Kemahiran Berbahasa Al-Qur’an Kebutuhan Anak Indonesia, Menghafalnya Kebutuhan Anak Arab

0
204
Bekasipedia

Oleh: H.M. Sun’an Miskan Lc *

KLIKMU.CO

Topik di atas dimaksudkan untuk memberi masukan kepada kelompok tertentu yang akhir-akhir ini getol menyerukan agar anak Indonesia difokuskan untuk mahir menghafal Al-Qur’an. Diperbanyak mendirikan Lembaga Tahfidz Al-Qur’an yang sudah barang tentu kegiatan ini akan menyita banyak waktu anak Indonesia yang seharusnya juga butuh waktu untuk kemahiran-kemahiran lainnya di tengah abad persaingan global tentang mutu SDM (sumber daya manusia).

Pendapat dan seruan agar anak Indonesia difokuskan untuk mahir menghafal Al-Qur’an ini baik dan tidak salah. Namun, saya yang sejak umur 21 tahun sudah jadi guru agama dan bahsa Arab, pernah empat tahun hidup di dunia Arab, baik di negara yang sudah berbentuk republik dengan gaya bahasa Arab bebasnya maupun yang masih kerajaan, mengenal berbagai bahasa ‘amiyah mereka.

Juga sesekali berkunjung ke sana, pascamukim empat tahun di sana. Maka topik bahasan saya di atas ada benarnya. Karena kalau anak Indonesia usia SD kelas 4 sudah mahir berbahasa Arab secara aktif, yaitu mahir mendengar pidato orang Arab, terutama bahasa fushahnya, bahasa Al-Qur’an, bahasa resmi negara Arab dan PBB, mahir mengucapkan, berbicara berdialog dengan bangsa Arab dan berdialog dalam forum pertemuan dunia Islam, mahir membaca, mengarang, dan pandai mengurai tata bahasanya, pasti anak tersebut akan gampang mentahsin bacaan Al-Qur’an, baik makhroj maupun tajwidnya.Dan yang pasti akan mudah menghafal Al-Qur’an dan tidak mudah hilang karena dia tahu makna dan isi Al-Qur’an.

Jadi, jelas kemahiran berbahasa Al-Qur’an, bahasa Arab, adalah kebutuhan anak Indonesia. Adapun kebutuhan anak Arab yang sudah cas cis cus berbahasa Arab’, karena itu bahasa ibunya, bahasa Al-Qur‘an , bahasa persatuan dunia Arab dan dunia Islam. Apalagi didukung dengan fitrahnya, bawaan jabang bayi, bahwa bangsa Arab itu punya kemampuan daya ingat yang kuat, maka kamahiran menghafal Al-Qur’an adalah kebutuhan anak Arab.

Terutama untuk menjaga kelestarian bahasa Arab dan budaya mereka. Bahasa Arab sebagai bahasa persatuan mereka itu dapat dipelihara dengan kemahiran menghafalkan Al-Qur’an dan itu dimudahkan oleh Allah SWT karena Al-Qur’an dan bahasanya itu sebagai mukjizat. Firman Allah SWT Al-Qur’an  Surat Hijr 9: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Semula saya kurang yakin dengan pendapat saya tersebut di atas. Tetapi setelah melihat realitas di depan mata saya sendiri, yaitu sewaktu pertama kali masuk Madinat Bu’uuts Islamiyah Abbasiyah- Cairo, asrama mahasiswa asing Al Azhar dari seluruh dunia, saya menyaksikan anak Mesir kelas 2 SD diuji oleh Menteri Wakaf dan Urusan Agama Mesir tentang hafalan Al-Qur’annya. Anak tersebut sangat bagus hafalannya dan mendapat nilai summa cum laude, Fauqal Mumtaz, A pangkat 3.

Tentu dengan hadiah istimewa dan yang istimewa lagi ialah tersebar beritanya ke seluruh negeri untuk menyemangati menghafal Al-Qur’an. Berbeda dengan di kota kawedanan di daerah saya, yaitu Gersik ke utara, tentu tidak etis di sini kalau saya sebutkan namanya dan juga mungkin ini kasuistis.

Seorang kiai setempat yang lama mukim di Makkah dan hafidz Al-Qur’an kembali pulang ke kota tersebut. Beliau lalu mendirikan pesantren tahfidz Al-Qur’an untuk anak-anak. Berkat humasnya yang bagus dan bantuan santri-santri kiai tersebut sewaktu di Makkah yang sudah kembali ke Indonesia, pesantren tahfid Al-Qur’an untuk anak-anak itu muridnya membeludak sampai ada yang datang dari Jawa Barat. Karena kekurangan para pembimbingnya dan kondisi pesantren yang tak higienis karena kos di rumah rumah keluarga di situ, sementara di daerah kami tahun 70-an itu masih sulit air bersih, daerah malaria karena banyak rawa, menularlah berbagai penyakit kulit.

Anak-anak banyak yang berpenyakitan kulit.Tak lama pesantren itu tidak jalan dan hasilnya tidak positif. Tentu saya sebagai pendidik menyayangkan kejadian itu karena anak-anak itu seharusnya belajar di TK yang berkurikulum unggul agar segera pandai bergaul dan memiliki berbagai keterampilan seusianya. Kemudian segera masuk SD untuk segera pandai ilmu agama, umum, baca Al-Qur’an dan menghafalnya.

