Ketika Peringatan Maulid Nabi Menjadi Wajib

0
160
IDN Times

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Orang Jawa dan kesadaran iman. Ada beberapa yang tak paham. Kreativitas kerap dipadankan bidah. Cara pandang sempit karena tak paham pola pikir dan cara pandang.

Apa ada korelasi lomba makan kerupuk, balapan karung, dan Maulid Nabi. Sebagaimana bingungnya saya memahami bumbu rawon yang terdiri dari kumpulan rempah yang tidak enak bila dimakan sendiri-sendiri atau terpisah. Siapa sangka jika
‘keluwek’ yang super sepppett itu menjadi unsur terpenting dalam bumbu rawon. Orang Jawa memang cerdas, termasuk dalam menikmati cara beragama. Memiliki taste dan cita rasa tinggi.

Yang saya pahami dari orang Jawa adalah kesukaannya pada simbol-simbol. Dan itu terbawa saat mereka memahami dan mengamalkan Islam. Lihat saja bagaimana orang Jawa memahami konsep tasyakuran.

Beragam cara bisa dilakukan: bisa kenduri, tumpengan, sepasaran, selapanan, atau pendhak. Ini bukan soal teologis, tapi tak lebih hanya sekedar kreativitas dan seni memahami rasa syukur kepada Allah tabaraka wataala. Dan tak perlu dalil karena masuk pada wilayah ghairu mahdhah, dan orang Indonesia punya cita rasa tinggi untuk mencintai Nabi Muhamad saw.

Akan halnya Maulid Nabi saw menjadi urgen ketika Islam mulai tenggelam oleh manhaj dan pandangan lain. Islam mulai tertutupi, Nabi Muhammad juga mulai tertandingi. Al-Quran sebagai bacaan kalah bersaing dengan status dan meme. Artinya orang lebih suka baca status dan meme ketimbang Al-Quran. Boro-boro dijadikan tuntunan, apalagi pedoman hidup. Al-Quran hanya pajangan di rak-rak sempit berdebu.

Realitas umat Islam memprihatinkan. Banyak masjid mewah, tapi sepi pengunjung. Beberapa sudah shalat, tapi jauh dari perilaku agung Kanjeng Nabi saw, bahkan malah berlawanan. Banyak paradoks antara pengakuan Islam dengan realitas umat Islam. Antara ajaran dan realitas kehidupan.

Islam hanya tinggal nama, Al-Quran hanya tinggal suhuf, Muhamad saw hanya pembawa risalah. Anak-anak kecil bahkan remaja lebih tahu hari ulang tahun pacarnya ketimbang hari kelahiran Nabi Muhammad saw.

Melihat realitas umat Islam yang demikian, saya malah berpandangan peringatan Maulid Nabi saw menjadi wajib. Untuk kembali mengenalkan Muhammad saw sebagai uswah atau teladan. Kita bergerak bersama mengampanyekan keteladanan Nabi saw agar tak kalah dengan politisi, artis, pengacara, atau lainnya.

Lewat pengajian, halakah, majelis, atau media lainnya. Kita hidupkan kembali sunah-sunahnya yang tertutup oleh takhayul, bidah, dan kurafat. Kita berpandang bahwa Nabi saw adalah satu-satunya. Kita gelorakan semangat cinta nabi kepada semua umat dari anak-anak hingga orang tua.

Kita ramaikan surau dan masjid kita. Agar musuh Islam bergetar. Dibacakan Sirah Nabi di surau, di masjid, di mana pun berada. Semoga dengan peringatan Maulid ini girah umat Islam kembali bangkit bergelora. Meredam konflik akibat selisih kecil-kecil. Kemudian kita akhiri dengan kenduri nasi kuning dan opor ayam dimakan bersama.

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here