Jumat Cerah #5: Mas Mansur, Muhammadiyah Istri Utama (1)

0
1639
Ilustrasi diambil dari Tugas Biografi Sm1le.

KLIKMU.CO

Oleh Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si.*)

Mas Mansur memang tokoh besar yang dilahirkan negeri ini. Setiap orang besar selalu bisa menjadi sumber inspirasi. Bagi Muhammadiyah, banyak hal menarik dan patut diteladani dari tokoh kelahiran Surabaya ini.

Sebenarnya Mansur tidak ada niatan menjadi Ketua PB Muhammadiyah. Namun, ketika kongres ingin Muhammadiyah dipimpin tenaga muda yang segar dan mumpuni, semua mata tertuju kepada Mansur. Berkali-kali Mansur menolak karena merasa belum layak dan masih banyak senior yang lebih pantas.

Namun, karena terus didesak dan dilobi berkali-kali termasuk oleh AR Sutan Mansur dari Sumatra Barat (ada dua Mansur di Muhammadiyah), orang yang sangat dihormati Mas Mansur, akhirnya Mansur menerima amanat itu.

Setelah Mansur menjadi Ketua PB, maka harus pindah dari Surabaya ke Yogya. Pindah ini sesuatu yang berat. Muhamamdiyah tidak menyediakan perumahan apalagi pekerjaan. Padahal Mansur sudah berkeluarga. Akhirnya, Mansur pindah ke Yogya dan tinggal di asrama Muallimin sambil mengajar di situ karena memang ilmunya sangat dibutuhkan.

Suatu hari, Belanda berniat mendirikan Mahkamah Tinggi Islam, sebuah lembaga yang akan menyelesaikan permasalahan umat Islam terutama soal aqidah, syariah, dan aturannya. Maka, diperlukan orang yang paham benar tentang hukum Islam, punya pandangan luas sekaligus juga berwibawa.

Dengan pertimbangan matang, pilihan jatuh ke Mas Mansur. Disediakan gaji tinggi 600 golden. Itu sesuai dengan jabatan tinggi yang akan diembannya. Tetapi, Mansur dengan rendah hati menolak jabatan itu. Dia lebih memilih Muhamamdiyah meskipun tidak digaji dan memilih mengajar di Muallimin meskipun dengan gaji rendah. Alasannya, dia pilih Muhammadiyah karena lebih bermanfaat untuk umat. Orang yang tahu hal itu makin kagum kapada Mansur. Agaknya gaji tinggi sama sekali tidak menjadi pertimbangannya.

Kecintaan Mansur pada Muhammdiyah teruji lagi ketika pembentukan Majelis Rakyat Indonsia (MRI) tahun 1941. Lembaga ini merupakan penyatuan dari organisasi nasionalis dan keagamaan. Tujuannya memperkuat Indonesia lewat parlemen menuju Indonesi merdeka.

Hasilnya 80% memilih Mas Mansur. Golongan nasionalis Parindra mengatakan bahwa organisasi ini harus dipimpin orang yang sadar kepentingan bangsa, hatinya suci, lurus, dan bisa dipercaya. Mas Mansur-lah orang yang paling tepat.

Lagi-lagi, Mansur menolak. Bagi Mansur Majelis Rakyat Indonesia memang penting, tetapi Muhammadiyah adalah Mbok Tuwo (istri pertama). “Saya masih sangat mencintai Mbok Tuwo (Muhammadiyah) seperti ketika masih gadis dulu,” katanya membuat perumpamaan. Meskipun mendapat dukungan besar, Mansur menolak memimpin MRI karena tidak mau menduakan Muhammadiyah.

Kalau mau Mansur bisa saja mencari alasan dan dalih yang rasional untuk pembenaran dirinya rangkap jabatan menjadi Ketua PB Muhamamdiyah sekaligus merangkap Ketua Mahkamah Tinnggi Islam bergaji tinggi atau Ketua MRI.

Tetapi, Mansur tidak mau. Dia pilih fakus mengurus Muhammadiyah. Cintanya kepada Mbok Tuwo tidak ternilai dan tidak tergantikan dengan apapun.

Jumat depan, Topik: Dr. Soetomo Tersedu-sedu di Depan Mas Mansur.
=========

*) Penulis adalah Wakil Ketua PWM Jawa Timur.

Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si. Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here