Kartini Zaman Now Versi Sekolah Inspiratif

0
128
Pemberani: Siswi SD Muhammadiyah 15 membacakan puisi mengenai kartini.(Foto: Humas Limas)

KLIKMU.CO – Kebanyakan masyarakat dalam memperingati Hari Kartini

lebih menonjolkan sisi penampilan pakaian kebaya ala Kartini. Berbeda halnya dengan Sekolah Inspiratif SD Muhammadiyah 5 Surabaya (SD Limas) punya cara tersediri.

Adalah adu kreativitas. Seperti, Story Telling bercerita dalam Bahasa Inggris hingga unjuk bakat seni dengan melukis sosok Kartini.

Menurut Muhammad Natsir, M.Pd.I Kepala Sekolah Inspiratif Surabaya bahwa yang perlu ditiru dari sosok Kartini adalah sisi semangat dan pemikirannya dalam memajukan kaum wanita Indonesia. Bukan simbolitas kebayanya.

Sehingga, lanjut Natsir dalam memperingati Hari Kartini, pihak sekolah lebih mengedepankan kreativitas dan bakat siswa.

“Jadi filosofinya hari ini adalah kita bukan bajunya yang kita tiru, tapi semangat dan pemikirannya,” kata Natshir kepada KLIKMU.CO.,Sabtu, (20/4).

Dia menjelaskan, semua perempuan bisa menjadi Kartini zaman now manakala perempuan cerdas, mandiri dan berdikasi tinggi.

“Karena itu peserta didik harus bisa menulis, bisa berbahasa asing, makanya sekolah kita adakan Lomba Berbahasa Inggris yang diikuti siswa mulai dari Kelas I,” tukas Natsir dalam arahannya di depan peserta didiknya.

Sementara itu, Ainun Nusabilla, Guru Bahasa Inggris SD Limas mengatakan, melalui Lomba Bahasa Inggris dengan Tema Kartini Masa Kini, sekolah ingin mengajak siswa siswi selain mempunyai basic agama kuat, juga memiliki pengetahuan global dengan penguasaan bahasa asing tersebut.

“Kita ada Story Telling, Reading Form, dan ada Spelling Bee serta Switch Contest. Kegiatan ini ditujukan memperkuat karakter anak didik. Mereka berani bicara dalam Bahasa Inggris, berani tampil di depan umum. “kata Dilla, panggilan akrabnya, sekaligus ketua panitia sambut hari Kartini di Limas.
Tidak kalah menarik, siswanya juga diajak menulis gagasan dan ide-ide-ide cemerlangnya Dalam Surat-surat ‘Kartini’.

“Di usianya ke 20 tahun, Kartini sudah berani menulis surat kepada pemerintahan Hindia Belanda. Surat pertamanya pada saat itu berisi pengajuan beasiswa untuk bisa bersekolah di Belanda,” tukas Billa dengan menceritakan akhirnya pengajuannya itu disetujui, setelah itu Kartini juga mengajukan surat agar mendapatkan beasiswa lainnya.

Selain surat pengajuan beasiswa, lanjut Dilla Kartini juga menulis surat protes kepada pemerintahan Hindia Belanda. Pada saat itu, dimana belum ada Sumpah Pemuda, Kartini mengusulkan agar Bahasa Melayu dan Bahasa Belanda menjadi bahasa media cetak dan dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan.

“Pada 2 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan Kepres RI No. 198 Tahun 1964 yang menetapkan bahwa Raden Ajeng Kartini adalah Pahlawan Kemerdekaan Nasional,” pungkasnya. (Ali Shodiqin/Kholiq).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here