Jumat Cerah #16: Pengkaderan Gaya KH Fachruddin (3-Habis)

0
207
Ilustrasi diambil dari google.com

KLIKMU.CO

Oleh Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si.*)

KH Fachruddin adalah kader langsung dari KH Ahmad Dahlan. Suatu hari dia pamit kepada KHA Dahlan agar diizinkan untuk sementara tidak aktif dalam Muhamadiyah. Dia ingin memperbaiki nasib. Dia ingin fokus berdagang. Ya, tidak aktif hanya sementara saja.

Dan inilah jawaban Dahlan: “Apa engkau kira kalau meninggalkan Muhamamdiyah dan hanya berdagang saja engkau akan menjadi kaya? Bukankah Allah sang Pemberi rizki?”

Fachruddin malu pada dirinya sendiri. Dia tidak jadi berhenti, malah semakin giat mengurus Muhamamdiyah. Sambil berdagang, sambil bertablig, sambil membina kader, sambil menulis naskah untuk majalah, sambil aktif mengurus Muhammadiyah, ternyata rizkinya tidak menyusut.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa menyiapkan kader. Itulah yang dilakukan Fachruddin terutama kepada anak muda yang ia yakin punya potensi menjadi pemimpin. Dan saat itu dia perhatian kepada pemuda Yunus Anis, seorang mubaligh muda.

Fachruddin adalah pemimpin persyarikaan yang memegang teguh aturan organisasi. Bukan hanya taat aturan tetapi bahkan dia hafal luar kepala  Anggaran Dasar dan ketentuan lain organisasi. Dia ingin kadernya juga punya ketaatan demikian.

Suatu hari Yunus Anis datang ke rumah Fachruddin. “Apakah engkau sudah menjadi anggota Muhamamdiyah? tanya Fachruddin. Yunus Anis tergagap mendapat pertanyaan mendadak itu.

“Belum,” jawab Yunus Anis. Kini Fachruddin yang terbelalak. “Bagaimana kamu ini. Pernah menjadi guru Muhammadiyah, menjadi pimpinan cabang, malah ketua Majlis Tabligh dan Majlis Pustaka, tapi belum menjadi anggota. Ah, masyaallah .…”

Yunus menjawab: “Tapi dalam hati yang paling dalam saya sudah merasa menjadi anggota Muhamadiyah, sudah berbuat untuk Muhamamdiyah. Yang penting kan kerjanya…”

“Tidak!” potong Fachruddin. “Menjadi anggota Muhammadiyah harus lahir batin. Tidak cukup hanya di batin saja. Harus mengikuti aturan Muhammdiyah lahir batin.”

Beberapa hari kemudian Yunus Anis menemui Fachruddin dan menyatakan sudah menjadi anggota Muhamadiyah. “Sudah punya anggaran dasar? tanya Fachruddin. “Sudah! Malah saya sering melayani kawan-kawan yang membutuhkan,” kata Yunus

“Sudah kau baca seluruhnya dari A sampai Z?” tanya Fachruddin. “Sudah saya baca, tetapi belum tamat karena saya ambil yang perlu-perlu saja dan saya cari pasal-pasal tertentu bila ada masalah atau kesulitan,” kata Yunus.

“Oh, jadi dalam anggaran dasar banyak perkara yang tidak perlu, begitu!?” Sekali lagi Yunus Anis tergagap. Fachruddin lalu mengambil buku anggaran dasar dan meminta Yunus Anis membacanya sampai tamat. Fachruddin memberi penjelasan seperlunya pada bagian-begian tertentu.

Beberapa hari kemudian Yunus hafal anggaran dasar di luar kepala dan mampu memberikan penjelasan dengan baik.

Di belakang hari Yunus menjadi sekretaris Pimpinan Pusat beberapa priode. Bahkan akhirnya menjadi Ketua Pimpinan Pusat. Semua ini menggambarkan tokoh-tokoh dahulu dalam mengelola dan memajukan perysarikatan. Tergambar betul sikap disiplinnya, istiqamahnya dan ketulusannya.

Sikap Fachruddin kepada Yunus Anis bukan bermaksud mempersulit menjadi penggerak organisasi, tetapi ingin calon pimpinan Muhamamdiyah itu memulai dari dirinya sendiri patuh lahir batin pada aturan organisasi.

Fachruddin tahu Yunus Anis adalah anak muda bibit unggul. Karena itu Fachruddin menolak ketika Yunus mengatakan: “Dalam hati saya merasa sudah menjadi anggota. Saya sudah berbuat untuk Muhammadiyah, dan yang penting kan kerjanya.”

Ini semua bagi Fachruddin tidak cukup bagi kader calon pimpinan persyarikatan. Hsrus lahir batin.[*]

=========

Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si. Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim dan Penulis Buku-buku Best Seller.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here