Kaderisasi Sudah Bagus, Pengembangannya Perlu Tiga Hal

0
233
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya Dr KH Mahsun Jayadi saat memberikan materi dalam Ramadhan Mengaji Serial 1 Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. (Habibie/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Seorang pemimpin akan naik sangat tinggi dan tetap diingat ketika dia membawa orang yang dipimpin naik bersamanya. Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan.

Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya Dr KH Mahsun MAg saat menjadi pemateri dalam Ramadhan Mengaji Serial 1 Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (PPPM) kolaborasi dengan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Surabaya melalui Zoom Meeting, Sabtu (17/4/2021).

Kiai Mahsun, sapaannya, mengatakan, mari diperhatikan firman Allah dalam surah Al Kahfi ayat 13 bahwa ‘Nahnu naqushshu ‘alaika nabaahum bilhaq, innahum fityatun aamanuu birabbihim wazidnaahum hudaa’. Artinya, kami kisahkan kepadamu Muhammad cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan kami tambah pula mereka petunjuk.

“Saya melihat pemuda yang memiliki karakter itu pernah ditunjukkan oleh Allah dalam surah Al Kahfi ayat 13 tersebut, yang rela meninggalkan kampung halamannya dan memiliki karakter yang jelas. Pemuda itu adalah kader dan calon pemimpin di masa depan, bahkan sudah memimpin di masanya dan akan menjadi penerus pimpinan di persyarikatan,” katanya.

Menurut mantan wakil rektor UM Surabaya tersebut, kader itu tidak ujuk-ujuk lalu jadi, tetapi melalui proses. “Saya melihat proses kaderisasi sudah terperinci dan bagus. Tinggal bagaimana pengembangannya,” ujarnya. “Maka ada tiga hal yang perlu diketahui,” kata Kiai Mahsun.

Pembentukan Kepribadian

Pertama, takwin al syakhshiyyah, pembentukan kepribadian. Dalam takwin al syakhshiyyah ada al ta’aruf. “Mustahil kita bisa membentuk kepribadian yang baik kalau di antara kita tidak pernah berkenalan. Yang mengenali Achmad Rosyidi sebagai ketua PDPM Kota Surabaya, misalnya, pengenalan saya terhadap ketua Pemuda (Muhammadiyah) ini bukan sekadar pengenalan secara fisik,” ujarnya.

“Al ta’aruf itu ada tiga. Al ta’aruf jasadiyyah, kita mengenali sesama, mengenali lawan bicara kita. Misalnya, namanya siapa, rumahnya di mana, nomor HP-nya berapa, bolehkah silaturahmi ke sana,” katanya.

Kemudian, lanjutnya, harus meningkat yang kedua, at ta’aruf fikriyyah. Memahami lawan bicara kita, sesama kader kita, memahami pemikirannya, memahami karakternya. “Kalau bahasa Surabayanya itu memahami watak, watuk, dan wahingnya,” ujarnya.

Ketiga, lanjutnya, at takaaful. “Itu yang sulit terjadi, sulit terwujud. At takaaful itu saling menjamin. Wah kalau Mas Habibullah sudahlah saya jamin. Kalau Mas Rosyidi sudahlah saya jamin, dia bagus. Mengatakan begitu itu tidak gampang. Kadangkala kita memberi tugas saja, o jangan dia, dia begini dan begitu. Artinya belum tercipta at takaaful. Kita tidak boleh curiga seperti itu, berarti belum tercipta oleh karena itu harus selalu dilakukan upaya-upaya untuk menyatukan,” jelasnya.

“Saya ulangi, at taaruf jasadiyyah dan at taaaruf fikriyyah dan ada pengenalan tingkat tinggi at ta’aruf qalbiyyah dari hati kehati itu yang akan mengarah kepada at tafaahum. Kalau sudah at tafaahum tercipta, yang akan terjadi adalah at takaaful, saling menjamin, integritasnya jelas, bisa dipercaya,” ucap ketua DPD PAN Kota Surabaya itu.

Semangat Roh Jamaah

Kedua, kata dia, takwin ruh al jamaah. Membentuk semangat roh berjamaah. “Ada orang itu suka berkumpul, tapi sifatnya konsumtif. Ada orang berkumpul karena ingin mendapatkan ilmu. Jadi, misalnya roh berjamaah bagi orang yang konsumtif itu mengatakan ‘kok lama ya tidak ada undangan Yasinan ya, karena di yasinan itu ada makanannya’. Jadi, mari kita ciptakan roh berjamaah itu yang konstruktif,” jelasnya.

Ada tiga cara. Langkah yang pertama adalah al ittishal. Al ittishal itu artinya jejaring, persambungan atau networking, bersinergi dengan berbagai pihak. “Kita harus terbuka, jangan eksklusif,” ucapnya.

Yang kedua, al jamaah bi al Islam. Artinya perkumpulan kita, kebersamaan kita, berjamaah kita, itu dengan semangat islam. Jadi, membangun komitmen berjamaah. jangan sampai kita pandai berbicara, beretorika yang keluar dari kendali Islam.

“Semua kegiatan kita itu berbasis Islam. Inilah yang akan mengarah kepada militansi itu,” ujarnya.

Terakhir adalah al jamaah bi al nidham. Roh berjamaah kita itu dalam bingkai organisasi. “Jadi, kadangkala masih ada kata miring ‘wis aku tidak organisasi-organisasian. Yang penting Islam’. Maka sudah menjadi satu keniscayaan harus dibangun dalam organisasi yang kuat dan ini sudah tertuang didalam mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah pokok pikiran keenam. Islam sebagai agama yang benar perlu kita perjuangkan. Dalam memperjuangkan kebenaran itu harus berittiba’ kepada Rasul dan di dalam berittiba’ kepada Rasul dalam memperjuangkan agama itu harus menggunakan ketertiban organisasi. Kita tidak bisa berjuang sendiri-sendiri, harus berjamaah,” tambahnya.

Bentuk Gerakan

Ketiga, takwin al harakah. Membentuk gerakan. “Membentuk gerakan ini dimulai dari tauhid al afkar, kesatuan pemikiran, memiliki pemikiran yang sama, visi, misi yang sama, ini yang susah. Kedua, tauhid  al a’mal. Kita lakukan gerakan amal itu terukur dan terkontrol. Ketiga, tauhid as shaf. Menyatukan shaf, barisan yang kokoh, dan terakhir atau keempat al Islamiyyah al hayah. Islam yang hidup, Islam yang tampak bukan hanya ritual. Ada bekas secara ideologis memancar dalam perilaku,” tandasnya. (Habibie/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here