Kesederhanaan Fatimah dan Kegigihan Hidup yang Tak Pernah Usai

0
183
tirto.id

Oleh: R. Fauzi Fuadi

KLIKMU.CO

Perihal mendidik buah hati, Nabi Muhammad Saw selalu menggembleng putrinya Fatimah agar menjadi perempuan tangguh, tidak manja, dan pekerja keras. Hal ini terbukti dalam sejarah hidupnya, melawan dominasi hingga kesederhanaan hidup keluarganya bersama suaminya, Ali bin Abi Thalib.

Kehidupan Ali bin Abi Thalib dan istrinya Fatimah bisa dikatakan cukup sederhana. Ketika mereka berdua telah berkeluarga, perabot rumah tangga mereka tidak bisa dikatakan mewah, di antaranya seperti kulit kambing yang dijadikan alas tidur pada malam hari, sementara siang harinya kulit kambing itu menjelma sebagai tempat makan unta. Bantal mereka hanya terbuat dari kulit yang berisi serpihan daun kurma.

Dalam kesehariannya Fatimah bekerja sendirian di rumah, mulai dari menggiling gandum, menimba air, mengurus anak, dan memasak untuk kebutuhan keluarga. Hingga pada suatu hari, Ali mendapati Fatimah sangat kelelahan, tangannya pecah-pecah akibat terkena alat penumbuk gandum. Dari situ Ali menyarankan kepada Fatimah untuk meminta budak hasil perang kepada ayahnya agar dapat membantunya mengurus pekerjaan rumah tangga. Tanpa pikir panjang, Fatimah pun menyetujuinya.

Fatimah lalu pergi menemui ayahandanya. Setelah menghadap sang ayah. Ia hanya mematung, lantas bilang hanya mengucapkan salam kepadanya, setelah itu pulang.

Fatimah memang dididik oleh Rasulullah agar tidak mudah mengeluh dan tetap gigih walau dalam keadaan sulit sekalipun. Karenanya, ia merasa malu untuk mengutarakan keinginannya, ia pun mengurungkan niatnya.

Sesampainya di rumah, Ali langsung bertanya kepada Fatimah perihal permintaanya kepada Rasulullah. Fatimah pun mengabarkan kepada Ali bahwa ia malu untuk sekadar menyampaikan keinginannya kepada sang ayah. Mendengar hal itu Ali lantas menyarankan untuk menghadap Rasulullah yang kedua kalinya, kali ini Ali ikut serta mendampingi istrinya.

Mereka pun menghadap Rasulullah, dalam perbincangan itu, Ali mencoba untuk menjelaskan perihal maksud dan tujuannya mendatangi Nabi. Namun Rasulullah mengatakan kepada mereka berdua bahwa beliau akan memberi sesuatu yang jauh lebih berharga dari apa yang diinginkannya.

Malam harinya, Rasulullah mendatangi kediaman Ali dan Fatimah. Beliau menepati janji perihal sesuatu yang berharga itu, di sana Rasulullah memberikan Ali dan Fatimah wirid untuk dibaca masing-masing sebanyak 33 kali, yakni tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), dan takbir (Allahuakbar) setiap hendak tidur, dan masing-masing sebanyak 10 kali setiap kali selesai salat.

“Setelah mendengarnya, aku tak pernah meninggalkan amalan itu,” ujar Ali. Dan kelak di kemudian hari, wirid tersebut dikenal dengan wirid Fatimah.

Dari kisah di atas, kegigihan dan optimisme Fatimah dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang serba sulit tak diragukan lagi. Tak berhenti sampai situ, berkat didikan sang ayah, Fatimah menjelma menjadi perempuan yang mandiri dan berani terhadap segala hal yang menyangkut stabilitas agamanya.

Seperti dalam setiap peperangan, ia selalu berada di garda terdepan untuk mengobati para prajurit yang terluka ataupun gugur karena sabetan pedang musuh. Walau di tengah peperangan, sedikitpun ia tak gentar meski nyawanya terancam.

Keberaniannya juga terlihat saat Rasulullah melaksanakan salat di dekat Kakbah, tetiba punggungnya dilempar kotoran hewan oleh Abu Jahal dan kawanannya. Mengetahui hal itu, Fatimah tak tinggal diam, ia lantas bergegas menuju Abu Jahal dan memarahi mereka.

Di lain hari, Fatimah tiba-tiba saja ditampar oleh Abu Jahal saat berpapasan di jalan tanpa sebab yang jelas. Sekali lagi, Fatimah tak tinggal diam, ia melaporkan kekerasan yang dilakukan Abu Jahal kepada pemimpin klan Quraisy, Abu Sufyan. Abu Sufyan lalu mengajak Fatimah untuk menampar Abu Jahal laiknya Abu Jahal menamparnya.

Setelah kejadian itu, Fatimah bercerita kepada Rasulullah, Rasul pun salut kepada Abu Sufyan yang telah memberi keputusan yang adil dan bijaksana. Saat itulah Rasulullah mendoakannya agar kelak Abu Sufyan memeluk Islam. Doa Rasulullah pun menjadi kenyataan.

Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah tersebut telah memberikan ketauladanan kepada kita agar selalu bersyukur, optimis dalam menjalankan roda kehidupan, dan bangkit melawan kemungkaran dan segala tindak kejahatan. Seperti yang pernah dikatakan Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, “Melawanlah, dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.”

Arkian, sebenarnya dengan kedudukan ayahandanya yang luar biasa dengan kekayaan dan main power yang dimiliki saat itu, sesungguhnya bisa saja Fatimah memperoleh apa saja yang dikehendakinya, jika Fatimah hidup pada zaman kiwari, dia dengan mudahnya memborong perabotan rumah tangga yang serba mewah yang dibeli di toko perabotan macam Informa, Ikea, hingga Ace Hardware. Dan membeli segala barang mewah lainnya di Louis Vuitton, Supreme, hingga Gucci.

Namun, Kepribadian Rasulullah Saw yang bersahaja itu benar-benar mewaris dan menyatu ke dalam dirinya. Fatimah tetap dan lebih memilih untuk tampil sederhana, dengan segenap kebesaran dan kemewahan jiwanya.

Dinukil dari riwayat-riwayat shahih dan mutawatir

*) Jurnalis media daring dan pembina khusus jurnalistik di Ponpes Karangasem Paciran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here