Kepengurusan Baru MUI: Anwar Abbas Jabat Wakil Ketua Umum, Dadang Kahmad Duduki Dewan Pertimbangan

0
428
Kepengurusan baru MUI masa bakti 2020-2025. (Tempo.co)

KLIKMU.CO – Kepengurusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tahun 2020–2025 akhirnya terbentuk Jumat (27/11/2020). KH Miftachul Akhyar terpilih sebagai ketua umum MUI untuk menggantikan KH Ma’ruf Amin dalam Munas X MUI.

Prof Dr Ma’ruf Amin kini menjadi ketua Dewan Pertimbangan (Wantim). Wakil presiden itu didampingi sekretaris Wantim yang dijabat Prof Dr Dadang Kahmad, ketua PP Muhammadiyah.

Sementara itu, Dr H Anwar Abbas, tokoh Muhammadiyah lainnya, akan mendampingi KH Miftachul Akhyar sebagai wakil ketua umum (Waketum) bersama KH Marsyudi Syuhud dan H Basri Barmanda.

Adapun posisi sekretaris jenderal diduduki Dr Amirsyah Tambunan dan bendahara umum dijabat. Misbahul Ulum.

Miftachul dalam pidato pengukuhannya menyampaikan bahwa dakwah menjadi tugas utama para ulama. Saat ini umat di dunia tengah menanti kiprah MUI.

Di tengah era teknologi yang makin pesat, lanjut dia, zaman penuh ketidakjelasan. Semua pihak saling menyatakan kebenarannya. Umat disuguhi pergolakan-pergolakan. Di tengah kondisi tersebut, peran ulama sangat diperlukan. ”Kita angkat kembali bagaimana jati diri ulama,” ucapnya dikutip dari Jawa Pos.

Baginya, tidak ada tugas lain yang lebih tinggi daripada berdakwah. ”Berdakwah itu merangkul, bukan memukul. Menyayangi, bukan menyaingi. Mendidik, bukan membidik. Membela, bukan mencela,” jelasnya.

Sementara itu, Dr H Anwar Abbas mengatakan, dirinya akan mengingatkan pemerintah jika mereka salah dan menyimpang dari Pancasila dan konstitusi.

“Bila saya dan teman-teman saya tidak sanggup dan tidak berani melakukannya, pertanyaannya untuk apa saya harus ada di MUI tersebut,” kata Anwar dalam keterangan tertulis, Jumat (27/11/2020) dikutip dari Tempo.co.

Menurut Anwar, MUI adalah shodiqul hukumah alias teman dan atau mitra dari pemerintah. Karena itu, teman yang baik adalah yang mendukung jika benar dan mengingatkan jika salah.

Anwar menyatakan tak ada masalah dengan mendukung pemerintah jika benar lantaran sikap itu nyaris tanpa risiko. Namun, berbeda halnya dengan sikap mengingatkan jika pemerintah salah.

“Tapi bila pemerintah itu salah karena menyimpang dari Pancasila dan konstitusi serta UU dan ketentuan yang ada, beranikah saya dan teman-teman saya di MUI untuk mengingatkan dan meluruskannya?” tegas Anwar.

“Sesuai dengan ketentuan yang ada dalam agama Islam, saya harus bisa melakukan dakwah amar maruf nahi munkar,” ujar Anwar yang juga ketua PP Muhammadiyah. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here