Jumat Cerah #7: Mas Mansur Minta Nyai Dahlan Doakan 4 Persoalan (3 Habis)

0
390
K.H. Mas Mansur (depan, kedua dari kiri). Gambar diambil dari Muhammadiyah Studies.

KLIKMU.CO

Oleh Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si.*)

Mas Mansur bukan seorang orator seperti Bung Karno atau HOS Tjokroaminoto. Kalau pidato tenang, tidak berapi-api. Suaranya kalem. Tetapi, orang selalu menunggu dan mendengarkan penuh perhatian karena pidatonya sangat berisi. HAMKA mengakui setiap kali Mas Mansur bicara secara otomatis tangan HAMKA mencari kertas dan pena. “Pasti banyak mutiara penting yang perlu dicatat. Sayang kalau dilewatkan begitu saja,” kata HAMKA.

Subagijo IN wartawan senior katika menulis buku “K.H. Mas Mansur, Pembaharu Islam di Indonesia” yang menjadi rujukan tulisan ini, mengawali pengantar bukunya dengan bercerita peristiwa paling mengesankan baginya.

“Tidak mungkin saya dapat melupakan hari itu,” tulis Subagijo. Dia pernah Shalat Jumat di Madrasah Muallimin Muhamamdiyah Yogyakarta tahun 1940-an. Imam dan khatibnya Ketua PB Muhammadiyah K.H. Mas Mansur. Tempat shalat sudah penuh. Dia dan banyak orang lain harus berada di luar di bawah terik sinar matahari yang menyengat kulit.

“Pada waktu Mas Mansur membaca surat al-Fatihah, tanpa saya sadari air mata saya meleleh di pipi. Saya terus menangis. Suaranya mengalun, sungguh menyentuh perasaan, menusuk jantung rongga. Saya menangis terisak-isak. Padahal saat itu matahari sedang panas memancar…,” katanya.

Berhari-hari peristiwa itu terbawa perasaan Subagijo. “Peristiwanya sungguh mengesankan sekali. Mengapa bacaan bisa demikian menyentuh hati padahal di tengah terik matahari?”

Suatu hari ketika pulang kampung diceritakan kepada ayahnya. Menurut ayahnya, itu terjadi karena pembacanya berhati bersih. Kalam Ilahi jika dibaca orang yang hatinya bersih bisa memantulkan kekuatan dan kedamaian. Apalagi jika yag mendengar khusyuk pula.

Menurut Subagijo kebersihan hati Mas Mansur dirasakan banyak orang. Entah itu orang terpelajar, orang pergerakan, pajabat maupun orang awam. Mas Mansur seorang pemimpin tidak ambisius, orang yang polos, alim, organisator dari pesantren yang mampu bergerak di kalangan terpelajar, tulis Subagijo.

Mas Mansur menjadi ketua PB Muhamadiyah termuda (41 tahun). Lahir 25 Juni 1896 di Surabaya dan menjadi Ketua PB dalam Konggres ke-26 di Yogyakarta tahun 1937.

Karena masih muda, maka ada orang meragukan kemampuannya. Namun, ketika periode pertama selesai, pada kongres tahun 1941, Mas Mansur menang mutlak jauh melampaui calon lain.

Setelah kongres usai, Mansur dengan mengepit tas berjalan seorang diri menuju kampung Kauman menemui Ibu Walidah (Nyai Ahmad Dahlan).

“Ibu, sekarang saya terpilih lagi memikul beban yang sangat berat ini, buat menjalankan bahtera peninggalan almarhum,” kata Mansur.

“Saya ucapkan selamat,” ujar Nyai yang teguh hati ini.

“Saya mohon, catatlah empat perkara. Saya harap ibu doakan kepada Allah moga-moga dilimpahkan kepada diriku dalam memimpin persyarikatan ini,” kata Mansur penuh takzim.

Nyai Walidah lalu mengambil pensil dan notes kemudian dengan seksama dan penuh perhatian mendengarkan permintaan Mansur.

“Doakan saya dianugerahi Allah empat perkara. Yaitu dianugerahi kesabaran, dianugrahi kemajuan, dianugerahi ketaqwaan, dan dianugerahi tawakkal,” kata Mansur. Entah mengapa empat hal itu yang diminta didoakan.

Setelah dirasa cukup, dia minta undur diri.

Meskipun menang mutlak dalam kongres, namun Mas Mansur tetap rendah hati dan tidak pongah. Dia tetap mohon dibantu dengan doa. Mansur meninggal dalam status dipenjara Sekutu.

Panglima Sudirman membuat seruan kepada semua tentara dengan menyatakan duka cita mendalam. Dia merasa sangat berhutang budi kepada almarhum atas bimbingan dan teladan nyata. Beliau tak kenal menyerah. Tentara akan bayar hutang itu dengan terus berjuang untuk kemerdekaan penuh, seru Sudirman

Membaca kembali perjalanan para tokoh Muhamamdiyah masa lalu, diam-diam kita merasa malu sendiri. Kita sering sudah merasa berjuang padahal yang kita lakukan sebenarnya untuk diri sendiri. Membangun nama baik, ingin pujian, menambah penghasilan, dan sebagainya.

Kita merasa membesarkan Muhamamdiyah. Padahal Muhammadiyah yang membesarkan kita. Kita menumpang kebesaran Muhammadiyah. [*]

(Selama Ramadhan “Jumat Cerah” tidak hadir. Silakan fokus membaca bacaan yang sangat mulia dan membaca kisah sangat agung yaitu Alquran. Selamat menikmati Ramadhan)

=======

*) Penulis adalah Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur.

Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si. Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here