah rumah utama milik sendiri, sedangkan orgnisasi lain hanyalah rumah singgah.

Fachruddin tidak alergi pada politik dan ingin berdakwah melalui jalur politik. Tetapi, karena harus memilih maka dia pilih Muhamamdiyah dan meninggalkan SI.

Hubungan Fachruddin dengan Alimin yang komunis juga sangat dekat. Ini sesuatu yang menarik. Keduanya sama-sama tokoh di SI. Bahkan ketika Alimin pindah ke Yogyakarta, dia menumpang di rumah Fachruddin karena Alimin tidak punya tempat tinggal di Yogya. Maka Alimin yang tokoh komunis tinggal satu rumah dengan Fachruddin yang tokoh Muhammadiyah.

Ada dugaan kuat Alimin sengaja numpang di rumah Fachruddin karena ingin “membina” Fachruddin yang tangkas berorganisi. Kelak tenaga Fachruddin akan sangat diperlukan untuk menyukseskan gerakannya bila nanti saatnya telah tiba. Agaknya Alimin punya agenda khusus dalam gerakan politiknya pada hari-hari mendatang.

Sebaliknya, kesediaan Fachruddin menerima Alimin tinggal di rumahnya juga berniat membina Alimin bisa menjadi seorang muslim yang baik. Jadi, diam-diam sama-sama bermaksud membina. Tetapi, sama-sama tidak berhasil. Fachruddin tetap seorang tokoh agama dan penggerak dakwah, sedang Alimin tetap komunis.

Suatu hari Fachruddin yang berusia lebih tua berkata terus terang kepada Alimin. “Wahai Alimin, ada baiknya engkau mulai belajar shalat. Hidup ini tidak kekal. Pasti akan berakhir,” kata Fachruddin. Alimin menjawab: “Ah, nanti-nantilah kalau aku sudah dekat mati aku akan sembahyang.”

Setelah Cokroaminoto melakukan pembersihan orang komunis dari SI, maka Alimin akhirnya dikeluarkan dari SI. Kemudian dia membentuk Partai Komunis.

Fachruddin yang berusia lebih tua wafat lebih dahulu. Meskipun Alimin tidak mau menuruti anjuran Fachruddin belajar shalat, namun Alimin menjelang kematiannya tahun 1962 di Jakarta kabarnya dia berpesan nanti minta agar janazahnya dishalati.

Ternyata orang komunis dalam hati kecilnya tidak bisa mengingkari adanya Tuhan dan adanya hari akhir. Hanya keangkuhan yang menyebabkan hidayah tidak bisa sampai pada jiwanya.[*]

Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si. Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim dan Penulis Buku-buku Best Seller.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here