Tidak habis waktunya untuk menghafal Al-Qur’an saja. Sekali lagi menghafalkan Al-Qur’an adalah hal yang baik dan mulia. Di masjid-masjid di Kota Kairo dan di Masjidil Haram saya perhatikan selepas jam sekolah formal, anak­anak di sana ke masjid (ke Kuttab) untuk belajar kemahiran menghafal Al-Qur’an. Senior mereka kelas SMA yang hafal Al-Qur’an sebagai pembimbing. Satu pembimbing melayani paling banyak 5 peserta murid tahfidz. Sehingga masing-masing murid tahfidz itu mendapatkan alokasi waktu yang banyak.

Dengan watak dasar mereka yang punya daya ingat tinggi, anak Arab ini banyak yang hafal Al-Qur’an. Itulah sebabnya untuk masuk Al Azhar anak anak Mesir dan Arab lainnya harus hafal 30 juz Al-Qur’an. Adapun untuk mahasiswa Indonesia atau asing lainnya, cukup hafal 3 juz Al-Qur’an terakhir.

Akademisi Timur Tengah yang ditugaskan ke Indonesia adalah mengadakan pembaharuan metode pengajaran bahasa Arab untuk penguasaan Al-Qur’an  dan tahfidnyaBahasa Arab untuk putra-putra Indonesia. Sebelum kemerdekaan RI ada Syekh Ahmad Syurkati utusan Al Azhar Mesir yang ditugaskan di Jamiyah Khoir Tanah Abang Jakarta Pusat. Setelah bertugas di situ, lalu karena ada sesuatu sebab beliau keluar dari situ dan mendirikan Jamiyyah Al Irsyad Al Islamiyah.

Beliau kemudian mendirikan Madrasah Al Irsyad di Jalan Dana Kerja Surabaya dengan metode pengajaran bahasa Arab yang modern. Lahir Syekh Umar Hubeisy, dosen penulis di Fakultas Ilmu Agama dan Dakwah (FIAD ) Muhammadiyah Surabaya, ulama dan ahli bahasa Arab dengan beberapa buku karyanya. Beliau kemudian memimpin Al Irsyad Surabaya. Beliau juga hartawan politisi pernah menjadi anggota konstituante. Rumah beliau dengan perpustakaan lengkapnya terbuka untuk umum.

Dari Madrasah Al Irsyad ini lahir ulama besar tokoh IAIN Yogyakarta Hasbi As Siddiqi dan di kalangan Muhammadiayah lahir Ketum PP Muhammadiayah Yunus Anis. Pasca kemerdekaan ada Dr Ahmad Salaby pakar agama dan bahasa Arab dari Universitas Kairo Mesir Fakultas Darul Ulum yang ditugaskan di IAIN Sunan Kalijogo Yogyakarta. Beliau fasih berbahasa Indonesia dan meninggakan karya tulis banyak di antaranya adalah metode pengajaran Bahasa Arab untuk anak Indonesia lengkap dengan buku pegangannya.

Ada Dr Rauf Salaby utusan Al Azhar Mesir yang ditugaskan di IAIN Palembang. Beliau ketua jurusan saya di Fak Ushuluddin Al Azhar Mesir Jurusan Dakwah dan Tsaqofah Islamiyah. Beliau mengeluhkan sarana pengajaran bahasa Indonesia untuk anak Mesir di Al Azhar. Sangat minim buku pegangannya dan itu sudah pernah kita sampaikan ke Atase Pendidikan Kedutaan RI di Kairo Mesir.

Di tahun 1990-an ada Syekh Mamduh ahli penatar Bahasa Arab dari LIPIA Saudi Arabiyah Jakarta. Beliau pakar pengajaran bahasa Arab dari Universitas Ain Syam Kairo Mesir. Dan sederet ahli pengajaran bahasa Arab modern lainnya yang warga negara Indonesia asli. Contoh yang gamblang tentang perlunya penguasaan bahasa Arab dahulu sebelum tahsin dan Tahfid Al-Qur’an bagi kalangan non-Arab ialah Prof Dr Maurice Bucaille penemu jenazah Firaun yang berhadapan dengan Musa as dengan ilmu kedokterannya bidang ilmu bedah. Mumi Firaun yang kumpulan darahnya, susunan sarafnya seperti orang mati tenggelam itulah yang berhadapan dengan Musa AS.

Beliau kemudian meyakini berita Al-Qur’an  Surat Yunus 92 bahwa Allah menyelamatkan jenazah Firaun yang tenggelam di laut Merah itu agar kelak menjadi pelajaran untuk ummat berikutnya terutama umat Muhammad. Beliau juga meyakini kebenaran fenomena Al-Quran terhadap hukum alam, bahwa ayat-ayat kauniyah di Al-Quran itu tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern. Beliau pun masuk Islam.

Apa yang beliau lakukan selanjutnya sebagai muslim non-Arab yaitu segera menguasai atau tepatnya segera mahir bahasa Al Quran, bahasa Arab dengan segala seginya. Dari contoh-contoh di atas maka sebaiknya anak Indonesia setamat Iqra jilid 6, sudah lancar membaca Al-Qur’an, segeralah dipercepat untuk menguasai kebutuhannya yaitu mahir berbahasa Al-Qur’an , bahasa Arab, istima’atan ( terampil mendengar ), Tahaddutsan (terampil bicara ), Qiroatan (membaca) Ta’biiran (terampil mengarang dan tata bahasa). (*)

* Ketua PWM DKI Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here