Kader Muda (Jangan) Berpolitik di Kulitnya Saja

0
286
Melek politik: Diskusi terbatas Pemuda Muhammadiyah Cabang Wonokromo bersama H.M Arif An.( Foto: Special)

KLIKMU.CO  “Di tahun politik ini, para pemilih terutama kader persyarikatan setidaknya harus melek dan faham akan dunia politik, tak terkecuali Pemuda Muhammadiyah Surabaya.”

Demikian itu disampaikan H. M. Arif ‘An, S.H. Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya dalam mengawali diskusi yang bertajuk “Pemuda Muhammadiyah dalam Lingkaran Politik” yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Wonokromo Surabaya, Rabu (11/4).

Menurut Bobby Wakil Ketua Bidang Kader PCPM, bahwa diskusi yang berlangsung di Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdam) kota Surabaya itu, merupakan salah satu upaya PCPM Wonokromo dalam menyikapi sekaligus mengkaji peran kader masuk di gelanggang politik.

Dia menuturkan, diskusi yang membahas peran pemuda dalam konstalasi politik berjalan cukup serius. Bahkan, suasana pun berapi-api. Lebih-lebih Sekretaris PDM dalam pemaparannya sangat semangat dan membakar agar pemuda tidak kalah dan tertinggal kereta dalam perpolitikan.

“Pemuda Muhammadiyah di Surabaya saat ini masih tidur, agak susah bangun. Bangun pun kalau ada event-event besar saja, seperti Milad atau ketika iklim kontestasi politik berlangsung, itupun hanya pada tataran penggembira atau sisi kulitnya saja,” ujarnya membakar.

Gayung bersambut, pernyataan Pak Sekjen itu, tidak ditampik dari salah satu peserta diskusi.

“Iya benar, karena akhir-akhir ini, kita (pemuda, red.) hanya berpolitik pada tataran kulitnya saja, sangat sedikit yang benar-benar terjun ke dalam politik,” ujar Bobby.

Bagi Arif An, terjun ke dunia politik tidak sederhana yang dibayangkan. Melainkan, perlu pemahaman, penguatan dan strategi sebelum menyelami politik lebih dalam.

Lebih dari itu, lanjutnya, juga harus diniatkan panggilan dakwah yang suci.

“Ini wajib digelorakan dalam masing-masing individu yang berniat terjun ke politik,” tandas Pak Sekjen begitu sapaan akrabnya.

Menurut Ketua Karang Taruna Kota Surabaya ini, bahwa menolak money politik, seperti menangkal ‘serangan fajar’ dan sejenisnya adalah salah satu upaya untuk menciptakan iklim demokrasi yang baik.

“Awas salam templek loh,” selorohnya yang mengundang gelak tawa peserta kajian. Dengan mengingatkan agar kader mengedepankan politik substansial.

“Siapa pun kader ketika berada dalam politik, jangan sampai melupakan ideologi (Muhammadiyah) yang kita pegang saat ini,” pungkasnya. (Ahmad/Kholiq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here