Jumat Cerah #8: K.H. Ahmad Badawi dan Bung Karno (Bagian 1)

0
561
Ilustrasi diambil dari srengenge online

KLIKMU.CO

Oleh Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si.*)

K.H. Ahmad Badawi adalah seorang yang alim dan sederhana. Beliau menjadi Ketua Umum PP Muhamamdiyah dua periode (saat itu 3 tahunan) 1962-1968. Suhu politik saat itu sedang memanas. Partai Komunis sedang di atas angin.

Saya beruntung mendapat kiriman buku biografi Pak Badawi dari Pak Djaldan (alm.), putra beliau, yang ditulis Pak Suratmin. Dari buku itu tergambar betapa berat tugas yang dipikul Pak Badawi untuk menyelamatkan Muhammadiyah pada masa-masa yang amat sulit ini.

Muhammadiyah digoyang Partai Komunis dan pendukungnya dari segala arah. Salah satu sebabnya, Muhammadiyah pernah menjadi anggota istimewa Masyumi. Setelah partai Islam ini bubar, banyak orang Masyumi yang kembali ke Muhammadiyah. Maka, PKI terus menerus menggempur Muhammadiyah yang dianggap telah menjadi sarang dan rumah berlindung orang-orang Masyumi.

Saat itu, Bung Karno adalah segalanya. Ucapannya menjadi hukum. Pidatonnya menjadi GBHN. Keputusannya tidak bisa dibantah. Sedangkan, PKI berhasil mendekat, bahkan menempel kepada Bung Karno. Maka, tidak ada jalan lain, Muhammadiyah harus juga mendekati Bung Karno agar bisa mengimbangi PKI dan agar Muhammadiyah tetap bisa bertahan.

Pak Badawi yang diserahi tugas mendekati Bung Karno dengan tugas tambahan yaitu mencegah pembubaran HMI dan PII yang terus menerus disuarakan PKI. Setahun menjadi Ketua Umum PP Muhamamdiyah, Pak Badawi sudah berhasil dekat dengan Bung Karno, bahkan beliau diminta menjadi penasihat Presiden dalam bidang agama.

Dengan ikhlas, berani, dan jujur beliau memberi saran dan nasihat setiap kali ada kesempatan, termasuk jika prilaku presiden dianggap menyimpang dari agama. Sebagian saran dilaksanakan Bung Karno, sebagian lagi diabaikan. Banyak kejadian yang menggambarkan keberanian beliau.

Suatu hari Pak Badawi menyerahkan surat hasil rapat PP Muhammadiyah tentang politik. Surat itu diterima Bung Karno kemudian diserahkan kepada Dr. Subandrio, orang PKI, pembantu dekat Bung Karno. Spontas Pak Badawi protres dengan nada keras. “Bacalah Bung! Tidak akan memakan waktu lebih dari lima menit.” Akhirnya Bung Karno menuruti. Membaca langsung surat itu sampai selesai.

Pada kali lain, Pak Badawi pernah menulis sendiri sebuah nota. Lalu diajukan kepada Bung Karno untuk diparaf. Sedikit terjadi perdebatan antara keduanya. Namun, akhirnya nota itu diparaf Bung Karno juga. Menteri Chairul Shalih yang menyaksikan peristriwa itu sangat kagum atas keberanian dan keteguhan Pak Badawi. Lalu, malam harinya mengundang rombongan PP Muhammadiyah makan malam di rumahnya. Agaknya itu bentuk penghormatan.

Sementara itu, untuk mencegah pembubaran HMI dan PII, Pak Badawi mengatakan kepada Bung Karno agar pembinaan HMI dan PII diserahkan saja kepada ormas Islam. Beliau menjamin anak-anak itu bukan kontra revolusi seperti yang dituduhkan. Saran itu diterima Bung Karno.

Itulah K.H. Ahmad Badawi. Orang yang alim, lembut, dan sederhana, namun tetap tegas. Memang tegas tidak sama dengan keras, apalagi kasar.[*]

#Jumat depan: “Pak Badawi setelah Bung Karno diturunkan”

Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si. Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim dan Penulis Buku-buku Best Seller.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here