Jumat Cerah #3: Djuanda Lebih Cinta Muhammadiyah (1)

0
601
Ilustrasi diambil dari buku biografi.blogspot

KLIKMU.CO

Oleh Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si.*)

Bangsa Indonesia beruntung ada “Deklarasi Djuanda.” Kalau tidak ada, alangkah sulit menjaga keamanan dan keutuhan negeri ini. Sebelum ada deklarasi Djuanda, yang disepekati internasional batas wilayah laut adalah tiga mil dari pantai. Lebih dari itu berarti laut bebas.

Maka, antara pulau Jawa dan Kalimantan di tengahnya ada laut bebas karena jarak dari masing-masing pulau lebih dari tiga mil. Demikian juga antara pulau-pulau lain. Maka, andaikan tidak ada Deklarasi Djuanda akan banyak kapal asing bebas menangkap ikan di laut kita dengan alasan lautan bebas. Penyelundupan, bisnis narkoba, dan pelanggaran lain akan merajalela.

Pada 13 Desember 1957 lahir Deklarasi Djuanda. Ditegaskan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan, bukan negara daratan. Maka, semua laut dan selat di antara pulau-pulau itu adalah masuk wilayah Indonesia.

Dengan demikian, antara pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan pulau-pulau lain beserta lautnya bagian dari kesatuan wilayah Indonesia.

Deklarasi Djuanda juga menyatakan bahwa batas wilayah laut 12 mil dari pantai, bukan 3 mil. Batas Indonesia adalah 12 mil dari garis pantai pulau terluar. Dengan Deklarasi ini luas wilayah Indonesia bertambah menjadi 2,5 kali lipat.

Tentu tidak sedikit negara yang menolak terutama yang kapalnya terbiasa bebas berlayar di perairan Indonesia. Namun, akhirnya tahun 1982 atau 25 tahun setelah Deklarasi 1957, PBB ikut menetapkan 12 mil sebagai konvensi hukum laut.

Djuanda yang berpembawaan tenang lahir di Tasikmalaya Jawa Barat 10 Juli 1911. Ayahnya, R. Kartawidjaya, soerang mantri guru dan aktivis Muhammadiyah di Tasikmalaya. Setelah tamat dari Sekolah Teknik Tinggi di Bandung, Ir.H. Djuanda ditawari menjadi asisten Profesor Schomaker di Bandung dengan gaji lebih dari cukup. Tetapi, dia menolak.

Djuanda malah memilih pergi ke Jakarta menjadi guru Mulo Muhammadiyah meskipun gajinya jauh lebih kecil. Cintanya kepada Muhammadiyah membuat dia memilih hidup lebih sederhana demi Muhammadiyah.

“Saya mengenal Muhammadiyah dari ayah. Penderitaan dan pahit getir dalam Muhammadiyah itu biasa karena kita mencari kepuasan hati dan ridha ilahi,” kata Djuanda. Empat tahun mengajar di Mulo, Djuanda lalu menjadi direktur sekolah AMS Muhammadiyah di jalan Keramat Raya Jakarta mulai tahun 1936 sampai sekolah itu ditutup akibat Jepang datang.

Sebelum kemerdekaan, Djuanda tidak aktif di politik. Tetapi, sejak proklamasi dia aktif di pemerintahan dan terus menjadi menteri sampai akhir hayat tahun 1963. Bahkan, pernah menjadi perdana menteri. Dia lama menjadi menteri perhubungan mulai tahun 1946 pada masa Kabinet Syahrir, Kabinet Amir Syarifuddin, Kabinet Natsir, Kabinet Hatta, Kabinet Sukiman, sampai kabinet Wilopo.

(Besambung jumat depan)
========

Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si. Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim.

*)Penulis adalah Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here