Jumat Cerah #4: Djuanda, ke Atas Tanpa Merepotkan Muhammadiyah (2, habis)

0
393
Foto Bandar Udara Juanda Surabaya. Diambil dari uk.wikipedia.org

KLIKMU.CO

Oleh Nur Choilis Huda*)

Isi bagian 1: Djuanda menolak menjadi asisten Prof. Schomaker meskipun dengan gaji yang cukup. Beliau malah pergi ke Jakarta menjadi guru Mulo Muhammadiyah meskipun bergaji rendah dan hidup sederhana.

“Saya mengenal Muhammadiyah dari ayah. Penderitaan dan pahit getir dalam Muhammadiyah itu biasa karena kita mencari kepuasan hati dan ridha Ilahi,” kata Djuanda. Empat tahun mengajar di Mulo, Djuanda lalu menjadi direktur sekolah AMS Muhammadiyah di jalan Keramat Raya Jakarta mulai tahun 1936 sampai sekolah itu ditutup akibat Jepang datang.

Sebelum kemerdekaan, Djuanda tidak aktif di politik. Tetapi, sejak proklamasi dia aktif di pemerintahan dan terus menjadi menteri sampai akhir hayat tahun 1963 bahkan pernah menjadi perdana menteri. Dia lama menjadi menteri perhubungan, mulai tahun 1946 pada masa Kabinet Syahrir, Kabinet Amir Syarifuddin, Kabinet Natsir, Kabinet Hatta, Kabinet Sukiman, sampai Kabinet Wilopo.

****

Bagi masyarakat Jawa Timur, Djuanda punya arti tersendiri. Dia yang mengusahakan dibangun lapangan terbang di Surabaya sampai terwujud. Kemudian, namanya diabadikan menjadi nama lapangan terbang itu: lapangan terbang Juanda di Surabaya.

Djuanda adalah orang yang terus menerus berusaha menyatukan Soekarno-Hatta agar Dwi Tunggal itu tak pecah walaupun usaha itu akhirnya gagal. Sejak Hatta mengundurkan diri, maka tidak ada wakil presiden. Jika Presiden ke luar negeri harus ditunjuk pejabat presiden. Dan Bung Karno hanya “percaya” kepada Djuanda.

Maka, berkali-kali Djuanda menjadi pejabat presiden. Misalnya, April 1960, September 1960, April 1961, Mei 1962, Oktober 1962, Mei-Juni 1963. Agaknya selain cakap, Djuanda dinilai jujur, tulus, dan amanah. Tidak menikam dari belakang. Kekuasaan aman di tangan Djuanda.

Meskipun lama menjadi pejabat tinggi, Djuanda tidak lupa Muhamadiyah. Memang tidak sempat lagi aktif mengurus langsung Muhamadiyah, tetapi hatinya tetap dekat. Sampai akhir hayatnya, bantuan moril dan finansiil besar sekali kepada Muhammadiyah.

Sampai menjelang kematiannya (karena serangan jantung), Djuanda masih ikut berpikir pendirian sekolah di ranting Menteng Jakarta. Dia membantu pikiran sekaligus uang. Sambil berkelakar dia mengatakan, dia membantu karena dirinya anggota Muhammadiyah dan ingin tetap diakui sebagai anggota Muhammadiyah.

Itulah Djuanda. Naik ke atas tanpa merepotkan Muhammadiyah dan tak pernah lupa membantu karena tetap merasa sebagai kader Muhammadiyah.

Sementara, kini sering ada orang mengaku kader Muhamadiyah, lalu memanfaatkan Muhammmadiyah, memperalatnya, minta rekomendasi ini itu, bahkan marah kalau belum diberi. Setelah jabatan di tangan, dia tak peduli, bahkan menghindar dari Muhamamdiyah karena diangap berdekatan dengan Muhammadiyah itu membebani. Nanti kalau butuh lagi baru mendekat lagi. [*]

***

Topik Jumat depan: “Mas Mansur: Muhamamdiyah Istri Utama”
========

*)Penulis adalah Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim.

Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si. Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here