Jumat Cerah #9: Kyai Badawi Setelah Bung Karno Jatuh (2- habis)

0
221
Ilustrasi diambil dari muhammadiyahstudies.blogspot.com

KLIKMU.CO

Oleh Ustadz Drs. H. Nur Cholis Huda, M.Si.*)

Inti bagian 1:
KHA Badawi ditugasi PP Muhammadiyah mendekati Bung Karno untuk menandingi kedekatan PKI. Tugas tambahan lain melobi Bung Karno tidak membubarkan HMI dan PII, tidak menuruti keinginan PKI. Kedua tugas itu berhasil dilaksanakan dengan baik.

****

Muktamar Muhammadiyah ke-35 tahun 1962 di Jakarta menjadi titik balik Muhammdiyah dari dicurigai menjadi disegani. Semula Muktamar direncanakan Juli. Tetapi bulan itu Bung Karno sedang ke luar negeri. Pak Badawi ingin Bung Karno bisa hadir. Maka muktamar diundur bulan Nopember. Akibatnya Pak Badawi mendapat kecaman pedas pada Sidang Tanwir. Namun beliau yakin ini langkah terbaik untuk Muhamamdiyah jangka panjang.

Akhirnya, Bung Karno datang. Dalam pidatonya memegaskan: “Memang benar saudara-saudara, sampai sekarang saya masih anggota Muhammadiyah. Cuma anehnya sejak saya menjadi Presiden belum pernah ditagih kontribusi (iuran). Jadi mulai sekarang tagihlah saya! Saya menjadi anggota Muhammadiyah sejak 1938. Sekarang 1962, jadi sudah 24 tahun.”

Pidato Bung Karno itu diperbanyak Roeslan Abdul Gani, orang Muhammadiyah yang menjadi Menteri Penerangan. Mereka yang sinis pada Muhammadiyah menjadi kecut. Cabang dan ranting yang beku bergairah kembali. Pejabat di daerah menjadi ramah. Kecurigaan hilang. Mereka kaget, ternyata presiden orang Muhammadiyah.

Pemimpin memang harus punya kepribadian kuat dan visioner, bisa melihat jauh ke dapen yang belum terlihat oleh anggota biasa. Ini kadang disalahfahami anggota yang cenderung melihat jangka pendek. Itulah yang terjadi dengan Pak Badawi. Disalahkan dan dikecam karena menunda muktamar beberapa bulan .

Berikutnya, Muktamar Muhammadiyah di Bandung merekomendasikan Bung Karno diminta menjadi penasihat. Ketika Pak Badawi menyampailkan konsep itu, Bung Karno menulis ACC tanda setuju. Namun beliau ganti kata Penasehat menjadi “Pengayom Agung.” Ini memang gaya khas Bung Karno.

Ujian Pak Badawi belum selesai. Ketika angin politik berganti dan Bung Karno jatuh, Pak Badawi yang dekat dengan Bung Karno kena imbas. Pak Badawi diminta mencabut gelar-gelar yang diberikan Muhammadiyah kepada Bung Kano. Bahkan difitnah telah mencarikan wanita untuk dinikahi Bung Karno. Tentu beliau terheran-heran dengan fitnah ini.

Ada juga yang menuntut Pak Badawi dan seluruh anggota PP mundur. Pak Badawi tetap sabar menghadapi goncangan yang sangat emosional dan dirasa sangat kekanak-kanakan itu. Beliau memilih konsentrasi menjaga keutuhan Muhammadiyah pada masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru yang rawan dan sulit. Tugas itu behasil dilakukan dengan mulus dan terhormat.

“Waidza khathaba humul jahiluna qalu salama.” Apa bila orang-orang jahil (bodoh) berkomentar, maka hamba dari Yang Maha Pengasih ini bilang “andum selamet saja, tidak meladeni.” (QS Al Furqan: 63). [*]

Ustadz Drs. H. Nurcholis Huda, M.Si. Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim dan Penulis Buku-buku Best Seller.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here