Kerusuhan di Washington Adalah Fasisme Abad 21

0
209
Foto istimewa

Catatan Analisis oleh Neil Faulkner

Diterjemahkan oleh Sunlie Thomas Alexander (penulis, cerpenis)

KLIKMU.CO

Kita tak perlu heran. Beginilah fasisme abad ke-21.

Para wartawan yang melaporkan peristiwa tampak terguncang. Para politisi berpandangan moderat tidak menyadarinya. Tiba-tiba, entah dari mana, ribuan fasis Amerika telah turun ke Washington, menyerbu Gedung Capitol, dan membubarkan sidang Kongres yang bakal mengukuhkan Biden sebagai presiden terpilih.

Sebelumnya Trump bicara dalam rapat umum dan memberikan dorongan kepada kelompok fasis itu. ”Kita tidak akan pernah menyerah,” katanya kepada mereka. ”Kita takkan pernah mengakui. Itu tak bakal terjadi. Anda takkan mau mengakui jika ada pencurian. Karena Anda takkan bisa merebut kembali negara kita dengan kelemahan. Anda harus menunjukkan kekuatan. Anda haruslah kuat.”

Beberapa hari sebelum ini, kami tahu bahwa Trump telah menelepon Sekretaris Negara Bagian Georgia dan mencoba menggertaknya untuk melakukan kecurangan terhadap pemungutan suara selama pemilihan presiden. ”Saya hanya ingin mendapatkan 11.780 suara,” tukasnya kepada anggota Partai Republik, Brad Raffensperger. Hal ini, bagaimanapun, mengagetkan orang Amerika: seorang presiden yang sedang berkuasa mencoba merekayasa kecurangan pemilu.

Sebagian besar kaum kiri juga berada di balik kurva. Kami sudah diberi tahu pada 2016 bahwa Trump hanyalah seorang Republikan sayap kanan biasa yang bakal ‘melunak’ usai terpilih. Kemudian kami diberi tahu pada akhir tahun lalu, tatkala Trump kehilangan kursi kepresidenannya, bahwa kekalahannya dalam proses demokrasi borjuis yang normal telah membuktikan dirinya sebagai seorang politisi seperti pada umumnya.

Namun, kerusuhan fasis di Washington ini menunjukkan hal yang sebaliknya. Tiga kekuatan telah dilebur untuk menciptakan kerusuhan. Pertama, Trump telah menggeser politik Amerika Serikat secara tajam ke kanan dan menciptakan basis massa pemilih untuk otoritarianisme, nasionalisme, militerisme, rasisme, misogini, dan teori konspirasi. Marilah kita mengingat bahwa lebih banyak orang yang memilih Trump pada 2020 ketimbang pada 2016: 74 juta, 47% pemilih.

Kedua, dalam blok massa pemilih reaksioner ini, organisasi fasis garis keras—termasuk milisi fasis yang bersenjata lengkap—telah memperoleh kekuatan dan kepercayaan diri. Ini tampak selama protes Black Lives Matter berlangsung ketika kami menyaksikan kelompok fasis bersenjata di jalan-jalan bersama unit polisi militer.

Hal ini menuntun saya ke poin ketiga: basis dukungan Trump meliputi jumlah polisi yang berat sebelah. Serikat polisi, yang mewakili sekitar setengah juta polisi, mendukung pencalonan kembali presiden Trump tahun lalu. Aparatur negara yang ada—dengan polisi rasis pembunuh sebagai intinya—selalu menjadi instrumen utama represi bertipe-fasis.

Lihat saja apa yang terjadi pada hari Rabu. Trump menghasut kerusuhan dan polisi membiarkannya. Jumlah polisi hanya sedikit, sekadar memberikan perlawanan, dan kemudian membiarkan gerombolan kaum fasis itu merangsek ke dalam gedung.

Bandingkan hal ini dengan pengawasan terhadap protes Black Lives Matter di musim panas. Tak dapat dibayangkan bahwa demonstrasi sayap kiri yang terdiri dari beberapa ribu orang dapat melakukan hal semacam ini.

Intinya adalah takkan cukup kuat. Kami berdebat pada 2016—berdasarkan kemenangan Tory Right dalam referendum Brexit dan terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika Serikat—bahwa kami menyaksikan proses ‘fasisme yang merayap perlahan’: gelombang otoritarianisme, nasionalisme, rasisme, dan kekerasan negara/ jalanan telah melanda sebagian besar dunia.

Fasisme ‘gelombang kedua’ ini adalah konsekuensi langsung dari krisis kapitalis dunia sejak crash 2008 dan krisis legitimasi yang berkembang pesat dari neoliberalisme. Stagnasi ekonomi, kolaps sosial, dan bencana ekologis sudah menguras dukungan populer dari kebanyakan kaum liberal moderat dan demokrasi parlementer yang acuh. Seperti pada tahun 1930-an, ada polarisasi ke Kiri dan ke Kanan.

Kerusuhan fasis di Washington adalah peringatan lain dari sejarah. Kita mengabaikannya dengan risiko kita sendiri. (*)

Neil Faulkner adalah penulis

Sumber: anticapitalistresistance.org, 7 Januari 2021 (https://www.anticapitalistresistance.org/…/the-fascist…)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here